Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan komitmennya menjaga Jakarta tetap kondusif menjelang Ramadan.
Ia memastikan tidak akan memberi ruang bagi kegiatan yang berpotensi menimbulkan keributan, termasuk Sahur on the Road (SOTR) dan sweeping rumah makan.
Penegasan itu disampaikan Pramono di tengah suasana Ibu Kota yang masih dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek pada 13–17 Februari, dengan puncaknya Selasa (17/2).
Menurutnya, Jakarta harus mampu melewati dua momentum besar, yakni Imlek dan Ramadan dengan suasana aman dan penuh toleransi.
"Hal yang menimbulkan kerawanan, keributan saya nggak izinkan," kata Pramono.
Politikus senior PDI P ini ingin transisi dari perayaan Imlek menuju Ramadan berjalan tertib. Setelah 17 Februari, kata dia, wajah Jakarta akan langsung bertransformasi menyambut bulan suci dan Idulfitri. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun telah menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan suasana tetap terkendali.
Baca Juga: Studi LPEM UI: 10 Tahun Transjakarta Beroperasi Beri Dampak Rp73,8 T Ekonomi Nasional
Pramono menekankan, Ramadan harus menjadi momentum memperkuat persatuan, bukan sebaliknya. Karena itu, aktivitas seperti SOTR maupun sweeping rumah makan yang masih buka di siang hari dinilai berpotensi memicu gesekan sosial dan tidak akan diizinkan.
Selain fokus pada pengamanan, Pemprov DKI juga mengusulkan penyelenggaraan haul bagi tokoh Betawi dan ulama Jakarta sebagai bagian dari rangkaian kegiatan religius. Usulan tersebut telah ia sampaikan saat Salat Subuh berjemaah dan penutupan pengajian Subuh bersama para habaib dan alim ulama di Balai Kota DKI Jakarta.
Dengan langkah ini, Pramono berharap Jakarta bisa menjadi contoh kota besar yang mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman, sekaligus menghadirkan Ramadan yang aman, nyaman, dan penuh kedamaian bagi seluruh warganya.





