Denyut Nadi Ekonomi Sumut-Aceh yang Kembali Berdetak

kompas.id
17 jam lalu
Cover Berita

Banjir dan longsor yang melanda Sumatera bagian utara akhir November 2025 sempat memutus akses jalan utama di sejumlah daerah. Setelah dua bulan berlalu, jalur distribusi barang berangsur pulih. Denyut nadi ekonomi di jalur Sumatera Utara-Aceh pun kembali berdetak.

Sore itu, Rabu (11/2/2026), lebih dari 20 pekerja tenggelam dalam kesibukan di gudang Radysa Kosmetik di Kompleks Amplas Trade Center, Kota Medan, Sumatera Utara. Mereka memproses transaksi pembeli di lokapasar (checkout), mencetak resinya, lalu mencari produknya di gudang.

Setelah menemukan produk yang dipesan pembeli, petugas lalu menyimpannya ke dalam keranjang dan menyerahkan ke bagian pengecekan. Petugas di bagian ini kembali memeriksa kondisi produk dan memindai nomor atau resinya. Suara pemindaian (scan) pun terdengar.

Aktivitas pengecekan setiap keranjang mirip di bagian pengambilan obat dalam rumah sakit. Bedanya, isi keranjang warna-warni ini bukanlah obat, melainkan produk kecantikan dan perawatan kulit atau skincare. Ada lipstik, bedak, pembersih wajah, pelembap, dan krim mata.

Berbagai produk itu kemudian dibungkus plastik khusus dan dikirim ke wilayah Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan. ”Sekarang, kami bisa kirim 1.000-2.000 produk setiap hari. Paling banyak ke Sumatera Utara dan Aceh,” ujar Rahajeng Dyah Safitri (31), pemilik Radysa Kosmetik. 

Pengiriman ribuan produk ini sempat surut akibat terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera bagian utara, akhir November 2025. Banjir dan longsor itu melanda 53 kabupaten/kota pada tiga provinsi, yakni Sumut, Sumatera Barat, dan Aceh. Dampaknya pun tidak main-main.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, per Minggu (15/2/2026), sebanyak 1.205 orang tewas dan 139 warga hilang dalam bencana itu. Sebanyak 301.102 rumah rusak dan 74.830 orang mengungsi hingga kini. Sebanyak 860 jembatan dan 2.165 jalan ikut terdampak.

Jalur distribusi barang pun terdampak akibat banjir dan longsor. Pengiriman paket Radysa ke wilayah Sumut dan Aceh juga terhambat karena akses jalan terputus. Apalagi, reseller Radysa banyak yang berada daerah terdampak, seperti di Kuala Simpang dan Sigli, Aceh; dan Sibolga.

”Makanya, penjualan produk kami anjloknya lumayan,” ujar Ajeng, sapaan Rahajeng. Akhir tahun lalu, katanya, hampir 1.000 order dibatalkan di salah satu platform perdagangan daring akibat bencana. Dalam satu pekan, pembatalan pemesanan produk bahkan bisa 660 transaksi.

”Saya sempat terancam kena penalti (sanksi poin) karena banyak pembatalan pesanan. Padahal, ekspedisi memberikan tanda merah di wilayah yang terkena banjir, sedangkan customer sudah pesan dan toko tidak bisa memproses,” ungkap Ajeng dengan nada suara agak tinggi.

Baca JugaBencana Sumatera, Terlalu Mahal untuk Dilewatkan Tanpa Pembelajaran

Sejak membuka usaha skincare tahun 2020 di Medan, baru kali ini ia mengalami pembatalan orderan sebanyak itu. Akibatnya, katanya, omzet Radysa turun 10-20 persen. Namun, ia mafhum karena banjir dan longsor di luar kendalinya. Apalagi, skala bencana kala itu amat besar.

Waktu pengiriman barang pun lebih lama akibat bencana. Pengantaran barang dari Medan ke Bireuen, Aceh, untuk layanan reguler bisa mencapai enam hari. Padahal, sebelum bencana, hanya dibutuhkan waktu tiga hari untuk mengirim barang dengan jarak 400 kilometer itu.

Berangsur pulih

Seiring perbaikan akses jalan di wilayah Sumatera, pengiriman barang berangsur pulih. ”Bulan Januari sudah membaik. Bahkan, ada salah satu admin yang penjualannya meningkat. Sampai sekarang, enggak ada lagi pembatalan (pesanan),” ungkap Ajeng yang menjual 15.000 produk.

Kehadiran jasa pengiriman logistik cepat, seperti SPX Express, menurut Ajeng, turut membantu usahanya. ”Waktu pengiriman barang, misalnya, lebih cepat. Kalau soal harga, sama saja. Orang enggak akan mikir beda Rp 1.000 harganya. Soal logistik, orang mau lebih cepat,” ungkapnya.

Apalagi, jasa pengiriman itu memiliki layanan implant atau petugas penjemput sekaligus penyortir paket. Bagi Ajeng, layanan ini sangat membantu ketika pemesanan barang membludak. Setelah dijemput, paket itu dibawa ke pusat pengumpulan awal (first mile hub).

Selanjutnya, paket dikumpulkan di pusat distribusi (distribution center/DC) Medan. Di sana, ratusan ribu paket dibagi berdasarkan tujuan tempat pengumpulan barang terakhir (last mile). Dari last mile, paket diantar oleh kurir ke alamat pemesan.

Geliat pulihnya pengiriman barang di Sumatera juga tampak di DC Medan. Malam itu, Rabu, para pekerja sibuk menyortir barang lalu mengangkutnya ke truk. ”Kita normal, (memproses) ratusan ribu, di atas 500.000 (paket),” ujar Heri Sati Siregar, perwakilan SPX DC Kota Medan.

Bahkan, saat periode puncak seperti Lebaran atau tanggal kembar, pengiriman barang dari DC Medan hampir mencapai 1 juta paket. Jumlah pekerja yang biasanya 200 orang pun bisa meningkat hingga dua kali lipat. Jumlah truk yang mengantar paket pun bisa lebih dari 100 unit.

Pengiriman paket dari Medan ke Aceh sempat terhambat karena jalan terputus akibat banjir serta longsor. Selain waktunya lebih lama, pengantaran paket juga terkendala karena rumah pemesan hanyut atau tertimbun longsor. Akibatnya, paket itu dikembalikan dan disimpan di tempat aman.

Heri tidak menyebutkan detail jumlah paket yang diproses di DC Medan saat bencana. Namun, ia memastikan operasional di tempat itu terus berjalan hingga kini. Apalagi, akses jalan di jalur lintas tengah Medan-Gayo Lues, Aceh, yang sebelumnya terputus kini dapat dilalui. 

Ruas Jalan Kutacane-Blangkejeren di Desa Kati Maju, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, misalnya, telah dapat dilalui. Sebelumnya jembatan di daerah itu ambruk karena luapan banjir Sungai Alas. Begitu pun sejumlah titik longsor di Gayo Lues telah aman dilalui.

Meskipun beberapa jalan utama di Aceh Tenggara dan Gayo Lues masih dalam perbaikan, kendaraan tetap dapat melintas melalui jalur alternatif. Di sepanjang perjalanan, mobil boks pengantar paket pun tampak hilir mudik. Tempat pengumpulan paket di Blangkejeren juga ramai.

Denyut ekonomi

Tidak hanya pengiriman barang, sejumlah hotel di jalur lintas tengah juga mulai dipadati tamu. Agus M, petugas Hotel Mulia Blangkejeren, mengatakan, dalam sepekan terakhir, rata-rata 10 kamar hotel terisi setiap harinya. Artinya, okupansi kamar hotel lebih dari 30 persen.

”(Angka) ini sudah bagus. Waktu masa bencana, paling banyak tujuh kamar terisi. Itu pun menginap karena jalan putus. Bagaimana tamu mau menginap, harga minyak (BBM) saja sempat naik sampai Rp 40.000 per liter (biasanya, Rp 10.000),” ungkapnya. 

Kini, kondisi telah normal. Stasiun pengisian bahan bakar untuk umum beroperasi optimal. Tamu yang mampir ke hotel kian bertambah. Apalagi, Blangkejeren adalah tempat transit pengendara dari Medan ke Banda Aceh. Kafe dan warung kopi di kawasan ini pun ramai saat malam hari.

Aktivitas warga juga berangsur pulih. Keluarga Abdullah (64), warga Desa Agusen, Blangkejeren, misalnya, kembali berjualan makanan di rumahnya. ”Listrik sudah menyala sepuluh hari ini. Sebelumnya, kami pakai genset yang dipinjam dari keluarga,” katanya.

Sebanyak 60 keluarga yang sempat mengungsi juga telah kembali pulang ke kediaman atau rumah kerabat. Saat banjir dan longsor akhir November lalu, sekitar 60 rumah di desa tersebut ambruk. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. ”Sekarang, kondisi mulai normal,” katanya.

Abdullah berharap, perbaikan jalan utama di lintas tengah Sumut-Aceh segera tuntas. Apalagi, longsor masih berpotensi terjadi. ”Kalau hujan deras, kami tidak berani belanja ke luar (desa). Nanti, kalau longsor, jalannya tertutup. Salah satu akses jalan juga masih tertutup,” katanya.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/2/2026), mengatakan, pemulihan daerah terdampak bencana di Sumatera terus dilakukan, termasuk infrastruktur. Sebanyak 98 jembatan dan 99 ruas jalan nasional yang sebelumnya terputus kini sudah kembali berfungsi. 

Baca JugaMendagri Minta TKD untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar Segera Dicairkan 

Sebanyak 5.500 rumah telah rampung dibangun dua bulan terakhir. ”Bapak Presiden (Prabowo Subianto) terus memantau perkembangan pemulihan daerah bencana dan ingin seluruh satgas serta menteri terkait menyampaikan update (perkembangan) secara berkala kepada publik,” ujarnya. 

Pemulihan daerah terdampak bencana di Sumatera bagian utara akan bergantung pada perbaikan jalur distribusi barang. Dengan terbukanya akses jalan, denyut nadi ekonomi di lintas Sumut-Aceh pun kembali berdetak. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cara Tukar Uang Baru di PINTAR BI untuk THR Lebaran, Login pintar.bi.go.id
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Lima Perusahaan Asal China Lolos Tender Proyek Waste to Energy Danantara
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Ancol Jadi Saksi Lahirnya Generasi Baru Atlet Multisport Jakarta
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Brad Pitt Pernah Selingkuh, Kenali Tanda Suami Tidak Setia
• 9 jam lalugenpi.co
thumb
Demokrat, Andi Widjajanto hingga Eks Dubes RI untuk Iran Soal Risiko Kirim Prajurit TNI ke Gaza
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.