Belajar dari Erupsi Krakatau 1883: Memaknai Perilaku Satwa sebagai Alarm Bencana

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Bencana katastropik yang melanda Sumatra pada penghujung tahun 2025 dan awal tahun 2026 lalu menyisakan telaah dan perdebatan seputar krisis ekologi berskala besar. Selain menimbulkan korban hingga mencapai lebih dari 1.200 jiwa, banjir bandang tersebut menewaskan seekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis), yang ditemukan di bawah timbunan lumpur dan kayu di Pidie Jaya, Aceh.

Analisis kematian tersebut mengarah pada tingginya kerusakan ekologi yang berbanding lurus dengan besarnya skala bencana. Meskipun demikian, dilihat dari perspektif animal behaviour, kematian gajah tersebut menunjukkan sebuah ketidaklaziman.

Membaca tulisan Nopri Ismi berjudul ’Catatan Akhir Tahun: Melindungi Satwa Liar, Menjaga Manusia dari Bencana’ - yang dilansir pada laman Mongabay (26 Desember 2025), gajah termasuk satwa yang memiliki kecerdasan emosional untuk bertahan hidup, serta mempunyai sensitivitas dalam mendeteksi bencana.

Ia menambahkan bahwa berkat kemampuan tersebut, tidak ada gajah yang menjadi korban pada bencana Tsunami yang menerjang Aceh, dan beberapa kawasan di Samudra Hindia pada 2004 lalu. Kondisi kausalitas antara satwa dan bencana alam kemudian memunculkan pertanyaan penting: Dapatkan perilaku satwa secara praktis dijadikan sebagai pendeteksi dini bencana alam?

Sejatinya, kesaksian tentang anomali tingkah laku satwa umumnya hadir pada setiap kejadian bencana. Namun, narasinya selalu menjadi penguat bagi tanda-tanda bencana, bukan sebagai alarm dan prosedur yang preventif. Padahal, wilayah Indonesia secara geografis berada pada zona rawan bencana, khususnya bencana geologis. Selain itu, Indonesia dihuni berbagai spesies satwa, yang prilakunya sangat mungkin berpotensi menjadi sinyal dalam mendeteksi peningkatan aktivitas seismik maupun vulkanik.

Berbagai tulisan tentang posibilitas tersebut sejatinya banyak hadir di berbagai lini massa, yang umumnya diulas dalam ranah ilmu terapan. Namun demikian, kajian sejarah juga memungkinkan dalam menghadirkan data-data menyoal anomali perilaku satwa pada bencana di masa lalu. Setidaknya, peristiwa erupsi Krakatau 1883 memberikan narasi bahwa anomali satwa sudah difikirkan - meskipun belum diperhitungkan – sebagai gejala awal kondisi perut bumi yang tidak baik-baik saja.

Satwa-Satwa yang Berperilaku Aneh

Letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883 tercatat sebagai salah satu bencana katastropik terbesar dalam sejarah modern. Bencana tersebut memuculkan angka sekitar 4.000 korban jiwa akibat gelombang Tsunami dan jutaan kubik abu vulkanik yang juga merusak berbagai ekosistem. Selain tanda-tanda geologi yang muncul prabencana, beberapa kesaksian mengutarakan berbagai anomali tingkah laku satwa sebelum, saat, dan setelah erupsi.

Film Krakatoa: The Last Days yang dirilis pada 2006, menghadirkan visualisasi gelaja tersebut, disertai kebimbingan dari orang-orang Belanda, tidak terkecuali seorang geolog Belanda bernama Rogier Verbeek. Sebagai seorang ilmuwan, Verbeek menerima laporan berupa keganjilan-keganjilan satwa, seperti yang diungkapkan oleh seorang perempuan Belanda bernama Johanna Beyenrick. Ia yang mengkhawatirkan kuda miliknya yang mengamuk, ayam peliharaannya yang tidak bertelur, serta burung-burung yang tidak terlihat di pohon.

Johanna merupakan istri dari seorang pemilik perkebunan, William Beyerick, yang tinggal di sekitar Pantai Anyer – jarak yang cukup jelas untuk melihat geliat Krakatau yang berada di lepas pantai. Pascaledakan 27 Agustus 1883, kesaksian perihal anomali satwa juga diutarakan Rogier Verbeek sendiri dalam catatan kesaksiannya berjudul Krakatau (1885). Ia menuliskan soal satwa-satwa peliharaannya yang berprilaku gelisah, enggan keluar rumah, dan berusaha untuk sedekat mungkin dengan cahaya.

Anomali prilaku satwa di sekitar letusan Krakatau juga diulas secara khusus oleh Simon Winchester dalam buku Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (2006). Ia menarasikan tentang keganjilan prilaku seekor gajah kecil milik Wilson’s Great World Circus, yang hampir setiap malam (sejak awal Agustus 1883) menggelar pertunjukan di Batavia pada saat Krakatau mulai bergejolak.

Kisah yang terungkap kemudian cukup unik perihal upaya seorang pawang bernama Miss Nanette Lochart dalam menenangkan dan mengamankan gajah kecil yang ’ngamuk’ saat pertunjukan berlangsung. Menariknya, ia berinisiatif menyembunyikan dan membaringkan gajah tersebut di salah satu kamar di Hotel des Indes, Batavia. Gajah itu kemudian berbuat kegaduhan dengan mengobrak-abrik kamar hotel, disertai kepanikan penghuni hotel lain yang mengira hotel akan roboh.

Kegelisahan satwa-satwa tersebut nyatanya diterjemahkan berbeda. Segelintir orang menganggapnya sebagai respons alamiah terhadap gejala bencana, tetapi banyak pula yang mengabaikannya, termasuk sikap Rogier Verbeek yang kemudian membuatnya merasa bertanggung jawab atas kekeliruan pembacaan situasi.

Pertarungan antara Takhayul dan Sains

Kondisi prabencana menghadirkan perdebatan yang menarik soal ’ilmiah’ dan ’takhayul’, yang mengiringi berbagai gejolak yang ditunjukkan Krakatau. Sebagian masyarakat lokal menafsirkan gemuruh Krakatau sebagai manifestasi kemarahan entitas yang diyakini sebagai penghuni gunung tersebut. Dalam konteks lainnya, Film Krakatoa menyertakan juga penelaahan terhadap naskah Pustaka Raja Purwa (dibuat pada abad ke-15), yang memberi bahan analitis bagi para geolog Belanda bahwa gunung tersebut pernah memuntahkan letusan besar di masa lalu. Namun demikian, geolog Belanda seperti Rogier Verbeek cukup berhati-hati mengartikan persepsi lokal, termasuk berbagai anomali prilaku satwa. Ia meyakini bahwa fenomena tersebut merupakan ’takhayul yang tak bisa dipercaya’.

Simon Winchester dalam analisisnya menyadari bahwa perkembangan ilmu geologi akhir abad ke-19 belum cukup untuk memperhitungkan anomali satwa sebagai sebuah bentuk keilmiahan, bahkan masih dianggap sebagai sains-semu baru yang bercampur dengan takhayul. Meskipun demikian, beberapa saintis mulai percaya bahwa insting satwa memiliki keakuratan dalam merespon perubahan dalam perut bumi. Seorang saksi letusan bernama R.A. van Sandick - dalam buku In Het Rijk van Vulkaan (1890) - mempercayai kondisi tersebut melalui analisanya terhadap fenomena migrasi burung laut dari Batavia yang terjadi sekitar tiga hari sebelum erupsi.

Pertimbangan terhadap anomali satwa yang sudah diperdebatkan sejak akhir abad ke-19 nyatanya belum menjadi prosedur baku dalam mitigasi bencana. Padahal, banyak bencana besar terjadi dalam rentang waktu tiga abad di Indonesia. Namun, dalam ranah internasional pun prilaku satwa belum menjadi sistem peringatan bencana dini, meskipun beberapa hasil penelitian sudah diakui. Salah satu riset terkait hal tersebut dilakukan oleh ICARUS (International Cooperation for Animal Research Using Space), suatu proyek penelitian yang menggunakan satelit untuk melacak pergerakan satwa, termasuk sebagai potensinya sebagai alarm bencana alam. Berdasarkan informasi pada laman resminya (icarus.mpg.de), salah satu pijakan riset ICARUS adalah peristiwa gempa dan tsunami di Indonesia pada 2004. Kesaksian masyarakat mengenai perilaku gajah yang bergerak menjauhi pantai ke arah pedalaman cenderung diabaikan sebagai sinyal peringatan dini.

Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun belum secara resmi memberlakukan prilaku satwa sebagai prosedur baku. Menariknya, pada erupsi Merapi yang terjadi pada November 2020, masyarakat yang tinggal di wilayah lereng Merapi sudah mempertimbangkan prilaku monyet sebagai bahan pertimbangan untuk mengungsi. Dilansir dari Harian Jogja edisi 7 November 2020, masyarakat di Kelurahan Glagaharjo (Sleman) sudah menyaksikan monyet-monyet turun gunung sebelum Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menaikkan status Merapi dari level Waspada ke Siaga.

Secara umum, mempertimbangkan perilaku satwa sebagai salah satu indikator alami dalam sistem peringatan dini bencana merupakan langkah yang perlu terus dikembangkan sebagai pelengkap instrumen geofisika modern. Sejarah menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu menyediakan preseden penting dalam pengambilan keputusan terkait manajemen risiko bencana. Dalam konteks ini, prinsip pembelajaran historis tidak hanya bersifat retrospektif, tetapi juga mengandung dimensi preventif dan mitigatif terhadap potensi bencana di masa depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Membangun Kepercayaan Bangsa dengan Memperkuat Riset dan Inovasi Global
• 14 menit lalukumparan.com
thumb
Wamen Ekraf Sebut Kolaborasi Aqua-Citilink Dapat Beri Dampak Bagi Masyarakat
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Soroti THR UMKM, DPR: Jangan Hanya Perusahaan Besar yang Dilindungi
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Baleg DPR RI :  UU Perampasan Aset Masuk Revisi Prolegnas Akhir Tahun
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Travis Kelce Jadi Sorotan Usai Bola Golf yang Dipukulnya Hantam Seoran Wanita
• 6 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.