Pasar Mobil Makin Sensitif Harga, Diskon Saja Tak Cukup

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan di tengah situasi pasar otomotif yang menantang, umumnya harga menjadi faktor yang amat sensitif bagi calon konsumen sebelum memutuskan pembelian mobil baru.

Hal itu diprediksi masih akan menjadi tantangan pasar domestik tahun ini. Sebab, struktur konsumen yang terdampak adalah mereka dengan kemampuan daya beli kelas menengah dan dapat mengalihkan pilihannya ke kendaraan bekas.

"Inti pasar kita sangat sensitif harga. Pada 2025 saja penjualan mobil turun dan penurunan paling dalam terjadi pada segmen kendaraan penumpang, sementara perbaikan akhir tahun banyak ditopang BEV (Battery Electric Vehicle)," buka Josua dihubungi kumparan, (12/2/2026).

Dirinya melanjutkan, kebanyakan pabrikan saat ini mengandalkan strategi penyesuaian harga sengit untuk kompetisi produk pada segmen yang sama. Terutama BEV, guna menggaet lebih banyak konsumen.

Sementara pemain lainnya ada yang menerapkan diskon harga dan tak sedikit menambah varian baru dengan banderol lebih terjangkau sebagai cara untuk menyerap pasar lebih luas. Namun, dua cara itu dinilai masih terhambat oleh kinerja pembiayaan kendaraan.

"Data pembiayaan mobil baru melambat lebih tajam sementara mobil bekas masih tumbuh, jadi kalau kredit makin ketat dan rasio kredit bermasalah naik, pemulihannya memang tidak bisa hanya mengandalkan diskon harga," terang Josua.

Josua memberi saran lewat metode kombinasi yakni dari sisi produsen dengan perkuat keterjangkauan lewat varian yang benar-benar lebih hemat tanpa mengorbankan keselamatan, perluas opsi hybrid sebagai jembatan bagi konsumen yang belum siap penuh listrik, dan perkuat paket purna jual serta garansi baterai agar konsumen merasa aman perihal nilai jual kembalinya.

"Sisi pembiayaan, lembaga pembiayaan perlu menajamkan seleksi risiko berbasis data tetapi tetap memberi ruang skema yang sehat seperti uang muka yang lebih memadai dan tenor yang lebih sesuai profil risiko, bukan sekadar menutup keran kredit. Dari sisi ekosistem, perkuat program tukar tambah dan mobil bekas tersertifikasi supaya pasar mobil bekas lebih transparan dan tidak menjadi sumber risiko baru," bilangnya.

Lebih lanjut, para produsen yang telah memiliki fasilitas produksi di dalam negeri dapat mendorong kinerja ekspor dengan mencari peluang negara tujuan yang baru guna menahan penurunan produksi dan menjaga aktivitas industri.

"Kapasitas perakitan mobil listrik yang masih terbatas juga menunjukkan alasan mengapa transisi perlu bertahap dan konsisten, bukan kebijakan yang berubah-ubah," tandas Josua.

Pemerintah bidik penjualan mobil 2026 capai 850 ribu unit

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita membeberkan proyeksi penjualan mobil (untuk kendaraan roda empat atau lebih) tahun ini bisa mencapai 850 ribu unit. Ini berdasarkan perkembangan ekonomi, dinamika global, dan faktor lainnya.

"Banyak merek otomotif yang mengalami kesulitan produksi karena tidak bisa mendapatkan semikonduktor, itu juga yang menjadi kunci untuk kita. Adapun proyeksi penjualan mobil nasional tahun ini adalah 850 ribu unit," buka Agus di Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Angka tersebut melihat dari kemampuan produksi otomotif terpasang untuk roda empat sebanyak 2,5-2,6 juta unit. Cita-cita tersebut sejatinya hampir serupa dengan capaian 2025 yang melewati target 803 ribu unit.

"Tetapi demikian, proyeksi yang saya sampaikan tadi masih belum cukup kuat untuk menembus level satu juta unit seperti sebelum masa pandemi (Covid-19). Kami mengajak stakeholder untuk mencari cara terbaik agar bisa rebound," terang Agus.

Tidak hanya penyerapan wholesales (dari pabrik ke diler), Agus menyampaikan penjualan retail atau distribusi dari diler ke konsumen ikut melandai 6,3 persen dari sebelumnya 889 ribu unit menjadi 883 ribu unit.

"Ini jelas menunjukkan adanya kontraksi dan pelemahan. Namun kita bisa berbicara soal ekspor yang menjadi penopang utama sepanjang 2025 yang mencapai 518 ribu unit untuk kendaraan utuh atau CBU. Naik 9,7 persen dibanding 2024," kata Agus.

Agus berharap tahun ini menjadi peluang yang bagus untuk pasar otomotif nasional, pihaknya telah bertemu dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo. Ditambah serangkaian helatan otomotif yang membantu penjualan.

"Saya harus sampaikan apa adanya, banyak tantangan yang perlu dicari jalan keluar bersama. Tantangan seperti pembiayaan, asuransi diharapkan tumbuh, dinamika global, rantai pasok, kita lihat cukup banyak pabrikan yang mengalami kendala pasokan semikonduktor," paparnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Libur Awal Ramadan 2026 di Makassar Mulai 18 Februari
• 1 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Kodam Jaya dan DLH Jakarta Kelola 5,5 Ton Limbah Elektronik
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Di Balik Teror Tanah Bergerak
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ekspor Tekstil Dibidik Tinggi, Buka Pasar Baru Saja Tidak Cukup
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Kata Pelatih Persija soal Penampilan Mauro Zijlstra dan Shayne Pattynama saat Libas Bali United
• 7 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.