Awal tahun 2026 dibuka dengan sebuah fenomena digital yang menarik sekaligus meresahkan dengan lahirnya aliansi SEAblings. Istilah yang merupakan singkatan dari South East Asia Siblings ini mendadak viral sebagai bentuk solidaritas netizen Asia Tenggara dalam menghadapi gelombang sentimen negatif dari sebagian netizen Korea Selatan (KNetz).
Apa yang dimulai dari protes terhadap perilaku agresif fansite master di konser DAY6 Kuala Lumpur pada Januari lalu, dengan cepat bereskalasi menjadi perang narasi yang lebih dalam. Ejekan rasis mengenai sawah, status ekonomi, hingga standar fisik artis lokal menjadi peluru yang dilemparkan. Melihat fenomena ini, melihat ini bukan sekadar tawuran digital biasa. Ini adalah benturan hegemoni visual, sebuah kondisi di mana teknologi dan standar estetika digunakan untuk menentukan kasta sosial di ruang digital.
Otoritas di Balik Lensa PanjangSalah satu akar masalah dari konflik ini adalah perilaku beberapa fotografer penggemar (fansite master) yang memaksakan penggunaan kamera profesional (DSLR) dengan lensa masif di tengah kerumunan konser. Di balik alasan dokumentasi hobi, ada pesan kekuasaan yang tersirat. Kamera tersebut bukan sekadar alat, melainkan simbol otoritas.
Ada anggapan bahwa siapa pun yang memegang teknologi visual paling canggih, dialah yang berhak menentukan kebenaran visual. Ketika hasil rekaman ponsel netizen lokal diejek karena dianggap buram, burik atau amatir, yang sebenarnya sedang diserang bukanlah kualitas pikselnya, melainkan martabat penggunanya. Di sini, standardisasi piksel menjadi alat baru untuk merendahkan pihak lain. Mereka yang tidak mampu memproduksi citra se-glamor standar industri mereka, dianggap tidak layak memiliki suara di ruang publik yang modern.
Benturan Antara Polesan dan AutentisitasIndustri visual Korea telah berhasil menaklukkan dunia melalui estetika yang sangat terkontrol berupa visualisasi yang serba putih, pencahayaan yang sempurna, dan saturasi yang membuat segalanya tampak seperti mimpi. Sebaliknya, konten dari Asia Tenggara sering kali hadir dengan pendekatan yang lebih jujur atau apa adanya yang bergantung pada cahaya matahari alami dan latar belakang keseharian yang nyata. Ejekan rasis terhadap video klip yang berlatar sawah atau pasar tradisional adalah bentuk penolakan terhadap realitas. Bagi mereka yang matanya sudah terbiasa dengan polesan digital yang artifisial, autentisitas agraris kita dianggap sebagai bentuk kemiskinan visual.
Padahal, dalam konteks estetika film, kejujuran visual inilah yang justru memberikan nyawa pada sebuah cerita. Kegagalan sebagian netizen Korea dalam memahami hal ini menunjukkan adanya lubang besar dalam cara mereka memandang dunia, bahwa modernitas hanya diukur dari seberapa mengkilap tampilan di layar bukan dari kedalaman budaya yang direpresentasikan.
Namun, munculnya gerakan #SEAblings memberikan harapan baru. Ini adalah momen dekolonisasi digital di mana netizen Indonesia, Malaysia, hingga Filipina mulai menyadari bahwa mereka tidak perlu merasa inferior di hadapan standar kecantikan visual yang didikte oleh industri besar. Aliansi ini menunjukkan bahwa audiens Asia Tenggara bukan lagi sekadar konsumen pasif yang bisa diintimidasi oleh keunggulan teknologi pihak lain. Kita sedang menyaksikan lahirnya diplomasi akar rumput yang menuntut kesetaraan posisi tawar dan rasa hormat yang timbal balik. Soft power sebuah bangsa tidak bisa dibangun di atas fondasi yang satu arah. Jika Korea Selatan ingin tetap memimpin pasar budaya, mereka harus belajar bahwa persaudaraan (siblings) membutuhkan rasa hormat terhadap perbedaan, bukan sekadar transaksi angka di atas meja algoritma.
Sudah saatnya kita berhenti merasa inferior di depan layar kaca yang berkilau. Karena pada akhirnya, kebenaran visual yang paling kuat tidak ditemukan dalam resolusi kamera yang paling mahal, melainkan dalam keberanian untuk menampilkan jati diri apa adanya, tanpa rasa malu, bahkan jika itu harus berlatar belakang hamparan sawah yang kita cintai.





