Penulis: Fityan
TVRINews-Asia
Dari Ritual Dupa Hong Kong hingga Parade Chingay, Komunitas Global Rayakan Tahun Baru dengan Akulturasi Budaya
Perayaan Tahun Baru Imlek melampaui batas geografis Tiongkok, bertransformasi menjadi festival global yang memadukan tradisi leluhur dengan identitas lokal.
Di berbagai pusat kota dunia, pergantian tahun lunar ini tidak sekadar kembang api, melainkan manifestasi spiritual dan sosial yang mendalam.
Di Hong Kong, denyut spiritualitas terasa paling kuat di Kuil Sik Sik Yuen Wong Tai Sin.
Ribuan warga berkerumun sejak dini hari untuk mengikuti ritual "Dupa Pertama". Kepercayaan lokal meyakini bahwa siapa pun yang berhasil menyajikan dupa pertama kepada Dewa Wong Tai Sin akan diberkati dengan keberuntungan melimpah sepanjang tahun.
"Ritual ini adalah bentuk penghormatan sekaligus harapan besar bagi masyarakat. Memegang dupa pertama dianggap sebagai kehormatan tertinggi di malam tahun baru," tulis beberapa media lokal Hongkong.
Akulturasi dan Harmoni Sosial
Bergeser ke Asia Tenggara, Singapura dan Malaysia menyuguhkan wajah Imlek yang lebih inklusif melalui Parade Chingay.
Festival jalanan ini telah berevolusi dari pawai tradisional Tionghoa menjadi karnaval multikultural yang menampilkan partisipasi dari berbagai etnis.
Selain kemeriahan di jalanan, tradisi Open House di Malaysia menjadi pilar penting dalam mempererat kohesi sosial.
Dalam tradisi ini, pintu rumah terbuka lebar bagi tetangga dan kerabat tanpa memandang latar belakang, di mana hidangan khas seperti Yee Sang (salad keberuntungan) menjadi simbol persatuan saat diaduk bersama.
Simbolisme dalam Keseharian
Secara universal, perayaan ini tetap berpegang pada filosofi pembersihan diri dan lingkungan.
Beberapa aturan tidak tertulis yang masih ditaati oleh komunitas diaspora meliputi:
- Pantangan Hari Pertama: Larangan mencuci rambut atau memotong kuku agar rezeki tidak "terbuang".
- Restorasi Rumah: Membersihkan kediaman secara total sebelum hari-H untuk mengusir nasib buruk tahun lalu.
- Gastronomi Harapan: Konsumsi mi panjang umur yang melambangkan kesehatan, serta jeruk mandarin sebagai simbol akumulasi kekayaan.
Melalui perpaduan antara ritual kuno dan adaptasi modern, Tahun Baru Imlek terus berfungsi sebagai jembatan budaya yang menghubungkan harapan masa lalu dengan optimisme masa depan di seluruh dunia.
Editor: Redaktur TVRINews





