Penulis: Rong Naijia
Bagaimana asal-usul “merayakan Tahun Baru Imlek”? Sangat lama sekali di masa lalu, terdapat legenda dan catatan tertulis seperti berikut mengenai “merayakan Tahun Baru”.
Legenda Monster NianDikisahkan bahwa “Nian” bukan hanya satuan waktu, tetapi juga seekor monster buas. Monster ini bertanduk panjang, matanya sebesar lonceng tembaga, suaranya menggelegar seperti guntur, tubuhnya lebih besar dari unta, dan berlari secepat angin. Setiap akhir musim dingin, monster ini akan bangun dari pegunungan dalam dan turun ke desa untuk mencari makan. Karena “Nian” memakan manusia, penduduk desa menyebutnya “Monster Nian”.
Untuk menghindari serangan Monster Nian, setiap akhir tahun penduduk desa beramai-ramai meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi.
Ada seorang nenek yang anaknya tragis dimakan oleh Monster Nian. Karena itu, ia tinggal sendirian di desa dan bertekad melawan Monster Nian.
Pada malam Tahun Baru Imlek, seorang pengemis tua berpakaian compang-camping datang ke desa. Ia berjalan tertatih-tatih dari rumah ke rumah untuk mengemis. Saat itu penduduk desa sedang sibuk melarikan diri, sehingga tidak ada yang mempedulikannya.
Ketika pengemis itu tiba di rumah nenek tersebut, nenek itu merasa iba dan mengundangnya masuk, lalu menjamunya dengan pangsit rebus hangat.
Setelah makan pangsit, pengemis tua itu bertanya mengapa penduduk desa melarikan diri. Nenek itu menceritakan kekejaman Monster Nian, termasuk bagaimana anaknya dimakan, dan mendesaknya untuk segera pergi.
Namun, tak disangka, pengemis tua yang tampak lemah itu sama sekali tidak takut. Ia mengeluarkan selembar kain merah dan memakainya, lalu menempelkan kertas merah di pintu, serta menyalakan api unggun di halaman untuk membakar bambu. Segera terdengar suara letupan keras berderak-derak.
Saat malam tiba, Monster Nian datang ke desa dan melihat satu-satunya rumah yang masih menyala—rumah nenek itu.
Tiba-tiba, suara ledakan bambu terdengar seperti guntur. Monster Nian menutup telinganya sambil meraung kesakitan. Bayangan merah pengemis tua yang bergerak-gerak dan kertas merah di pintu membuat matanya silau dan perih. Monster Nian sangat ketakutan, lalu melarikan diri kembali ke pegunungan.
Keesokan harinya, ketika penduduk desa pulang, mereka terkejut melihat nenek itu selamat. Mereka pun bertanya apa yang terjadi, dan baru mengetahui bahwa pengemis tua telah menolongnya.
Saat mereka hendak berterima kasih, pengemis itu telah berubah menjadi kepulan asap hijau dan menghilang tanpa jejak.
Ternyata pengemis itu bukan orang biasa, melainkan jelmaan dewa yang membalas kebaikan nenek tersebut.
Sejak saat itu, tradisi mengenakan pakaian merah, menempelkan kuplet merah, dan menyalakan petasan saat Tahun Baru pun lahir. Hari ketika Monster Nian diusir pada akhir tahun itu disebut “Guo Nian” (merayakan Tahun Baru).
Nenek moyang Dewa Pintu dalam budaya Tionghoa—Shentu dan Yulei—menaklukkan iblis dan mengusir roh jahat. (Zeng Handong/The Epoch Times) Dewa Pengusir Roh Jahat: Shentu dan YuleiDalam literatur tradisional, terdapat juga tokoh yang berperan mengusir roh jahat seperti Monster Nian. Mereka adalah dua dewa: Shentu dan Yulei.
Saat pergantian tahun lama dan baru, orang-orang zaman dahulu menggantung patung dewa pintu dari kayu persik, mengganti jimat kayu persik, dan menempelkan hiasan musim semi untuk mengusir roh jahat dan menyambut keberuntungan. Jimat kayu persik kemudian berkembang menjadi budaya kuplet musim semi.
Legenda kuno menyebutkan bahwa kayu persik dapat mengusir roh jahat. Kayu persik disebut sebagai “inti dari lima jenis kayu, kayu abadi” (Kamus Kangxi).
Saat Tahun Baru, orang-orang mengukir patung dewa dari kayu persik atau melukis dewa pengusir roh jahat di papan kayu persik untuk dijadikan jimat, lalu menggantungnya di pintu untuk mengusir roh jahat dan mendatangkan keberuntungan.
Yang paling terkenal di antara dewa pintu ini adalah Shentu dan Yulei.
Menurut Kitab Shanhai, di tengah lautan terdapat Gunung Dushuo, dan di sana tumbuh pohon persik raksasa dengan cabang membentang sejauh 3.000 li. Di antara cabang timur lautnya terdapat “Gerbang Hantu”, pintu keluar-masuk semua roh.
Di pohon itu tinggal dua dewa: Shentu dan Yulei.
Mereka adalah hakim dunia roh yang adil dan benar. Mereka menangkap roh jahat yang mencelakai manusia, mengikatnya dengan tali rumput, lalu memberikannya kepada harimau untuk dimakan.
Asal-Usul Dewa PintuPada zaman Kaisar Kuning, Shentu dan Yulei dijadikan dewa penjaga pintu.
Kaisar Kuning menetapkan ritual untuk mengusir roh jahat:
- Menempatkan patung kayu persik besar di pintu
- Melukis gambar Shentu, Yulei, dan harimau di pintu
- Menggantung tali rumput
Semua ini untuk mencegah roh jahat masuk.
Tradisi ini kemudian berkembang menjadi lukisan dewa pintu dan kuplet musim semi.
Kertas merah yang ditempel oleh pengemis tua dalam legenda Monster Nian berasal dari tradisi kuno ini.
Perkembangan di Dinasti BerikutnyaPada Dinasti Han Timur, pejabat daerah juga mengikuti tradisi ini dengan:
- Menghias pintu dengan patung Shentu dan Yulei
- Menggantung tali rumput
- Melukis harimau
Untuk mengusir roh jahat.
Pada zaman Wei, Jin, dan Dinasti Selatan-Utara, tradisi ini berkembang menjadi lukisan dewa pintu resmi.
Setiap tanggal 1 bulan pertama kalender lunar, keluarga:
- Menggantung papan kayu persik
- Menempelkan gambar Shentu di kiri
- Menempelkan gambar Yulei di kanan
Ini disebut “Dewa Pintu”, dan semua roh jahat takut kepada mereka.
Orang juga menyalakan petasan untuk mengusir roh jahat bernama “Shan Sao”.
Roh ini:
- Berasal dari pegunungan barat
- Tingginya sekitar satu chi
- Berkaki satu
- Dapat menyebabkan penyakit
Namun roh ini takut pada suara ledakan, sehingga petasan digunakan untuk mengusirnya.
Dewa Pintu Terkenal dalam SejarahBeberapa dewa pintu terkenal antara lain:
- Yuchi Gong
- Qin Qiong
- Zhong Kui
Mereka semua dipercaya memiliki kemampuan menangkap hantu.
Legenda mengatakan Yuchi Gong dan Qin Qiong melindungi Kaisar Tang Taizong dari roh naga.
Pelukis terkenal Wu Daozi melukis mereka sebagai dewa pintu, dan masyarakat kemudian menirunya.
Zhong Kui, dilukis oleh Lü Xue pada awal Dinasti Qing. (Domain publik) Zhong Kui: Penangkap IblisZhong Kui adalah seorang peserta ujian militer pada masa Dinasti Tang.
Karena wajahnya jelek, ia tidak diterima, lalu bunuh diri karena malu.
Namun Kaisar Tang memberinya pemakaman kehormatan.
Setelah menjadi roh, Zhong Kui bersumpah membasmi iblis.
Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong sakit malaria.
Dalam mimpi, ia melihat Zhong Kui menangkap hantu.
Setelah bangun, penyakitnya sembuh.
Kaisar lalu memerintahkan pelukis Wu Daozi melukis gambar Zhong Kui.
Sejak itu, Zhong Kui menjadi dewa pengusir roh jahat yang terkenal.
Dalam Taoisme, ia disebut:
- Dewa Pelindung Rumah
- Dewa Pengusir Roh Jahat
Baik legenda Monster Nian maupun cerita dewa pintu menunjukkan makna yang sama:
Tradisi Tahun Baru mengandung keyakinan bahwa:
- Ada dewa yang mengawasi kebaikan dan kejahatan
- Kejahatan tidak dapat mengalahkan kebenaran
Cerita-cerita kuno ini juga mewariskan cara mengusir roh jahat, mendatangkan keberuntungan, dan menyambut Tahun Baru.





