Kue keranjang menjadi salah satu hidangan yang hampir selalu hadir saat perayaan Tahun Baru Imlek. Bagi masyarakat Tionghoa, kue ini bukan sekadar makanan penutup, tetapi juga sarat makna filosofis yang berkaitan dengan kebersamaan keluarga.
Menurut Hendro, perwakilan Klenteng Toa Se Bio, tradisi menyantap kue keranjang saat Imlek sudah dilakukan turun-temurun. Teksturnya yang lengket melambangkan eratnya hubungan keluarga.
Kue keranjang diharapkan menjadi simbol agar anggota keluarga tetap dekat satu sama lain. Seperti sifat dodol yang lengket, hubungan keluarga diharapkan terus menyatu dan tidak mudah terpisah.
"Jadi nanti pada tanggal 17 (Februari) malamnya, itu kita ada makan kue keranjang bersama. Jadi, supaya kita ketemu sama keluarga, tali silaturahminya kuat biar nempel karena kan dodol itu kan lengket," kata Hendro saat berbincang dengan kumparanFOOD, Senin (15/2).
Selain maknanya yang dalam, kue keranjang juga dikenal sebagai makanan dengan umur simpan yang cukup lama. Bahkan, jika disimpan dengan benar, kue ini bisa bertahan berbulan-bulan.
Koh Alim, pedagang kue keranjang di kawasan Petak 9 Glodok, mengatakan bahwa kue keranjang bisa awet hingga hampir satu tahun. “Awetnya bisa hampir setahun. Kalau muncul putih-putih di luar, itu tidak masalah selama kita rawat dengan benar,” ujarnya saat ditemui kumparanFOOD di kedainya.
Ia menambahkan, perawatan kue keranjang sebenarnya cukup sederhana. Kue perlu sesekali dilap agar tetap bersih. Jika muncul bagian berjamur di permukaan, bagian tersebut cukup diseset atau dipotong, sementara bagian dalamnya masih aman untuk dikonsumsi.
“Tengahnya gak apa-apa masih bisa kita goreng, kita kukus, luarnya kita seset, potong buang yang putihnya," bebernya.





