Jakarta, VIVA – Perayaan Tahun Baru Imlek atau Tahun Baru Cina merupakan momen penting bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Di Indonesia, perayaan ini identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga, makan malam bersama, berbagi angpao, hingga menghias rumah dengan nuansa merah dan ornamen khas.
Imlek bukan sekadar pergantian kalender lunar, melainkan juga simbol awal baru yang diharapkan membawa keberuntungan, kesehatan, dan kemakmuran sepanjang tahun. Scroll lebih lanjut yuk!
Secara historis, Tahun Baru Imlek dirayakan berdasarkan kalender lunar Tiongkok yang telah digunakan selama ribuan tahun. Tradisi ini berkembang dari daratan Tiongkok dan kini dirayakan di berbagai negara seperti China, Singapore, Malaysia, hingga Indonesia.
Perayaan biasanya berlangsung selama 15 hari dan ditutup dengan Festival Lampion. Setiap rangkaian kegiatan sarat makna simbolis, mulai dari membersihkan rumah sebelum Imlek hingga mengenakan pakaian baru sebagai lambang harapan dan pembaruan hidup.
Namun, di balik kemeriahannya, terdapat sejumlah pantangan yang masih dipercaya dan dijalankan oleh sebagian masyarakat Tionghoa. Pantangan tersebut diyakini dapat memengaruhi keberuntungan selama setahun ke depan.
Beberapa di antaranya adalah larangan menyapu rumah pada hari pertama Imlek karena dianggap dapat “menyapu” rezeki yang baru datang. Selain itu, tidak dianjurkan berkata kasar atau bertengkar agar energi negatif tidak mewarnai tahun yang baru.
Ada pula larangan memecahkan barang pecah belah karena dianggap sebagai pertanda kurang baik.
Pantangan lain yang cukup sering dibahas adalah larangan mencuci atau memotong rambut pada hari pertama Imlek. Rambut dalam bahasa Mandarin memiliki pelafalan yang serupa dengan kata “kemakmuran”, sehingga memotongnya di awal tahun dipercaya dapat mengurangi rezeki.
Dalam konteks yang sama, memotong kuku juga termasuk dalam daftar larangan yang sebaiknya dihindari saat hari pertama Imlek.
Secara kepercayaan tradisional, memotong kuku saat Imlek diyakini dapat “memotong” keberuntungan yang baru saja masuk. Aktivitas ini dianggap berpotensi menghilangkan rezeki yang sudah datang atau yang akan menghampiri sepanjang tahun.
Penggunaan benda tajam seperti gunting kuku juga dimaknai sebagai simbol pemutus hubungan baik dan rantai keberuntungan. Karena itu, tindakan sederhana tersebut dipercaya bisa mendatangkan kesialan jika dilakukan pada momen sakral pergantian tahun.





