JAKARTA, KOMPAS.com – Di bawah terik matahari Pantai Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, dua pria menggali pasir satu per satu dengan bambu.
Di usia senja dan dengan bayaran seadanya, mereka menanam mangrove bukan demi seremonial, melainkan harapan panjang agar kampung pesisirnya kelak terbebas dari banjir rob. Dua pria itu bernama Kayat (72) dan Ahmad (41).
Keduanya merupakan warga asli Marunda yang sedang bekerja menanam mangrove di kawasan pesisir tersebut.
Kayat dan Ahmad dipekerjakan untuk menanam mangrove oleh anak Kayat, yang dikenal sebagai penggiat lingkungan pesisir sekaligus pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pengolah buah bakau menjadi berbagai produk makanan dan minuman.
Baca juga: Menengok Pantai Marunda yang Terus Dihantui Rob, Mangrove Tak Selalu Jadi Penyelamat
Kayat menuturkan, biasanya sang anak yang aktif menanam mangrove di Pantai Marunda. Namun, karena sedang mengikuti pameran produk olahan mangrove di luar lokasi, anaknya meminta bantuan kepada dirinya dan Ahmad.
Penanaman mangrove itu dilakukan bukan semata-mata untuk diambil buahnya, tetapi juga diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan banjir rob yang kerap melanda Pantai Marunda.
Sebab, hingga kini banjir rob masih menjadi persoalan yang terus menghantui kawasan tersebut, meski Pantai Marunda kerap dijadikan lokasi penanaman mangrove oleh berbagai perusahaan maupun komunitas.
Hampir setiap dua bulan sekali, ada saja perusahaan atau komunitas yang datang menanam mangrove di Pantai Marunda sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR).
"Meski sudah ditanam mangrove, setiap hari masihgggg banjir rob di sini. Tanggal belasan memang sering banjir," kata Kayat ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat (13/2/2026).
Baca juga: Mangrove di Pantai Marunda: Solusi Cegah Rob atau Sekadar Seremonial?
Relakan tangan terlukaDengan napas terengah-engah akibat menggali pasir pantai di bawah terik matahari, Kayat bercerita, penanaman mangrove yang dilakukannya masih sangat manual.
Ia harus menggali lubang pasir satu per satu sesuai jumlah mangrove yang akan ditanam. Saat itu, jumlah mangrove yang ditanam mencapai sekitar 100 batang, sehingga 100 lubang pula yang harus digali.
Penggalian lubang pasir hanya menggunakan alat seadanya berupa bambu dan tak jarang dilakukan dengan tangan kosong.
Aktivitas tersebut jelas melelahkan bagi Kayat yang usianya tak lagi muda. Tak jarang, kulit tangannya memerah dan terluka akibat tajamnya bambu dan pasir pantai.
"Bukan terluka lagi, tangan sampai merah ngeletek begini," jelas Kayat.
Ia menyebutkan, setiap lubang tanam setidaknya harus memiliki kedalaman sekitar 25 hingga 30 sentimeter (cm).





