Lifestyle inflation terjadi ketika penghasilan naik tidak dialokasikan untuk tujuan jangka panjang, tetapi untuk mendukung gaya hidup yang semakin mahal. Perlu strategi agar tidak terperangkap dalam jebakan konsumerisme ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ”kehidupan nyaman” telah menjadi mantra populer di kalangan generasi muda. Hal itu dilambangkan dengan keinginan akan kenyamanan, kemewahan, dan kebebasan dari kesulitan finansial.
Fenomena itu tampak di media sosial yang dibanjiri beragam gambar yang diedit sedemikian rupa tentang makan siang di restoran mewah, liburan akhir pekan, pakaian desainer, hingga kendaraan mewah. Semua itu merupakan bukti gaya hidup yang diidam-idamkan.
Meskipun tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras, tekanan untuk terus meningkatkan standar hidup mendorong banyak generasi muda ke dalam kebiasaan keuangan yang tidak berkelanjutan.
Namun, di balik semua itu terdapat jebakan halus yang berbahaya, yakni lifestyle inflation dan conspicuous consumption. Kedua istilah tersebut merujuk pada orang-orang yang menghabiskan banyak uang untuk mempertahankan citra sosial dan menunjukkan status mereka, meskipun pendapatan atau kondisi ekonomi pribadi mereka tidak memadai.
Lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup adalah fenomena di mana seseorang meningkatkan pengeluaran seiring dengan bertambahnya pendapatan. Bahkan, ketika pendapatan tidak mencukupi sekalipun, konsumtifnya tetap naik demi mengikuti gaya hidup mewah. Hal ini dapat dimulai secara perlahan, mulai dari makan di restoran yang lebih mahal, lebih sering mengganti gadget, atau pindah ke rumah yang lebih besar.
Meskipun peningkatan itu dapat meningkatkan kenyamanan, pengeluaran yang tidak terkendali dapat dengan cepat melampaui pendapatan sehingga sulit untuk membangun atau mempertahankan kekayaan. Seiring waktu, pola ini dapat mencegah kebebasan finansial, bahkan membuat mereka yang berpenghasilan tinggi pun, kesulitan untuk mencapai kemajuan finansial.
Inflasi gaya hidup terjadi ketika penghasilan naik tidak dialokasikan untuk tujuan jangka panjang, seperti menabung, berinvestasi, atau melunasi utang, tetapi digunakan untuk mendukung gaya hidup yang semakin mahal.
Fenomena itu semakin umum terjadi di perkotaan. Para pekerja muda, yang ingin menunjukkan kesuksesan, akhirnya mengalokasikan sebagian besar pendapatan mereka untuk barang-barang konsumsi, hiburan, dan penampilan.
Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti membeli ponsel terbaru setiap tahun, berlangganan layanan streaming, sering jajan di kafe yang baru buka dan hits, hingga melakukan renovasi rumah yang berlebihan.
Biasanya, hal tersebut terjadi secara tidak sadar karena sebagian generasi muda sering menuruti self reward. Saat menerima kenaikan gaji, misalnya, kebanyakan orang justru cenderung merasa layak untuk meningkatkan standar hidupnya sebagai bentuk penghargaan atas kerja kerasnya. Meski terasa wajar dan seolah pantas dinikmati, kebiasaan ini dalam jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan kondisi keuangan seseorang.
Sementara conspicuous consumption mengacu pada kebiasaan membeli barang atau layanan mahal untuk menonjolkan status sosial. Fenomena ini telah menjadi persoalan serius di tengah masyarakat modern saat ini, terutama di kalangan generasi muda yang terpapar gaya hidup hedonistik melalui media sosial.
Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa pengaruh sosial dan kebutuhan akan pengakuan merupakan faktor utama yang mendorong seseorang tetap berbelanja meskipun kondisi ekonomi mereka tidak memungkinkan.
Tekanan untuk menjaga penampilan semakin meningkat berkat platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Tiktok, dan X (sebelumnya Twitter). Di platform-platform ini, batas antara realitas dan ilusi seringkali menjadi kabur.
Selain itu, munculnya aplikasi pinjaman digital juga semakin memicu budaya ini. Dengan beberapa klik, seseorang dapat mengakses kredit instan dari berbagai platform. Meskipun berbagai platform ini awalnya dirancang untuk meningkatkan inklusi keuangan, hal itu acapkali disalahgunakan untuk konsumsi daripada untuk keadaan darurat atau usaha produktif. Tidak sedikit generasi muda meminjam uang untuk pembelian impulsif atau gadget terbaru.
Akibatnya, kondisi ini bisa menimbulkan siklus ketergantungan, stres, dan penurunan kesehatan finansial, yang sangat berbeda dari kehidupan nyaman yang mereka idamkan. Tren ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga menguras energi psikologis.
Inflasi gaya hidup sebenarnya berkaitan erat dengan kesehatan finansial. Pasalnya, peningkatan pengeluaran yang tidak terkontrol seiring kenaikan pendapatan dapat merusak stabilitas keuangan untuk jangka panjang. Kesehatan finansial adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan seseorang.
Menurut laman Investopedia, indikator sehat tidaknya keuangan seorang individu itu mencakup penghasilan yang stabil, tabungan yang cukup, dana pensiun yang bertambah, serta pengeluaran yang tetap. Kesehatan finansial yang baik setidaknya harus memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tabungan untuk menghadapi kejadian tidak terduga di masa depan.
Namun, riset OCBC 2025 menunjukkan ada penurunan kesehatan finansial masyarakat Indonesia. Berdasarkan hasil Financial Fitness Index (FFI) 2025, indeks turun 0,65 poin menjadi 40,60 dari tahun sebelumnya. Penurunan paling signifikan terjadi pada kesiapan dana darurat. Hanya 19 persen generasi muda yang memiliki cadangan keuangan jika kehilangan pekerjaan. Jumlahnya turun dari tahun 2024 lalu yang mencapai 25 persen.
Meski begitu, kebiasaan menabung masih cukup kuat. Sebanyak 89 persen responden menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung. Besaran ini turun tipis dari tahun sebelumnya yang mencapai 92 persen. Tren gaya hidup konsumtif juga mulai menurun. Sebanyak 76 persen responden mengaku masih menghabiskan uang untuk mengikuti gaya hidup lingkungan pertemananan. Meskipun demikian, jumlahnya juga kian menurun dari tahun 2024 lalu yang masih sebesar 80 persen.
Sementara itu, kepemilikan instrumen investasi kompleks seperti saham, reksa dana, atau forex meningkat dari 2 persen menjadi 4 persen, terutama di kalangan yang umumnya sudah memiliki dana darurat. Adapun 29 persen generasi muda telah menyiapkan dana pensiun, naik dari 25 persen tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan, meski skor finansial secara umum melemah, ada pergeseran positif menuju kesadaran pengelolaan keuangan untuk jangka panjang.
Dikutip dari laman Forbes, ada sejumlah dampak jika orang terjebak dengan inflasi gaya hidup. Salah satunya adalah kemungkinan kesulitan menabung karena meningkatnya penghasilan beriringan dengan meningkatnya pengeluaran. Ketika lebih banyak uang dialokasikan untuk mempertahankan gaya hidup yang lebih tinggi, lebih sedikit uang yang tersedia untuk tabungan. Hal ini dapat menimbulkan kerentanan secara finansial di saat-saat darurat dan memperlambat kemajuan menuju tujuan keuangan, yakni keamanan secara finansial.
Jika pengeluaran melebihi pendapatan, ada kemungkinan akan menggunakan kartu kredit atau pinjaman, yang menyebabkan tingkat utang yang lebih tinggi. Akumulasi utang dapat menciptakan siklus di mana terus-menerus membayar pengeluaran masa lalu dengan pendapatan masa depan, sehingga sulit untuk keluar dari siklus tersebut dan menabung untuk masa depan.
Utang atau pinjaman yang terus-menerus juga bisa menimbulkan kecemasan, memengaruhi hubungan, dan mengurangi kepercayaan diri finansial untuk jangka panjang. Hal ini bisa menunda pencapaian penting dalam hidup seperti berinvestasi, memulai bisnis, memiliki rumah, atau bahkan menabung untuk pensiun.
Inflasi gaya hidup juga bisa berdampak pada fleksibilitas keuangan yang terbatas. Biaya tetap yang tinggi dapat mengurangi kemampuan untuk menangani biaya atau peluang yang tidak terduga. Ketika sebagian besar pendapatan terikat untuk mempertahankan gaya hidup, ruang untuk fleksibilitas menjadi lebih terbatas. Hal ini dapat menjadi masalah, terutama ketika dihadapkan pada pengeluaran yang tidak terduga, seperti biaya pengobatan atau perbaikan mobil, atau ketika muncul peluang yang membutuhkan investasi keuangan.
Selain itu, inflasi gaya hidup juga dapat menunda pencapaian penting dalam keuangan, seperti membeli rumah, memulai bisnis, atau pensiun dengan nyaman. Saat mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk mempertahankan gaya hidup yang lebih mahal, maka semakin sedikit yang tersedia untuk mencapai tujuan jangka panjang ini. Penundaan ini dapat mengakibatkan hilangnya peluang dan menambah stres. Sebab, pencapaian keuangan menjadi lebih sulit diraih.
Bagaimana bisa melepaskan diri dari perangkap inflasi gaya hidup? Jawabannya terletak pada mendefinisikan kembali kesuksesan di luar sekadar tampilan materi.
Kebebasan finansial bukanlah kemampuan untuk menghabiskan lebih banyak uang, melainkan memastikan pengeluaran selaras dengan pendapatan, sehingga bisa mencegah tekanan keuangan yang tidak perlu. Dengan berpegang pada anggaran dan menghindari godaan untuk meningkatkan gaya hidup setiap kali mendapat kenaikan gaji, hal ini dapat mempertahankan kendali atas keuangan.
Merayakan kemenangan kecil, menjalani hidup sederhana, dan memprioritaskan tabungan daripada pemborosan adalah perubahan pola pikir yang penting. Karena itu, diperlukan kebiasaan untuk terus meninjau pola pengeluaran dan memprioritaskan tabungan serta investasi setiap kali menerima gaji.
Memiliki tujuan keuangan akan membantu untuk tetap berada di jalur yang benar dengan menyediakan peta jalan yang jelas untuk perjalanan keuangan. Tujuan-tujuan ini berfungsi sebagai pengingat tentang apa yang sedang diperjuangkan, baik itu membeli rumah, membiayai pendidikan anak-anak, memulai bisnis, maupun mengamankan masa pensiun yang nyaman.
Membuat anggaran dan hidup sesuai kemampuan juga sangat penting untuk menjaga kesehatan dan stabilitas keuangan. Praktik ini akan membantu mencegah penumpukan utang, menabung untuk tujuan masa depan, dan memberikan bantalan untuk pengeluaran tak terduga. Hidup sesuai kemampuan menumbuhkan disiplin keuangan, mengurangi stres, dan membangun fondasi yang aman untuk kesuksesan finansial jangka panjang.
Selain itu, ada kebutuhan mendesak akan literasi keuangan yang lebih meluas. Sekolah, universitas, dan bahkan perusahaan dapat mengintegrasikan pendidikan keuangan pribadi ke dalam program mereka. Memahami penganggaran, pengelolaan utang, tabungan, investasi, dan psikologi uang dapat memberdayakan untuk membuat pilihan yang tepat.
Akhirnya, ketenangan finansial bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa bijak menggunakannya. Dengan tujuan yang jelas, peningkatan gaya hidup bisa menjadi bagian dari rencana keuangan yang sehat, bukan hambatan tersembunyi. (Litbang Kompas)





