Infiltrasi Partai Komunis Tiongkok di Luar Negeri Picu Kewaspadaan Global, Banyak Negara Ambil Langkah Balasan

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus memperluas operasi infiltrasi di luar negeri. Belakangan ini, sejumlah kasus terkait memicu kewaspadaan tinggi dan tindakan balasan dari berbagai negara.

Pekan ini, dua warga negara Tiongkok didakwa di Australia karena diduga mewakili lembaga keamanan PKT dan secara diam-diam mengumpulkan informasi tentang sebuah kelompok keagamaan lokal. Pada waktu yang hampir bersamaan, pengadilan Jerman menjatuhkan vonis terhadap seorang kontraktor Amerika Serikat yang terbukti membocorkan rahasia militer kepada PKT, dengan hukuman penjara dua tahun delapan bulan.

Sementara itu, parlemen negara bagian Florida di Amerika Serikat juga tengah mendorong rancangan undang-undang untuk meningkatkan transparansi kebijakan serta mencegah infiltrasi kekuatan asing ke dalam pemerintahan daerah.

 “Dalam 30 tahun terakhir, kita melihat bahwa campur tangan asing sebagai ancaman keamanan nasional telah melampaui spionase tradisional, baik dari segi cakupan maupun kecepatannya,” kata Mantan pejabat Badan Intelijen Keamanan Kanada (CSIS), Dan Stanton.

Strategi Infiltrasi: Dari Data Rahasia hingga Jaringan Agen

PKT dituduh memperoleh data rahasia dengan menekan perusahaan asing, serta membangun jaringan infiltrasi di berbagai sektor luar negeri melalui individu-individu tertentu untuk mengumpulkan intelijen.

Salah satu kasus yang pernah mencuat adalah ilmuwan penyakit menular Qiu Guoxiang, yang bekerja di National Microbiology Laboratory Kanada. Pada Juli 2019 ia dibawa pergi oleh aparat intelijen, dan pada 2021 dipecat karena melanggar kebijakan Kanada.

Di Jerman, pada 11 Februari 2026, Pengadilan Koblenz menjatuhkan hukuman dua tahun delapan bulan penjara kepada kontraktor Departemen Pertahanan AS bernama Martin D. Ia dinyatakan bersalah karena secara sukarela memberikan informasi militer sensitif kepada PKT, dengan dakwaan “menyetujui melakukan spionase untuk badan intelijen asing” serta “pelanggaran kerahasiaan profesional.”

Kasus serupa juga melibatkan asisten mantan politisi sayap kanan Jerman, Guo Jian, yang dijatuhi hukuman empat tahun sembilan bulan penjara karena terlibat dalam kegiatan spionase untuk PKT.

Intervensi Politik di Kanada dan Australia

Aktivis pro-demokrasi Kanada sekaligus mantan anggota dewan kota Alberta, Shi Qing, mengungkapkan bahwa saat ia mencalonkan diri pada 2021, pihak yang diduga terkait PKT menyebarkan surat fitnah dari rumah ke rumah di desa kecil tempat ia tinggal.

Selain Shi Qing, mantan anggota parlemen Kanada Kenny Chiu serta sejumlah anggota Partai Konservatif lainnya juga dilaporkan kalah dalam pemilu setelah menjadi sasaran kampanye ujaran kebencian karena mendukung isu Hong Kong, Uyghur, dan Falun Gong.

Pada Juli 2024, Parlemen Kanada mengesahkan Undang-Undang Anti-Intervensi Asing (RUU C-70) yang mengkategorikan campur tangan asing sebagai tindak pidana, sebagai upaya pencegahan terhadap agen-agen PKT.

Australia, salah satu anggota “Five Eyes”, juga menjadi sasaran utama. Laporan Centre for Public Integrity tahun 2021 menyebutkan bahwa sejak 1999 sekitar 35% donasi politik di Australia berasal dari sumber yang tidak jelas, dengan dugaan keterlibatan agen PKT.

Contohnya, pengusaha Huang Xiangmo yang pada 2018 dicabut status residensi permanennya di Australia namun kemudian diangkat sebagai anggota Komite Pemilihan Hong Kong oleh pihak Tiongkok, serta Zheng Jiefu yang dideportasi dari Australia pada 2022.

Pada 2019, media Australia mengutip informasi dari kalangan penerbitan bahwa otoritas penyiaran Tiongkok pernah memberikan “instruksi” kepada penerbit Australia: buku yang dicetak di Tiongkok namun diterbitkan di Australia tidak boleh dicetak jika penulisnya masuk daftar hitam PKT.

Bukan hanya sektor penerbitan, kelompok keagamaan Australia yang masuk daftar hitam juga disebut menjadi sasaran penyelidikan rahasia melalui “agen luar negeri”. Pada 11 Februari, dua warga negara Tiongkok didakwa di Australia dengan tuduhan “campur tangan asing secara ceroboh”, yang dapat dikenai hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Infiltrasi ke Dunia Akademik dan Politik AS

Akademisi Australia Clive Hamilton dalam bukunya tahun 2017, Silent Invasion: China’s Influence in Australia, mengungkap infiltrasi PKT ke politik, budaya, pertanian, hingga institusi pendidikan Australia.

Hamilton menyatakan, “Apa yang dilakukan PKT di Australia, juga dilakukan di Amerika Serikat.”

Di AS, salah satu kasus yang menarik perhatian adalah Sun Wen, mantan staf Gubernur Negara Bagian New York Kathy Hochul, yang didakwa pada 2025 dengan 19 tuduhan karena berperan sebagai agen PKT sekaligus staf pejabat AS.

Laporan terbaru dari American Accountability Foundation (AAF) juga menyebut sejumlah ilmuwan Tiongkok di universitas dan laboratorium terkemuka AS menerima pendanaan dari PKT serta pernah bekerja di institusi yang masuk daftar hitam, seperti iFlytek, AVIC, dan HPSTAR.

Selain itu, agen-agen yang diduga terkait PKT juga dilaporkan membeli tanah dalam jumlah besar di sekitar pangkalan militer AS. Negara bagian Texas dan Florida kini melarang individu maupun perusahaan yang terkait PKT membeli tanah dan properti secara luas.

Pada 29 Januari tahun ini, peneliti Jamestown Foundation, Cheryl Yu, dalam sidang dengar pendapat di Florida menyebut bahwa sistem “front persatuan” PKT di luar negeri memiliki lebih dari 2.000 organisasi di AS, Kanada, Inggris, dan Jerman—hampir setengahnya berada di Amerika Serikat, dan sekitar 30 diperkirakan berada di Florida. Ia mendukung RUU “Pembatasan dan Penegakan Intervensi Asing”.

Eropa Juga Waspada

Di Eropa, Inggris disebut sebagai target utama PKT. “48 Group Club” di London yang beranggotakan tokoh politik dan bisnis memiliki hubungan erat dengan Tiongkok. Pada Oktober tahun lalu, parlemen Inggris diguncang kasus spionase. 

Dua anggota parlemen yang terseret kasus tersebut meminta Perdana Menteri Keir Starmer memasukkan PKT ke dalam kategori “pengawasan ketat” dalam program Foreign Influence Registration Scheme (FIRS), sejajar dengan Rusia dan Iran, serta menjatuhkan sanksi kepada pejabat PKT yang terlibat.

 “Anggota parlemen di Kanada, Inggris, dan di seluruh dunia kini sangat waspada terhadap taktik-taktik ini dan sudah bisa melihatnya dengan jelas. Beberapa tahun lalu, kesadaran seperti ini belum ada,” kata Dean Baxendale, kepala Optimum Publishing International. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengakuan Jujur Arman Tsarukyan soal Islam Makhachev: Hanya Dia Satu-satunya
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Ada Upaya Jatuhkan Paus, Terbongkar di Dokumen Terbaru Epstein
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Respons Geni Faruk Soal Tudingan Pilih Kasih ke Cucu
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Kemenkes Ungkap Pemecatan Piprim Sesuai Aturan Disiplin PNS
• 1 jam laludisway.id
thumb
Video: Ekspansi Elnusa 2026: Bisnis CCUS - Manfaatkan AI Sektor Migas
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.