Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mengemukakan bahwa 27,12% perusahaan fintech mengalami serangan pishing dan 82,98% menyebut fraud eksternal menjadi risiko utama sepanjang 2025.
Ketua Umum Aftech Pandu Sjahrir mengatakan hal tersebut merupakan hasil dari Annual Members Survey (AMS) AFTECH 2024–2025. Survei tersebut dinilai menunjukkan tantangan struktural yang masih perlu dihadapi dan dijawab industri fintech.
Survei itu menunjukkan bahwa sebaran pengguna fintech masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek sebesar 73,77%, sementara masyarakat berpenghasilan rendah Rp0–5 juta masih menghadapi hambatan akses layanan keuangan digital.
“Dari sisi keamanan, 27,12% perusahaan fintech melaporkan mengalami serangan phishing pada 2025 dan 82,98% menyebut fraud eksternal sebagai risiko utama,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Senin (16/2/2026).
Pandu meneruskan, survei juga menunjukkan meski 43,44% perusahaan aktif menjalankan program literasi, tetapi 59,02% pelaku industri menilai rendahnya literasi keuangan masih menjadi tantangan terbesar industri dalam mendorong inklusi.
Pria yang juga menjabat sebagai Chief Investment Officer Danantara ini menuturkan Aftech yang kini sudah berdiri 10 tahun menilai hal tersebut menjadi momentum penting untuk menggeser fokus industri dari sekadar pertumbuhan menuju kualitas, tata kelola, dan dampak.
Baca Juga
- Pandu Sjahrir Ungkap Strategi Danantara Jawab Catatan Moody's Ratings
- Pandu Sjahrir: Danantara Bidik Saham Fundamental Solid, Tidak Hanya BUMN
- Danantara 'Nimbrung' di Pertemuan BEI dan MSCI, Ini Klarifikasi Pandu Sjahrir
Menurutnya, saat ini para pelaku usaha fintech yang tergabung di Aftech berkomitmen untuk bersama sama mendorong inovasi, menjaga kepercayaan, dan menata masa depan industri fintech di Indonesia. Baginya, sepuluh tahun Aftech bukan hanya tentang perjalanan industri, tetapi tentang tanggung jawab kolektif.
“Fintech harus dimanfaatkan secara benar, aman, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM, petani, nelayan, dan pekerja sektor riil,” sebutnya.
Oleh karena itu, Pandu menegaskan fintech harus hadir sebagai enabler yang efisien dan efektif bagi pertumbuhan ekonomi dan membawa solusi, bukan malah menjadi sumber masalah.
Adapun, salah satu cara mendorong inovasi literasi keuangan digital, Aftech bersama pinjaman daring (pindar) Easycash meluncurkan Chatpindar.com. Inovasi ini memanfaatkan teknologi AI berbasis large language modeldalam format chat yang bisa digunakan masyarakat untuk menanyakan mengenai industri pinjaman daring.
“Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya konkret Aftech dalam menghadirkan edukasi keuangan yang selalu aktif, dapat diakses masyarakat, relevan, dan dekat dengan keseharian masyarakat,” ucap Pandu.
Pandu menjelaskan, Chatpindar dirancang sebagai kanal edukasi berbasis percakapan yang memungkinkan masyarakat bertanya langsung seputar pinjaman daring, termasuk topik-topik seperti cara membedakan antara platform pindar berizin dan pinjol ilegal, dampak apabila tidak membayar cicilan, maupun topik praktis terkait limit pinjaman serta tenor.
Masyarakat, imbuhnya, juga bisa menanyakan verifikasi data, keamanan data pribadi, serta detail penagihan seperti denda keterlambatan, biaya layanan, dan waktu pencairan dana.
Dia berharap bahwa Chatpindar.com diharapkan dapat digunakan untuk membantu masyarakat mengambil keputusan finansial yang lebih bijak dan aman. Namun, dia turut menegaskan inovasi itu bukan sumber referensi hukum maupun layanan pelanggan dari platform pindar.
“Ke depan, Aftech akan terus menjadi penghubung antara inovasi dan kepercayaan. Dengan literasi yang kuat, keamanan yang terjaga, dan kolaborasi lintas sektor, fintech Indonesia bisa tumbuh sehat dan memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi bangsa,” pungkasnya.





