Band rock Methosa merilis single Pulanglah. Lewat lagu ini, Methosa menjadikan single ini sebagai ruang untuk menarik napas, waktu untuk berkontemplasi, dan latar suara untuk bertanya kepada sanubari tentang ke mana dan apa sebenarnya yang menjadi tujuan kita dalam kehidupan.
Di tengah narasi besar tentang kemajuan dan kebahagiaan, ada kegelisahan yang terus hidup diam-diam di masyarakat. "Kita sering diberi gambaran bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa kita adalah bangsa yang bahagia. Namun narasi itu tak seindah realita," kata Methosa dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Senin (16/2)
Tekanan hidup, kelelahan emosional, dan rasa kalah dalam kehidupan menjadi hal yang sangat jarang orang-orang beri ruang untuk diakui.
Methosa mengatakan dalam kehidupanya, orang-orang sangat siap menyambut kemenangan tanpa menyisakan sedikitpun ruang untuk menerima kekalahan.
Ketika kalah, entah dalam karier hingga relasi, banyak orang merasa gagal dan tidak pantas. Mereka juga mempertanyakan nilai hidup.
"Di titik itu, kita sering lupa hakekat hidup yang paling sederhana: bahwa hidup bukan hanya tentang menang atau kalah, melainkan tentang menjalani dan bertahan," tutur Methosa.
Tekanan untuk selalu kuat, tuntutan agar tidak mengeluh, dan standar keberhasilan yang sempit membuat banyak orang memendam semuanya sendirian. Padahal, ada tempat untuk mengeluh. Ada rumah, ada Tuhan, ada Teman.
"Alih-alih memberi nasihat atau jawaban, lagu Pulanglah justru memilih dirinya untuk menjadi teman," ucap Methosa.
Saat dua sukma dalam diri manusia sedang berdiskusi atau mungkin berseteru, Pulanglah yang berusaha meneduhkan suasana dan menyarankan untuk mengambil waktu agar keputusan yang ditempuh di depan tidak keliru.
"Pulanglah adalah teman bagi mereka yang mau berproses, bagi siapapun yang terpuruk dalam ‘perjalanannya’, bagi setiap jiwa yang berani untuk mengakui kekalahan dan siap bangkit kembali, dan bagi insan yang tahu sebenarnya di mana ‘rumah’nya berada, karena ke sana dia akan pulang untuk bercerita, berdiskusi, atau mungkin menangis," kata Methosa.
Methosa menyampaikan harapan terkait lagu Pulanglah. Mereka berharap lagu itu bisa menjadi soundtrack bagi orang-orang untuk menikmati kekalahan dalam hidup.
"Kita pasti tahu bagaimana cara merayakan kemenangan, mari menjadi adil dengan berani merayakan dan menikmati kekalahan, dinamika ini adalah pertanda bahwa kita sedang hidup," ucap Methosa.





