SURABAYA, KOMPAS - Sejumlah bahan kebutuhan pokok di Jawa Timur terus mengalami kenaikan harga, bahkan melampaui harga eceran tertinggi. Pemicunya antara lain momen megengan dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan yang menjadi tradisi masyarakat.
Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, setidaknya ada tiga komoditas pokok yang harganya melejit, yakni cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Selain itu, minyak goreng curah dan Minyakita juga terus mengalami kenaikan.
Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim pada Senin (16/2/2026) menunjukkan harga rata-rata di 38 kabupaten/kota untuk komoditas cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras sudah melampaui harga eceran tertinggi.
Harga rata-rata cabai rawit mencapai Rp 87.000 per kilogram (kg), naik Rp 2.000 per kg dari hari sebelumnya yang sebesar Rp 85.000 per kg. Harga telur ayam ras mencapai Rp 30.000 per kg dan daging ayam ras Rp 40.000 per kg. Namun, harga eceran di sejumlah pasar biasanya lebih tinggi, terutama di kota besar seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Malang.
Di Pasar Larangan, Sidoarjo, misalnya, harga daging ayam ras mencapai Rp 42.000 per kg, telur Rp 30.000 per kg, serta cabai rawit Rp 85.000–Rp 87.000 per kg. Sementara itu, minyak goreng curah sudah mencapai Rp 18.500 per kg dan Minyakita Rp 18.000 per liter.
Musrikan (49), salah satu pedagang di Pasar Larangan, mengatakan harga telur dan daging ayam masih berpotensi naik karena tingginya permintaan seiring banyaknya kegiatan keagamaan di masyarakat, seperti perayaan Tahun Baru Imlek 2026 dan tradisi menyambut Ramadhan.
“Sejak pekan lalu hingga hari ini, bahkan sampai besok Selasa (17/2/2026), banyak yang mengadakan megengan menyambut Ramadhan,” ujar Musrikan, Senin.
Megengan berasal dari kata megeng dalam bahasa Jawa yang berarti menahan. Tradisi ini dimaknai sebagai persiapan diri memasuki puasa. Kegiatan selama megengan antara lain doa bersama, ziarah kubur, dan berbagi makanan.
Kenaikan harga bahan pokok juga terjadi di Surabaya. Di Pasar Tambakrejo, misalnya, harga daging ayam ras mencapai Rp 40.000 per kg, telur ayam ras Rp 32.000 per kg, dan cabai rawit merah Rp 85.000 per kg.
Kenaikan harga bahan kebutuhan pokok menjelang Ramadhan tersebut dikonfirmasi oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Menurut dia, harga sejumlah bahan pokok saat ini sudah di atas harga eceran tertinggi (HET) atau harga acuan pemerintah (HAP).
Harga acuan pemerintah untuk daging ayam sebesar Rp 40.000 per kg, sedangkan telur ayam ras Rp 30.000 per kg. Adapun harga acuan cabai rawit merah Rp 57.000 per kg. Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok tersebut masih berpotensi naik seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadhan.
“Yang paling dirasakan adalah cabai rawit, daging ayam, dan telur ayam. Sementara daging sapi masih stabil Rp 120.000 per kg. Gula pasir ada kenaikan Rp 500–Rp 800 per kg,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah, kenaikan harga bahan pokok saat ini dipicu oleh momen keagamaan, salah satunya kegiatan megengan yang banyak digelar di masjid dan mushala. Puncak kegiatan megengan terjadi pada Minggu (15/2/2026) dan Senin (16/2/2026).
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengakui kenaikan harga bahan pokok memberatkan masyarakat dan menggerus daya beli, terlebih kebutuhan selama Ramadhan hingga Lebaran sangat tinggi. Karena itu, Pemprov Jatim telah menyusun sejumlah langkah strategis untuk mengendalikan kenaikan harga, menjamin pasokan, sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah intervensi harga melalui operasi pasar atau pasar murah di 14 kabupaten/kota yang menjadi indikator inflasi di Jawa Timur. Program ini menawarkan bahan kebutuhan pokok dengan harga lebih rendah dari harga pasar karena mendapat subsidi dari Pemprov Jatim.
Sebagai contoh, beras premium dijual Rp 16.000 per kg dan beras SPHP Rp 55.000 per kemasan 5 kg atau Rp 11.000 per kg. Harga tersebut lebih murah dibandingkan harga beras SPHP di pasaran yang mencapai Rp 12.200 hingga Rp 12.500 per kg.
Selain itu, Pemprov Jatim memberikan perhatian khusus terhadap komoditas minyak goreng. Khofifah menyatakan akan meminta instansi terkait menambah pasokan Minyakita di pasar tradisional. Menurutnya, intervensi distribusi yang tepat sasaran serta penambahan pasokan dapat menjaga stabilitas harga dalam waktu singkat.
Untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok di tengah gejolak harga, Pemprov Jatim menyalurkan bantuan paket sembako. Bantuan ini menyasar kelompok ekonomi menengah ke bawah, seperti pengemudi ojek online (ojol), marbot, dan petugas kebersihan masjid.
Pada Minggu (16/2/2026), misalnya, Pemprov Jatim menyalurkan 290 paket sembako. Sebanyak 140 paket disalurkan kepada ojol, marbot, dan petugas kebersihan di kawasan Pasar Tambakrejo, sedangkan 150 paket lainnya dibagikan di kawasan Masjid Al Akbar Surabaya.
Khofifah menambahkan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim melakukan pemantauan rutin terhadap perubahan harga bahan pokok setiap hari di 38 kabupaten/kota. Selain itu, Pemprov Jatim berkoordinasi dengan Satgas Pangan Jatim untuk mengawasi distribusi barang guna mencegah penimbunan dan praktik permainan harga.





