Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan Danantara dapat mencetak return on asset (ROA) sebesar 7% dalam waktu dekat. Namun, pengamat menilai target tersebut sulit dicapai.
Return on assets atau tingkat imbal hasil atas aset merupakan rasio yang mengukur kemampuan entitas menghasilkan laba bersih dari total aset yang dimilikinya.
Mengacu pemberitaan Bisnis.com sebelumnya, Danantara telah meraup laba bersih dari BUMN yang dikelolanya sebesar Rp285 triliun pada 2025. Sementara, aset Danantara telah mencapai US$900 miliar atau setara dengan Rp15.152 triliun. Artinya, ROA Danantara diasumsikan masih di angka 1,88%.
Pengamat BUMN dari NEXT Indonesia Center Herry Gunawan mengatakan bahwa upaya mencapai ROA 7% atau meningkat berkali-kali lipat dari kondisi saat ini tentu saja tidak mudah.
"Bahkan nyaris mustahil dilakukan dalam waktu dekat. Namun inti dari pernyataan Presiden, menurut saya, perlu ada upaya lebih serius dari pengelola BUMN dan Danantara untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan milik negara. Jangan hanya business as usual atau apa adanya," ujar Herry kepada Bisnis pada Senin (16/2/2026).
Oleh karena itu, menurutnya perlu dilihat juga progres Danantara. Apabila hanya nyaman di angka seperti sekarang, tentu jadi mustahil bisa meningkatkan profitabilitas.
Dia menilai terdapat setidaknya terdapat dua upaya Danantara dalam mendongkrak ROA, yakni efisiensi dan ekspansi.
"BUMN harus bekerja lebih efisien dalam mengelola asetnya. Efisiensi ini kan sebenarnya bisa dikontrol atau dikelola oleh perusahaan," kata Herry.
Sejumlah langkah efisiensi yang bisa dijalankan misalnya terkait dengan penggunaan sumber daya perusahaan termasuk biaya dan lainnya, maupun proses yang dijalankan dalam investasi. Apabila efisiensi tidak berhasil ditingkatkan, ROA akan tertahan di angka apa adanya alias asal untung.
Kinerja BUMN PerbankanKemudian, untuk sejumlah BUMN perbankan, Danantara mesti berani ekspansi penyaluran kredit. Saat ini, rata-rata rasio kredit yang disalurkan terhadap dana pihak ketiga (DPK) bank BUMN di bawah 90%, sehingga masih punya ruang untuk didorong.
Pada umumnya, menurutnya setiap perusahaan termasuk BUMN, terutama di lingkungan perbankan, sudah ada manajemen risiko untuk mengukur potensi risiko yang dapat dikelola oleh perusahaan, yakni risk appetite dan risk tolerance atau batas kerugian yang bisa dijaga dan ditolerir. Alhasil, sepanjang risikonya masih bisa ditoleransi dan masuk dalam ambang batas yang dapat dikelola perusahaan, ekspansi mesti terus didorong dengan inovasi produk atau layanan baru.
Sebelumnya, dalam agenda Indonesia Economic Outlook 2026 pada Jumat (13/2/2026), Presiden Prabowo menuntut Danantara untuk membukukan ROA sebesar 7% dalam waktu dekat.
Prabowo mengungkapkan, meski Danantara baru dibentuk pada Februari 2025, berdasarkan laporan sementara menunjukkan hasil efisiensi dan reformasi yang dilakukan sudah membuahkan capaian signifikan.
“Dalam satu tahun Anda [Danantara] bekerja, kita bentuk saudara Februari 2025, tapi Danantara sudah dapat laporan sementara hasil daripada efisiensi saudara, reformasi saudara sudah melahirkan hasil empat kali lipat dibandingkan 2024. Ini luar biasa, tapi harus terus dikejar,” ujar Prabowo.
Namun, Presiden menegaskan bahwa capaian tersebut belum menjadi titik akhir. Dia secara terbuka memasang standar kinerja yang lebih tinggi.
“Saya menuntut return on asset 7%. Lah kenapa senyum? Kepala Danantara bisa?” kata Prabowo kepada CEO Danantara Rosan P. Roeslani.
Upaya DanantaraDanantara pun telah membeberkan sejumlah strategi guna meraup ROA 7%. CIO Danantara Pandu Sjahrir menuturkan dengan ekspektasi yang lebih tinggi dari Presiden RI, maka Danantara akan fokus mengerjakan proyek-proyek dengan imbal hasil tinggi atau high return.
“Kami juga sekarang barrier-nya akan lebih tinggi lagi, standarnya dinaikin,” ujar Pandu di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, dengan target yang diberikan oleh Presiden Prabowo tersebut, maka angka tersebut menjadi target ROA yang baru. Adapun, Pandu menuturkan saat ini investasi Danantara sebesar 50% adalah untuk investasi seperti di obligasi, dan public equity.
“Yang penting kan masuk ke public equity itu kami harus perusahaan yang bagus, fundamental yang baik, valuasi yang baik, dan juga liquid. Jadi kami bisa keluar masuk,” tutur Pandu.
Target Laba 2026Sebelumnya, Danantara menargetkan laba BUMN mencapai sekitar Rp350 triliun pada 2026. Target tersebut didasarkan pada hasil transformasi dan restrukturisasi yang dijalankan Danantara dalam satu tahun terakhir.
COO Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan laba BUMN secara normalisasi sejatinya menyentuh angka Rp332 triliun pada 2025. Namun, usai melakukan penyesuaian penurunan nilai aset atau impairment sekitar Rp55 triliun, laba bersih BUMN turun ke kisaran Rp280 triliun hingga Rp285 triliun.
"Tahun 2026, kami memasukkan rencana kerja kurang lebih Rp350 triliun laba. Namun, saya tentu mengekspektasikan lebih. Jadi, sebetulnya BUMN itu memberikan kontribusi yang baik,” ujar Dony di Jakarta bulan lalu (28/1/2026).
Adapun, kinerja itu didorong oleh konsolidasi menyeluruh. Danantara diketahui tengah merombak postur BUMN melalui evaluasi fundamental bisnis, mulai dari analisis sumber pendapatan, margin EBITDA, hingga efisiensi struktur biaya.
Danantara akan menyederhanakan jumlah entitas BUMN dari total sekitar 1.000 entitas, menjadi kurang lebih 300 perusahaan. Langkah tersebut diambil guna menciptakan skala usaha yang lebih besar, efisien, dan memiliki daya saing.
Selain penyederhanaan jumlah perusahaan, restrukturisasi keuangan juga dilakukan secara selektif. Injeksi modal kini hanya diberikan kepada BUMN yang memiliki model bisnis jelas dan mampu mencatatkan kontribusi margin positif.
“Kalau kami memberikan equity injection saat perusahaannya belum sampai di titik kontribusi margin positif, itu sama saja menggarami laut,” ucap Dony.
Untuk mencapai target laba bersih Rp350 triliun pada 2026, Danantara mengandalkan rampungnya proses konsolidasi dan penurunan beban inefisiensi operasional.
Dony menambahkan bahwa peningkatan performa juga diharapkan datang dari sektor-sektor strategis seperti industri, logistik, energi, serta jasa keuangan yang selama ini menjadi kontributor utama laba negara.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





