Amukan gelombang tinggi membuat kecelakaan kapal berulang di Sulawesi Tenggara. Di perairan Bombana, KM Cahaya Intan Celebes bocor dan membuat puluhan penumpang bertahan seadanya di tengah ganas gelombang.
Gelombang tinggi menerjang perairan Teluk Bone. Sabtu (14/2/2026) pagi, KM Cahaya Intan Celebes yang membawa total 20 orang melintasi perairan ini.
Kapal yang dinahkodai Mansur (49) ini sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Bajoe, Bone, lewat tengah malam. Cuaca memang ekstrem tapi mereka tetap berangkat dengan 13 penumpang dan tujuh orang awak.
Di Teluk Bone, sekitar tiga jam dari pulau terluar Kabupaten Bombana, kapal ini alami kebocoran. Air melimpas dengan cepat. Penumpang panik. Melihat situasi itu, Mansur memerintahkan awak kapal menyedot air dengan mesin. Total empat mesin air yang digunakan.
Namun, kebocoran kapal tidak tertolong. Air terus melimpas, merendam bawang, makanan, dan berbagai bawaan penumpang lainnya. Mansur menembakkan suar pertolongan. Ia lalu memerintahkan awak kapal menyusun gabus dan barang yang bisa mengapung. Jaket penyelamat pun dibagikan.
“Di situ, dia sadar kalau kapal sudah tidak bisa diselamatkan,” kata Kapolsek Poleang Inspektur Satu M Firdaus, dihubungi dari Makassar, Senin (16/2/2026).
Seiring kapal yang kian tenggelam, penumpang dan awak loncat ke laut. Mereka berpegangan pada gabus yang telah “disulap” menjadi rakit untuk berpegangan. Gelombang tinggi membuat beberapa orang di antaranya meminum banyak air laut.
Beruntung, ada kapal pencari ikan yang melintas dekat lokasi kejadian. Mereka lalu mendekat dan memberi pertolongan. Seluruh penumpang dan awak dievakuasi dan diselamatkan. Di belakang mereka, kapal terbalik dan ditelan lautan.
Tengah hari, kapal nelayan ini tiba di Pelabuhan Boepinang, Bombana. Sebagian dibawa ke puskemas, dan sebagan lainnya langsung pulang ke rumah masing-masing.
“Mereka trauma dan ada yang minum air laut banyak. Ada satu orang penumpang yang baru pulang dari puskesmas tadi pagi,” ucap Firdaus.
Saat ini, ia melanjutkan, pihaknya fokus pada pengembalian barang penumpang. Warga yang melaut dan mendapatkan barang diarahkan untuk membawa ke Polsek. Barang tersebut lalu diserahkan ke pemilik.
KM Cahaya Intan Celebes, tambah Firdaus, memang merupakan kapal angkutan rakyat yang melayani rute Pelabuhan Bajoe di Bone menuju Pelabuhan Boepinang di Bombana. Kapal ini lebih sering mengangkut barang dan logistik dibanding penumpang.
“Kalau kenapa berlayar tengah malam itu kewenangannya ada di Syahbandar Pelabuhan Bajoe. Kami hanya menangani penumpang dan proses evakuasi, hingga temuan barang sampai saat ini,” tuturnya.
Kejadian kali ini menambah daftar panjang kecelakaan kapal di perairan Sultra. Data Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari, selama 2026 telah ada delapan kejadian kecelakaan kapal yang ditangani.
Sementara itu, pada 2025, dari total 62 kejadian yang ditangani KPP Kendari, sebanyak 30 di antaranya adalah kecelakaan kapal. Sebanyak 476 orang menjadi korban, di mana 460 orang selamat, sembilan orang meninggal, dan tujuh orang hilang.
Wahyudi, Staf Humas KPP Kendari menuturkan, kecelakaan kapal memang selalu dominan yang ditangani setiap tahun. Lokasi kejadian tersebar di perairan Buton, Wakatobi, Laut Banda, hingga Teluk Bone.
Oleh karena itu, pelayaran diharapkan terus mematuhi aturan yang ditetapkan dan menyiapkan peralatan keselamatan. Hal itu untuk mengantisipasi kecelakaan yang bisa berujung fatal dan membahayakan.





