Setiap Ramadan tiba, salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu Dika (27 tahun), karyawan swasta di Yogyakarta, adalah ngabuburit sembari berburu takjil dan menu berbuka di sejumlah pasar sore.
Salah satu yang tak pernah luput adalah pasar sore di Kampoeng Ramadan Jogokariyan.
Pasar sore di Jogokariyan menjadi salah satu daya tarik. Selain sajian menu berbuka gratis dengan tradisi piring terbang, berbagai pembicara nasional juga dihadirkan Masjid Jogokariyan.
"Selalu, setiap Ramadan pasti menyempatkan berburu takjil di pasar sore Jogokariyan. Ada ratusan pedagang soalnya. Pilihannya banyak," kata Dika, Senin (16/2).
Paling sering, Dika membeli aneka macam minuman. Biasanya dia mencicipi satu-satu.
"Dahulu kan favorit es kuwut. Pulang kerja mampir sekalian beli buat buka," katanya.
Keberadaan pasar sore juga memudahkan Lisminawati, salah seorang ibu rumah tangga. Jika bingung mau memasak menu buka apa, dia memutuskan ke pasar sore.
"Salah satunya di Jogokariyan ini. Sekalian jalan-jalan juga," kata Lis.
Biasanya dia mencari menu-menu seperti pecel. "Itu mudah buatnya tapi kan lebih simpel aja kalau beli. Lagian juga murah Rp 5 ribu dapat," katanya.
Sejarah Pasar SoreHumas Kampung Ramadan Jogokariyan, Ahmeda Edo, mengatakan pada tahun ini ada 360 pedagang yang berpartisipasi di pasar sore. Mereka mayoritas adalah warga setempat.
"Pasar sore tahun ini ada sekitar 360-an pedagang. Kalau peningkatan (jumlah) sih nggak ya karena panjang jalannya juga enggak peningkatan ya segitu-gitu aja. Ya mungkin satu dua peningkatan yang biasanya itu untuk gerbang terus sama yang punya rumah buat jualan lah paling nambahnya pun juga nggak signifikan," kata Edo.
Edo pun bercerita tentang asal usul pasar sore ini. Ini bermula dari banyak warga yang biasanya berdagang makanan pagi hari tetapi tak bisa berjualan di saat Ramadan.
"Burjo, soto itu kan makanan-makanan sarapan. Terus makanan-makanan makan siang itu kan yang kemudian terdampak sekali. Nah kemudian untuk memberikan mereka tetap apa berpenghasilan kemudian masjid membuat pasar sore agar apa agar mereka yang berjualan itu tetap mempunyai penghasilan. Kemudian terbentuklah pasar sore Kampoeng Ramadan Jogokariyan," kata Edo.
UMKM DigratiskanEdo mengatakan pedagang yang berskala UMKM digratiskan tak ada biaya untuk mendirikan stand di sini.
"Namun yang punya brand kita harus menjadi sponsorship bagian dari sponsorship. Karena ini kan event-nya panjang ya. Cost untuk event itu kan tinggi sekali lah kita bergeraknya dari para sponsor itu dan brand yang masuk itu," katanya.
Sehingga tercipta mekanisme subsidi silang." Yang UMKM kita gratisin yang mereka sudah punya brand besar yang punya permodalan besar ya harus ikut support kayak gitu subsidi silang lah," ucapnya.
Untuk menampung membludaknya pengunjung dan jemaah, masjid telah menyediakan 28 titik parkir di sekitar kampung. Per hari diperkirakan ada 5 ribu hingga 7 orang yang datang ke pasar sore.
"Tim medis dengan dokternya juga dokter dan perawat juga full 30 hari standby dari jam 3 sore sampai Isya nanti," pungkasnya.





