Pantau - Badan Pangan Nasional Bapanas mengungkapkan tingginya harga cabai rawit merah di sejumlah pasar bukan disebabkan kekurangan produksi, melainkan kendala cuaca dan keterbatasan tenaga kerja pemetik di sentra produksi.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyatakan secara nasional produksi cabai rawit masih mencukupi kebutuhan masyarakat.
Ia menjelaskan proses pemetikan terganggu akibat intensitas hujan yang tinggi sehingga distribusi tidak berjalan optimal.
Ketut mengatakan, “Produksi sebenarnya sangat cukup, tetapi masalahnya di petik. Saat hujan tinggi, tenaga kerja tidak berani memetik karena cabai akan cepat busuk”.
Selain faktor cuaca, keterbatasan tenaga kerja juga dipengaruhi periode libur nasional yang menyebabkan pasokan ke pasar induk terkoreksi meski stok di tingkat produksi masih tersedia.
Kondisi tersebut membuat distribusi cabai ke pasar induk tidak berjalan optimal sehingga harga di tingkat konsumen menjadi lebih tinggi.
Hasil sidak Bapanas di Pasar Induk Kramat Jati menunjukkan harga cabai rawit merah berada di kisaran Rp80.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan sepekan sebelumnya yang sempat mencapai Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional pada Senin mencatat harga rata-rata cabai rawit merah sebesar Rp79.950 per kilogram di pasar tradisional seluruh provinsi.
Bapanas menegaskan kenaikan harga tidak berkaitan dengan praktik penimbunan atau permainan harga oleh pelaku usaha.
Ketut menegaskan, “Sesuai arahan Kepala Bapanas, tidak boleh ada penimbunan dan tidak boleh ada kenaikan harga yang tidak wajar,".
Pengawasan akan terus dilakukan bersama Satgas Pangan Polri untuk memastikan distribusi pangan berjalan sesuai ketentuan.
Ia menambahkan, "Kami akan terus cek dan upayakan untuk melakukan beberapa hal untuk menjadi solusinya,".
Perbaikan kondisi cuaca dan kembalinya aktivitas pemetikan diharapkan dapat meningkatkan pasokan dalam dua pekan ke depan sehingga harga cabai rawit merah diperkirakan turun bertahap menjelang hari besar keagamaan nasional Imlek dan Ramadhan.



