BANDUNG, KOMPAS- Indikator Politik Indonesia mempublikasikan survei setahun kinerja Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wakil Gubernur Erwan Setiawan. Hasilnya ada perbedaan mencolok. Tingkat kepuasan terhadap kinerja Dedi mencapai 95,5 persen, sedangkan Erwan 55,3 persen.
Perbedaan tingkat kepuasan yang jomplang berdasarkan temuan survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis pada Senin (16/2/2026) di Kota Bandung, Jawa Barat.
Kegiatan yang bertajuk ”Setahun KDM dan Evaluasi Publik atas Kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat” ini menghadirkan narasumber Ketua Umum Perhimpunan Survei dan Opini Publik Indonesia (Persepi) Djayadi Hanan dan Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Firman Manan.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, survei tentang setahun kinerja Dedi dan Erwan terlaksana pada tanggal 30 Januari hingga 8 Februari 2026. Survei memiliki toleransi kesalahan kurang lebih 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Ia memaparkan, hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat Jabar yang jomplang atas kinerja gubernur yang biasa disapa KDM dan wakilnya Erwan hingga 40 persen.
Tingkat kepuasan atas setahun kinerja KDM naik bila dibandingkan dengan survei Indikator Politik pada bulan Mei 2025 lalu yang mencapai 94,7 persen.
Sementara tingkat kepuasan kinerja Erwan pada satu tahun kepemimpinan justru terus menurun bila dibandingkan dengan survei Indikator Politik pada bulan Mei 2025 lalu yang mencapai 61,3 persen.
Adapun jumlah responden yang dilibatkan dalam survei ini mencapai 800 orang di 27 kabupaten kota dengan syarat usia memiliki hak pilih. Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.
"Tingkat kepuasan terhadap Dedi sebagai Gubernur Jawa Barat masih tinggi," ungkap Burhanuddin.
Ia berpendapat, hasil ini menunjukkan Dedi dan Erwan, meskipun satu pasangan, tapi ada perbedaan persepsi tingkat kepuasan di tengah masyarakat Jabar. Selisih tingkat kepuasan Dedi dan wakilnya hingga 40 persen.
Menurut sektor wilayah, terdapat sejumlah kabupaten dan kota di Jabar dengan tingkat kepuasan atas Erwan sangat rendah. Daerah itu antara lain Kota Tasikmalaya sebesar 13,2 persen, Kota Sukabumi (14,3 persen), Kota Cirebon (15 persen) dan Kabupaten Cirebon (17,3 persen).
"Seolah-olah ada divergen atau ketidakselarasan. Dedi yang sangat diterima, sedangkan kepuasan kinerja Erwan kurang signifikan. Mudah-mudahan survei ini menjadi masukkan untuk keduanya, " harapnya.
Ketua Umum Persepi Djayadi Hanan turut menyoroti jomplangnya tingkat kepuasan masyarakat Jabar antara gubernur dan wakilnya.
Menurutnya, fenomena ini bukanlah hal baru di Indonesia. Ia merujuk pada data Kementerian Dalam Negeri tahun 2014 bahwa 95 persen dari 970 pasangan kepala daerah pecah kongsi.
"Pemicu pecah kongsi karena kepala daerah merasa wakilnya ingin menonjol dengan banyak kegiatan di tengah masyarakat. Sebaliknya wakilnya merasa tidak diberi ruang dan kesempatan untuk bekerja secara maksimal, " ucapnya.
Djayadi berpendapat, pola semacam ini kerap muncul akibat ketimpangan pembagian peran dan eksposur publik. "Kepala daerah biasanya lebih dominan dalam komunikasi dan pengambilan keputusan, sementara wakilnya kurang terlihat, " tambahnya.




