Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, menjelaskan bahwa program Makanan Bergizi Gratis (MBG) telah lebih dulu dilakukan oleh Muhammadiyah, jauh sebelum program tersebut disahkan pemerintah.
Ia mengatakan Muhammadiyah telah memulai berbagai kegiatan di sejumlah sektor, seperti pendidikan hingga perekonomian.
“Bahkan sebelum program MBG dimulai, Muhammadiyah sudah melakukan berbagai kegiatan, baik di bidang pendidikan, perekonomian, dan lain-lain,” kata Sony saat memberikan sambutan dalam peresmian SPPG di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Senin (16/2).
Sony menegaskan, program MBG bukan hanya sekadar menyediakan makanan, melainkan juga mendorong perubahan pola pikir (mindset). Ia kemudian menceritakan menu sarapan yang disiapkan ibunya saat ia masih kecil.
“Perubahan mindset bagi bangsa Indonesia. Saya ambil contoh diri saya sendiri. Saat kecil, sebelum berangkat sekolah saya dibekali nasi sangrai atau nasi goreng ditambah mi. Waktu itu saya tidak berpikir ini makanan apa, yang penting perut terisi karena ibu saya yang memasak,” ucap Sony.
“Dengan makanan seadanya waktu itu, bisa dibayangkan jika menuju 2045 anak-anak kita disiapkan sejak dini dengan makanan seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, dan vitamin. Bisa dibayangkan Indonesia pada 2045 akan menjadi seperti apa? Insyaallah,” sambungnya.
Sony menegaskan, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus memberikan pelayanan terbaik. Jika ada koreksi terhadap makanan yang disajikan, hal itu harus dijadikan bahan evaluasi ke depannya.
“Tidak boleh marah ketika ada yang datang ke SPPG untuk menyampaikan masukan terkait makanan. Itu adalah dorongan bagi kita untuk melakukan koreksi. Berikan pelayanan yang terbaik. Jika ada yang menyebut makanan beracun dan lain-lain, itu menjadi evaluasi agar relawan di sini bisa memberikan makanan yang terbaik,” pungkas Sony.




