Menerka Penyebab Susutnya Penawaran Investor di Lelang SUN Awal 2026

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Ketegangan geopolitik yang memuncak antara AS dan Iran dinilai menjadi salah satu penyebab kian lesunya permintaan pasar dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) sepanjang 2026.

Berdasarkan data DJPPR, tiga lelang SUN pertama 2026 konsisten menerima penawaran masuk (incoming bids) yang menurun. Pada lelang perdana, kendati Kemenkeu mampu menghimpun dana hingga Rp90,96 triliun, tetapi lelang selanjutnya berangsur-angsur menurun hingga pada Selasa (3/2/2026) hanya mampu menghimpun dana Rp76,58 triliun.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan realisasi lelang SUN pada awal 2025 yang menorehkan penawaran masuk yang bertumbuh hingga tiga lelang selanjutnya. Pada lelang SUN perdana 2025, pemerintah menghimpun dana Rp31,65 triliun dan cenderung tumbuh hingga Selasa (18/2/2026) menghimpun dana senilai Rp84 triliun.

Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, menilai ketegangan geopolitik yang kian memuncak telah menyurutkan minat investor asing untuk berinvestasi di Tanah Air melalui instrumen SUN.

”Kalau asing keluar, secara psikologis ini menandakan akan turun karena mereka agresif. Domestik biasanya akan mengikuti juga. Untuk penurunan kemarin, asing sempat keluar. Itu akan membuat yang domestik ikut juga,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).

Tak pelak, ketidakstabilan geopolitik turut membuat DJPPR menerbitkan lebih banyak SUN bertenor pendek. Dibandingkan dengan 2025, Surat Perbendaharaan Negara (SPN) biasanya diterbitkan sebanyak 2 kali dan bertambah menjadi 3 kali pada tahun ini.

Baca Juga : Ekonom: Fenomena Masyarakat Turun Kelas Gerus Animo SBN Ritel 2026

Serapan pasar tidak kalah besar terhadap SPN. Pada penerbitan SUN teranyar misalnya, tiga tenor SPN mendapatkan serapan pasar senilai Rp11,98 triliun, lebih besar ketimbang realisasi penyerapan senilai Rp8,56 triliun pada lelang terakhir 2025.

”Tenor pendek ini karena uncertain tadi. Jadi risikonya semakin panjang, biasanya volatilitas lebih tinggi. Potensi koreksi harga, perubahan yield juga lebih besar. Memang kebutuhan pasarnya lebih tinggi di jangka pendek karena memang kondisi sekarang tidak stabil,” tambahnya.

Sementara itu, Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai kian lesunya serapan pasar terhadap lelang SUN belakangan lebih disebabkan oleh kondisi makroekonomi dalam negeri. Fikri menyoroti ihwal defisit APBN 2025 hingga penerimaan pajak negara yang cenderung rendah.

Kondisi dalam negeri seperti ini, membuat investor meminta risk premi yang lebih terhadap surat utang terbitan negara.

”Artinya ada kekhawatiran, jangan-jangan datanya tidak sejalan. Kemampuan dari Indonesia makin lama kok makin turun. Ini yang membuat marketnya, saya pikir tidak hanya Moody’s yang minta yield yang lebih besar, tapi semua investor. Makanya permintaan terhadap SBN lebih rendah,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).

Sementara itu, realisasi penawaran lelang sukuk yang konsisten berada pada level sekitar Rp50 triliun—Rp40 triliun, dinilai lebih disebabkan oleh market niche produk syariah itu. Dengan begitu, produk ini akan secara tetap mendapatkan penawaran yang stabil dari investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kementan Perkuat Pengembangan Jagung untuk Kebutuhan Industri
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Antisipasi Tradisi Padusan, SAR Parangtritis Siagakan 100 Personel di Pantai
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Tak Ingin Rayakan Ramadan dengan Denada, Ressa Rossano Pilih Ibu Angkat: Tetap Sama Mama Ratih
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Garut Lampaui Target SPPG, Tapi Cakupan Penerima Minim
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Isi Token Listrik Rp100 Ribu Dapat Berapa kWh?
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.