Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Nusa Tenggara Timur
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bergerak cepat menangani dampak bencana angin kencang yang merusak bangunan SMPN 48 Sa Ate di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebagai langkah awal, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi NTT menurunkan tim untuk melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Kunjungan tersebut dilakukan bersama Dinas Pendidikan setempat guna memastikan kondisi fisik sekolah sekaligus memetakan kebutuhan penanganan secara menyeluruh. Sekolah berada di wilayah pegunungan dengan akses yang cukup sulit, sehingga koordinasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam proses percepatan penanganan.
Untuk memastikan hak belajar siswa tetap terpenuhi, kegiatan pembelajaran sementara dialihkan dengan menumpang di SDN Saikui, Desa Bu Utara, Kecamatan Tana Wawo. Langkah ini diambil agar proses belajar mengajar tetap berjalan meski sarana sekolah mengalami kerusakan.
Selain penanganan darurat, Kemendikdasmen juga menyiapkan rencana pemulihan jangka menengah melalui penguatan usulan revitalisasi pada tahun anggaran 2026. Berdasarkan hasil asesmen lapangan, kebutuhan yang diajukan mencakup pembangunan tiga ruang kelas belajar (RKB), satu ruang guru, satu ruang kepala sekolah, serta satu unit toilet.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan komitmen pemerintah agar tidak ada anak yang kehilangan hak pendidikan akibat bencana.
“Kami memastikan proses pembelajaran tetap berjalan meskipun dalam kondisi darurat. Negara harus hadir cepat, terutama di wilayah dengan akses terbatas. Revitalisasi akan kami kawal agar segera direalisasikan sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Gogot dalam keterangan tertulis, Senin, 16 Februari 2026.
Ia menambahkan, koordinasi dengan pemerintah daerah terus diperkuat agar pemulihan berjalan efektif dan tepat sasaran. Menurutnya, penanganan sekolah terdampak bencana tidak hanya sebatas membangun kembali gedung, tetapi juga memastikan ekosistem pembelajaran kembali aman dan berkelanjutan bagi siswa dan guru.
Kepala SMPN 48 Sa Ate, Maria Astinuli, menyampaikan apresiasi atas kunjungan tim BPMP NTT. Ia menilai kehadiran tim untuk melakukan supervisi dan verifikasi lapangan sangat berarti bagi sekolahnya.
“BPMP datang memverifikasi kondisi secara faktual terkait pemberitaan yang beredar. Hasilnya mendorong pemerintah merespons lebih cepat kebutuhan sekolah kami,”ungkap Maria.
Saat ini, SMPN 48 Sa Ate hanya memiliki dua ruang kelas dengan kondisi bangunan darurat. Sekolah tersebut menampung 52 siswa, terdiri atas 22 siswa kelas VII dan 30 siswa kelas VIII. Tenaga pendidik berjumlah 11 orang, terdiri atas satu guru berstatus PPPK dan 10 guru honorer komite.
Di tengah keterbatasan pascabencana, pihak sekolah tetap berupaya menjaga semangat belajar para siswa.
Kemendikdasmen memastikan akan terus memantau perkembangan di lapangan serta mempercepat dukungan sesuai mekanisme yang berlaku, sebagai wujud komitmen pemerintah menjamin hak pendidikan bagi seluruh anak Indonesia, termasuk di daerah terpencil dan terdampak bencana.
Editor: Redaksi TVRINews





