GenPI.co - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memangkas anggaran pendidikan dan berdampak langsung pada akses kuliah, kesejahteraan guru honorer, hingga meninggalnya anak SD di NTT.
“Rp 223 triliun anggaran pendidikan dirampas, efeknya banyak yang kehilangan kesempatan untuk mengakses pendidikan tinggi dan guru-guru honorer ditelantarkan,” kritik Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto di akun Instagram @tiyoardianto_.
Kebijakan pemerintah yang memprioritaskan MBG berdampak dengan makin banyak anak muda kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi.
Begitu pula dengan nasib guru honorer yang semakin terpinggirkan.
Di tengah keterbatasan akses pendidikan, negara justru menggelontorkan dana besar untuk MBG.
Tiyo Ardianto menyebut untuk menggratiskan kuliah seluruh mahasiswa Indonesia, baik di PTN, PTS, hingga PTKIN, hanya butuh sekitar Rp 180 triliun.
“Padahal, untuk menggratiskan seluruh mahasiswa di Indonesia (mau PTN, PTS, PTKIN) hanya butuh sekitar Rp 180 triliun,” tulis Ketua BEM UGM tersebut.
Menurut dia, kondisi ini sangat ironis mengingat ada anak SD di NTT bunuh diri karena tidak mampu membeli peralatan sekolah.
“Keputusan seorang anak di Ngada di NTT yang memilih bunuh diri karena ketiadaan perlengkapan sekolah adalah ironi yang tak boleh dianggap biasa,” tegas dia.
Tiyo mempertanyakan klaim MBG sebagai program Makan Bergizi Gratis.
“Maka, tidak layak lagi kita sebut MBG sebagai Makan Bergizi Gratis. Itu program korupsi tersistematis. Mulai sekarang, kita sebut MBG sebagai #MalingBerkedokGizi!” jelas dia.(*)
Jangan sampai ketinggalan! Kamu sudah lihat video ini ?





