Inggris, VIVA – Seiring dengan semakin dekatnya bulan Ramadan dalam kalender Islam tahun ini, sepakbola Premier League kembali menjadi sorotan bagi pecinta sepakbola Muslim di seluruh dunia. Kompetisi kasta tertinggi Liga Inggris tak hanya menawarkan persaingan intens di lapangan hijau, tetapi juga menunjukkan bagaimana pemain Muslim menjadi bagian penting dalam sejarah dan dinamika liga tersebut.
Sejak era awal Premier League musim 1992/1993, sepakbola Inggris sudah mencatatkan kehadiran Mohamed Ali Amar, yang lebih dikenal dengan nama Nayim, sebagai pemain Muslim pertama yang merumput di kompetisi tersebut bersama Nayim saat membela Tottenham Hotspur — sebuah tonggak sejarah penting bagi perwakilan umat Islam di liga elit Inggris.
Kini, lebih dari tiga dekade berlalu, ruang hijau Premier League dipenuhi oleh deretan pemain Muslim yang tak hanya aktif berkompetisi, tetapi juga menjadi bintang di klub masing-masing. Pada musim 2025/2026 saja, beberapa nama besar termasuk:
- Mohamed Salah (Liverpool), salah satu pemain paling produktif di kompetisi dan ikon besar sepakbola modern Muslim di Inggris.
- Ismaila Sarr (Crystal Palace), winger dengan kecepatan dan kreativitas tinggi.
- Yankuba Minteh (Brighton), talenta muda yang semakin banyak diperhitungkan.
Di lini tengah, nama-nama seperti Yves Bissouma (Tottenham), Abdoulaye Doucouré (Everton), Hannibal Mejbri, dan Naouirou Ahamada (Crystal Palace) turut memperkuat barisan Muslim di Liga Inggris musim ini.
Di lini pertahanan pun, banyak nama berdedikasi yang beragama Islam seperti Wesley Fofana (Chelsea), Ibrahima Konaté (Liverpool), Noussair Mazraoui (Manchester United), dan Rayan Aït‑Nouri (Wolves). Mereka tak hanya membantu klub masing-masing dalam perjuangan menggapai target musim, tetapi juga menjadi figur inspiratif bagi komunitas Muslim di Inggris dan global.
Kehadiran begitu banyak pemain Muslim di Premier League juga telah mendorong perubahan positif dalam regulasi kompetisi. Misalnya, liga dan klub kini lebih mengakomodasi kebutuhan pemain Muslim yang berpuasa saat Ramadan dengan membuat kesepakatan tertentu agar mereka dapat berbuka puasa selama pertandingan dalam kondisi yang aman bagi kesehatan atlet.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sepakbola modern bukan hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga toleransi, inklusivitas, dan penghormatan terhadap keberagaman identitas pemain di kompetisi sebesar Premier League.





