Sebagai seorang ayah sekaligus seorang linguis, saya hidup dalam ironi yang tidak pernah benar-benar saya pelajari di ruang kuliah. Di kampus, saya bisa menjelaskan teori pemerolehan bahasa, bilingualisme, language shift ataupun language contact, hingga transmisi antargenerasi dengan tenang dan sistematis. Namun di rumah, ketika berhadapan dengan anak saya sendiri, semua teori itu terasa lebih rapuh dari yang saya kira.
Anak saya kini berusia enam tahun. Bahasa pertamanya adalah bahasa Inggris, sebuah keputusan yang tidak pernah saya rencanakan dari awal, tetapi terjadi begitu saja. Sejak bayi ia banyak terpapar video berbahasa Inggris, dan saya serta istri cukup fasih menggunakannya dalam keseharian. Sehingga, di tengah kesibukan kerja, tanpa kami sadari, bahasa Inggris telah menjadi bahasa ibunya.
Ketika usianya empat tahun, ia dan istri menyusul saya ke Hungaria saat saya melanjutkan studi doktoral di University of Szeged. Di taman kanak-kanak, ia mulai mengenal bahasa Hungaria. Ia bisa berhitung, mengenali instruksi dasar, dan bertahan dalam interaksi sederhana. Namun karena beberapa gurunya serta teman-temannya bisa berbahasa Inggris, ia memiliki “jalur aman” untuk tidak sepenuhnya tenggelam dalam bahasa baru itu. Perkembangannya ada, tetapi tidak melesat.
Awalnya menurut kami ini baik-baik saja, tetapi semua berubah ketika ia masuk sekolah dasar negeri di Hungaria. Di sana, bahasa pengantar sepenuhnya Hungaria. Tidak ada kompromi. Bukan sekolah internasional, tapi sebenarnya bilingual tapi memang untuk anak kelas 1 masih 80% Hungaria dan 20% Inggris, sebuah sistem yang memang dirancang untuk anak-anak lokal. Bahasa Inggris hanya digunakan di mata pelajaran bahasa Inggris, sedang untuk pelajaran lain semua dengan bahasa Hungaria. Setiap pagi ia berangkat pukul tujuh, pulang sekitar pukul empat sore. Ia belajar membaca, menulis, memahami instruksi, bermain dengan teman, dan menangkap pelajaran semuanya dalam bahasa yang bukan bahasa pertamanya.
Di rumah, saya melihat dampaknya. Ada hari-hari ketika ia pulang dengan wajah lelah yang tidak biasa. Walaupun ia tetap anak yang cerdas dalam matematika bahkan relatif unggul. Angka-angka tidak terlalu bergantung pada bahasa, dan itu menjadi ruang aman baginya. Kemampuan bahasa Hungarianya juga meningkat sedikit demi sedikit. Ia mulai memahami kalimat sederhana, mulai menjawab guru tanpa ragu. Namun proses itu mahal secara energi. Lelahnya bukan hanya fisik, tetapi juga kognitif dan emosional.
Di tengah situasi itu, saya menyimpan harapan yang mungkin terdengar indah, tetapi dalam praktiknya rumit. Saya ingin ia juga fasih berbahasa Indonesia dan bahasa Banjar, bahasa keluarga kami di Kalimantan Selatan. Saya ingin ia bisa bercakap-cakap dengan kakek neneknya tanpa penerjemah. Bercanda gurau dengan kerabatnya. Saya ingin ia memahami cerita-cerita kampung, candaan khas Banjar, dan nuansa yang tak tergantikan oleh terjemahan. Saya ingin ia berakar sekaligus bersayap.
Namun setiap kali saya mencoba mengajarinya bahasa Indonesia atau Banjar, responsnya sering sama “Enough, daddy.” “Stop, daddy.” “That's boring, daddy.” Kadang disertai wajah kesal. Pada satu titik saya tersadar, bagi dia, bahasa Indonesia dan Banjar bukan bahasa nostalgia. Itu bahasa asing. Tidak ada kebutuhan mendesak, tidak ada teman sebaya yang menggunakannya, tidak ada urgensi sosial. Ia sudah memiliki bahasa untuk bermain, untuk belajar, untuk bercanda dengan orang tua. Mengapa ia harus menambah satu atau dua lagi?
Saya mencoba membayangkan diri saya dipaksa belajar bahasa yang sama sekali asing, misalnya bahasa Norwegia. Tanpa konteks atau motivasi yang jelas, tanpa kebutuhan, hanya karena alasan identitas. Bahkan sebagai orang dewasa dengan pemahaman teori bahasa sekalipun, saya mungkin akan frustrasi. Apalagi anak enam tahun yang sudah seharian “bertahan” dalam bahasa Hungaria di sekolah.
Saya tahu, motivasi anak berbeda dengan motivasi orang dewasa. Ia tidak berpikir tentang karier, tentang identitas etnis, tentang transmisi budaya. Ia hanya ingin bermain dan merasa cukup.
Saya pun pernah mencoba menyisipkan latihan bahasa Hungaria tambahan di rumah agar ia lebih cepat mengejar ketertinggalan. Responsnya sama yakni resistensi. Di titik itu saya mulai bertanya pada diri sendiri, apakah rumah sedang berubah menjadi perpanjangan ruang kelas? Apakah saya tanpa sadar menjadikan bahasa sebagai proyek, bukan sebagai relasi?
Sebagai peneliti, saya tahu bahwa pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh konteks emosional. Bahasa tumbuh dalam rasa aman, bukan dalam tekanan. Namun sebagai ayah, saya tetap dihantui rasa bersalah. Apakah saya sedang memutus rantai legacy bahasa Banjar dalam keluarga? Apakah suatu hari ia akan merasa asing di kampung halamannya sendiri? Saya membayangkan skenario terburuk, kembali ke Indonesia, masuk sekolah negeri, kesulitan berkomunikasi, mungkin bahkan diolok-olok karena “tidak seperti yang lain.” Saya tahu itu mungkin overthinking. Tetapi kecemasan orang tua sering kali adalah cinta yang tidak menemukan tempat untuk diam.
Di sisi lain, saya juga melihat realitas global. Banyak anak diaspora tumbuh dengan kompetensi bahasa yang tidak seimbang, tetapi tetap memiliki identitas yang kuat. Bahasa memang simbol penting, tetapi bukan satu-satunya penanda keterhubungan. Kunjungan ke tanah asal, cerita keluarga sebelum tidur, panggilan video dengan kakek-nenek, rasa bangga terhadap asal-usul, semua itu juga membangun akar.
Rencana saya untuk mencari peluang pascadoktoral dan memperpanjang masa tinggal di luar negeri sering saya rasionalisasi sebagai strategi akademik. Namun jujur saja, ada dimensi keayahannya. Lingkungan multikultural memberi ruang bagi anak-anak seperti dia, anak yang “di antara.” Di sana, menjadi multibahasa bukan keanehan, melainkan norma. Tetapi saya juga sadar, saya tidak boleh menjadikan mobilitas global sebagai pelarian dari kecemasan personal. Masa depan anak tidak bisa sepenuhnya didesain seperti proposal riset.
Pada akhirnya, saya mulai melihat bahwa dilema ini bukan semata tentang bahasa. Ini tentang keseimbangan antara ekspektasi dan kebahagiaan. Saya ingin ia memiliki modal linguistik yang kaya seperti Inggris, Hungaria, Indonesia, Banjar. Namun saya lebih ingin ia memiliki rasa aman, percaya diri, dan kenangan masa kecil yang hangat. Jika setelah seharian berjuang memahami pelajaran dalam bahasa Hungaria ia hanya ingin bermain Lego atau menonton kartun, mungkin itu bukan kemunduran. Mungkin itu kebutuhan.
“Bahasa bisa dikejar. Masa kanak-kanak tidak bisa diulang.”
Sebagai ayah, saya masih khawatir. Saya masih merencanakan. Saya masih bermimpi tentang anak yang fasih berbicara dengan kakek neneknya dalam bahasa Banjar. Tetapi saya juga sedang belajar bahwa mencintai anak berarti menerima ritmenya, bukan hanya memaksakan agenda kita. Identitas, seperti bahasa, tidak selalu tumbuh lewat instruksi. Ia sering lahir pelan-pelan dari rasa diterima, dari dialog hangat, dari rumah yang tidak menuntut terlalu banyak.
Dan mungkin, di situlah akar yang paling kuat sebenarnya tumbuh.
For our son, we always love you!





