Kemampuan Manusia yang Tidak Bisa Ditiru Robot Tercanggih di Dunia

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Buku Robot Proof karya Joseph E. Aoun belakangan ini menjadi teman belajar saya untuk menganalisis apa saja yang bisa dipersiapkan untuk menghadapi masifnya penggunaan robot di ranah profesional. Joseph menjelaskan bahwa menurut situs jejaring populer Linkedln, setiap satu dari sepuluh keterampilan yang diinginkan planet ini khususnya dalam dunia kerja adalah keterampilan teknologi.

Tidak bisa dielak bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan adanya teknologi yang semakin terintegrasi hampir di setiap industri. Faktanya, teknologi tidak bisa menyediakan pekerjaan untuk semua orang. Bahkan jika pekerjaan di bidang teknologi tersedia untuk semua orang yang kompeten di bidang teknologi, kemajuan robot, mesin canggih, atau kecerdasan buatan menunjukkan bahwa pada akhirnya teknologi itu sendiri yang akan menjadi kandidat terbaik untuk banyak pekerjaan.

Jika teknologi dapat menggantikan manusia dalam pekerjaan, maka itu akan terjadi. Dalam buku Rise of the Robots: Technology and the Threat of a Jobless Future, Martin Ford melukiskan gambaran meyakinkan bahwa teknologi akan menyapu bersih pekerjaan kerah putih. Meskipun demikian, teknologi juga akan melahirkan industri baru yang membawa pekerjaan dengan nuansa baru.

Jurnalis New York, Ryan Avent, juga memaparkan gagasan bahwa teknologi baru akan menciptakan pekerjaan baru yang sering kali menguntungkan mereka yang kurang terampil. Tetapi, bagaimanapun hal itu tetap tidak bisa menjadi lapangan pekerjaan yang menjanjikan untuk menyelesaikan masalah kelimpahan tenaga kerja.

Terlepas dari munculnya pekerjaan yang tidak terduga, kolaborasi dari otomatisasi, globalisasi, dan minimnya penguasaan teknologi akan terus menekan nilai tenaga kerja manusia di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Namun dalam pembahasan yang menegangkan ini, ada dua poin sakral yang tertinggal. Pertama, sebagian besar bumi masih bernilai misteri lantaran belum selesai dijelajahi. Ada banyak hal yang bisa ditemukan daripada memfokuskan pandangan kita menuju keterbatasan.

Kita memiliki bumi yang tidak ada habisnya untuk dijelajahi, daratan luas untuk terus kaji, lautan dalam untuk diselami, kuisioner yang harus diisi, tanaman unik yang harus diuji, kanvas tidak terbatas yang harus dilukis, atau musik gila yang butuh komposisi. Entah itu dari hobi yang terdengar hebat, atau pekerjaan menjanjikan yang mengikat. Mulai dari menciptakan resep masakan yang mengguncang dunia, menemukan penawar dari penyakit langka, sampai menjadi penulis buku best seller level dewa. Artinya, bahkan ketika robot membebaskan manusia dari pekerjaan yang membosankan, manusia masih memiliki tumpukan kegiatan yang harus dilakukan. Benang merah dari masalah runyam ini adalah apakah kita mencukupi syarat untuk berada di zona ini?

Poin yang selanjutnya, teknologi mampu meningkatkan standar pendidikan. Contohnya bisa dilihat dari pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi yang selalu berubah karena terus disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Ini memang logis. Jika pekerjaan di masa depan menuntut banyak hal maka kita juga harus menuntut sebanyak itu dari pendidikan yang kita peroleh.

Pendidikan tidak bisa jika hanya menyediakan pemahaman tentang bagaimana teknologi itu bekerja. Pendidikan hari ini, harus memberi tahu apa kelemahan teknologi dan apa yang bisa dimaksimalkan manusia untuk mengimbanginya setidaknya untuk saat ini dan mungkin seterusnya. Dengan kata lain, harus ada pendidikan yang memiliki ketahanan terhadap robot dan melestarikan pengetahuan tentang apa saja titik unik manusia yang tidak tergantikan oleh robot.

Salah satu kapasitas manusia yang paling sulit dipahami adalah kemampuan manusia untuk berkreasi. Berpikir kreatif adalah keahlian mutlak yang dimiliki semua manusia. Kemampuan ini hanya diprogram Tuhan untuk manusia dan tidak bisa digantikan oleh robot paling canggih sekalipun. Konten kreator teknologi Tanah Air, Raymond Chin, juga menyoroti masalah ini. Dalam sebuah video di kanal YouTube miliknya yang berjudul "Hati-Hati Pengangguran Karena AI", ia mengatakan bahwa orang yang tidak tergantikan oleh AI adalah orang yang berpikir kritis dan kreatif.

Robot memang memiliki kecerdasan dan kecepatan yang melebihi manusia. Namun, mereka hanya mampu menampilkan data dan fakta dari ruang-ruang informasi yang bisa diakses. Robot tidak bisa berkreasi untuk menciptakan hal baru.

Psikologi kognitif telah memberikan beragam bahan kajian yang membahas kreativitas. Pada tahun 1960-an, Paul Torrance mengembangkan serangkaian tes yang dimaksudkan untuk mengukur kreativitas seseorang. Misalkan dengan cara meminta seorang anak untuk menggambar beberapa objek di sekitar mereka untuk digabungkan menjadi sebuah kisah. Saya pribadi pernah mendapatkan tes semacam ini sewaktu masuk perguruan tinggi. Tes seperti ini memang banyak dipergunakan di lembaga pendidikan dan dalam konteks pekerjaan.

Satu konsep besar yang manjadi dasar pengujian adalah alur pikir konvergen dan divergen. Pemikiran konvergen muncul ketika seseorang berfokus pada jawaban kaku untuk menemukan satu jawaban yang disangkanya benar. Menjawab soal pilihan ganda adalah contoh praktik pemikiran konvergen. Ketika kita menggunakan pola pikir konvergen, maka yang akan dipertimbangkan adalah rumus, data, atau fakta yang jelas untuk bisa menemukan hasil pasti. Ini adalah jenis kecerdasan yang semakin dikuasai mesin dan robot canggih.

Sementara itu, kita sebagai manusia juga memiliki alur pikir divergen. Divergen adalah pola pikir yang membangkitkan kapasitas unik manusia untuk berpikir kreatif melalui aliran ide yang berlari dengan liar. Contoh dari kegiatan yang berkaitan dengan pola pikir ini adalah mengarang bebas, berlatih improvisasi dalam bermain drama, dan menggambar sketsa secara spontan. Pemikiran divergen sering dikaitkan dengan sifat suka bermain, rasa ingin tahu yang besar, kemauan untuk tampil berbeda, dan keberanian dalam mengambil risiko.

Berpikir divergen maupun konvergen, keduanya memang memiliki beberapa titik kesamaan. Keduanya membutuhkan kemampuan untuk memahami dan mengurai. Namun dalam pemikiran divergen, kepekaan tinggi sangat dibutuhkan untuk menghadapi perubahan dan menghasilkan kembali solusi yang sesuai kebutuhan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BGN Sebut MBG Dihentikan saat Libur Imlek dan Awal Ramadan, Dimulai Lagi pada 23 Febuari!
• 1 jam lalueranasional.com
thumb
Kapan Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadhan 1447 H 2026 Digelar? Ada Potensi Perbedaan Awal Puasa
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
Kemenekraf Jadikan Festival Imlek Jakarta Motor Penggerak Ekonomi Kreatif
• 8 jam lalutvrinews.com
thumb
Kronologi Rumah Jokowi Diberi Nama Tembok Ratapan Solo di Google Maps, Sang Mantan Presiden Belum Tau?
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Hasil Sidang Isbat Awal Ramadan 2026, Awal Puasa Muhammadiyah dengan Pemerintah Beda?
• 2 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.