JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi Zefanya Sara (31), nama Tionghoa bukan sesuatu yang ia ketahui sejak kecil.
Zefanya bahkan tak benar-benar ingat kapan pertama kali mengetahui nama tersebut. Seingat Zefanya, ia baru mengetahuinya saat duduk di bangku kelas 3 SMP.
Nama Tionghoanya adalah ??? atau Zh?ng M?izh?. “Zh?ng” merupakan marga dari kakeknya, sementara “M?izh?” berarti mutiara yang cantik.
“Seperti pada umumnya, nama adalah doa dari orang tua untuk anaknya. Jadi nama yang diberikan kakek saya itu yang menjadi doa dia untuk saya,” ceritanya kepada Kompas.com pada Senin (16/2/2026).
Namun, ketika pertama kali mengetahui nama itu, perasaan yang muncul di benak Zefanya justru bukan kedekatan. Ia mengaku tidak familiar meski tumbuh di lingkungan keluarga Tionghoa.
Baca juga: Kisah Lie Min Lan Tetap Pertahankan Nama Tionghoa di Tengah Tekanan Orde Baru
Pengalaman di sekolah menambah jarak emosionalnya dengan nama tersebut. Ia pernah menjadi bahan candaan teman-temannya karena pelafalan “zhu” terdengar mirip dengan kata “? (zh?)” yang berarti babi.
"Jadi candaan teman saya itu saya babi cantik. Candaan itu yang membuat saya agak enggan menyebutkan nama Tionghoa saya ke orang lain," ungkapnya.
Meski demikian, nama itu tetap menjadi bagian dari identitas keluarganya. Zefanya menyadari bahwa nama marga merupakan cikal bakal generasi keluarganya dan sarat nilai historis.
Dalam kehidupan sehari-hari, Zefanya tidak menggunakan nama Tionghoanya. Namun, ia pernah mempertimbangkan untuk memakai marga tersebut secara profesional.
Saat memulai karier di sebuah stasiun televisi daerah, atasannya sempat menyarankan agar ia menggunakan nama “Zefanya Zhang” di layar kaca. Menurut atasannya, nama itu bisa menjadi ciri khas.
“Namun setelah berbagai pertimbangan, saya akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakan marga Tionghoa saya dan memakai marga mama Indonesia saya,” ujarnya.
Bagi Zefanya, penggunaan nama Tionghoa saat ini tetap relevan, bergantung pada pilihan masing-masing individu.
Terlebih lingkungan masyarakat saat ini ia nilai lebih inklusif. Penggunaan nama Tionghoa juga dianggap bisa menambah keragaman budaya di Indonesia.
Zefanya juga melihat adanya perbedaan sikap antara generasinya dan orangtua.
Orangtua Zefanya menggunakan nama Tionghoa sebagai identitas sejak lahir dan tidak merasa keberatan. Sementara kalangan generasi muda menggunakan nama Tionghoa di kesempatan tertentu, misal acara pernikahan.





