Kisah Ratu Marie Antoinette yang Melahirkan Anak Pertama Dihadapan 200 Orang

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Saat ini, proses persalinan umumnya dilakukan di ruang tertutup dan hanya disaksikan oleh pasangan atau keluarga terdekat. Namun, sejarah mencatat terdapat kisah persalinan yang jauh berbeda dari masa kini.

Salah satu yang dikenang adalah proses persalinan Ratu Prancis pada periode 1770-1793, Marie Antoinette. Ia melahirkan anak pertamanya di hadapan 200 orang.

Hal itu dilakukan karena bagian dari tradisi kerajaan prancis yang telah ditetapkan. Peraturan tersebut ditegaskannya oleh Raja Louis XIV lewat dekrit. Isinya: memerintahkan agar para ratu dan putri kerajaan melahirkan di hadapan umum.

Bukan tanpa alasan, Raja Louis XIV ingin memastikan kalau anak kerajaan yang lahir adalah garis keturunan yang sah, serta mencegah penukaran bayi secara diam-diam.

Proses Persalinan Ratu Marie Antoinette

Pada 1778, berita tentang kelahiran anak pertama Marie memicu antusiasme banyak orang sehingga berbondong-bondong ke Istana Versailles. Sekitar 200 orang berkumpul di ruang persalinan untuk menyaksikan kelahiran bayi yang telah dinantikan selama delapan tahun pernikahan pasangan kerajaan tersebut.

Akan tetapi, antusiasme ini besar ini memicu pengalaman traumatis bagi Marie. Banyaknya orang yang memadati ruangan persalinan membuat udara menjadi panas dan pengap.

Kondisi ini membuat proses persalinannya tidak berjalan dengan lancar—sampai memakan waktu 12 jam lamanya. Setelah melahirkan, Marie pun pingsan dan mengalami kejang-kejang. Orang-orang yang menyaksikannya mengira ia telah meninggal.

Setelah satu jam, Marie akhirnya sadar dan baru mengetahui jenis kelamin anak pertamanya. Ia mendapat seorang putri yang kemudian diberi nama Marie-Therese. Banyak yang berharap bayi yang lahir adalah seorang laki-laki. Meski demikian, Marie tetap menyambut anaknya dengan penuh kegembiraan.

“Kau akan menjadi milikku; kau akan mendapatkan perhatianku sepenuhnya, akan berbagi semua kebahagiaanku, dan menghiburku dalam kesusahanku,” catatan kata Marie terhadap anak pertamanya, dikutip dari The Collector.

Proses persalinan berikutnya diadakan lebih tertutup

Momen traumatis ini membuat Raja Louis XVI mengubah peraturan untuk proses persalinan kerajaan. Pada persalinan berikutnya, saat melahirkan Louis Joseph Xavier François, Louis-Charles (Louis XVII), dan Sophie Hélène Béatrix—Marie hanya disaksikan segelintir orang. Yaitu menteri dan penasihat istana terpercaya.

Perubahan aturan ini membantu sang ratu menjalani persalinan dengan lebih tenang. Prosesnya pun disebut lebih lancar dan mudah dibandingkan saat kelahiran sebelumnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DP3APPKB Surabaya Dampingi Korban Kekerasan Anak di Lakarsantri
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Imlek 2577 Kongzili, Menag: Semoga Tahun ini Membawa Kedamaian dan Kesejahteraan
• 15 jam laludisway.id
thumb
Myanmar Usir Perwakilan Diplomatik Timor-Leste, Diberi Waktu 7 Hari Angkat Kaki
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Desainer Muda Nabila Misha Rilis Koleksi Raya The Quiet Opulence, Fuji: Aku Umur 14 Tahun Masih Main!
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Dorong Bahlil Bangun PLTN, Pakar Energi: Nuklir Kunci Ketahanan Energi dan Transisi Bersih Indonesia
• 4 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.