Nanning (ANTARA) - Saat cahaya panggung berkilau dan berganti warna, mahasiswa asal Indonesia, Yosep, melangkah ke panggung Global Spring Festival Gala 2026 dengan mengenakan busana rancangannya sendiri. Bersama mitra-mitra asal China, Yosep membawakan sebuah lagu berbahasa Mandarin, yang disambut tepuk tangan meriah penonton. Busana tersebut memadukan teknik seni gunting kertas China dengan motif tradisional Indonesia, dan tampil memukau di bawah sorotan lampu saat diperagakan para model.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. Program ini diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa, termasuk Inggris, Vietnam, Indonesia, Laos, serta ditayangkan di stasiun televisi di banyak negara ASEAN. Di media sosial internasional, cuplikan-cuplikan menarik dari acara gala tersebut tersebar luas.
"Di China, saya setiap hari merasakan bagaimana dua budaya saling berpadu dan saling memperkaya. Semoga ikatan penuh semangat ini terus bersinar, dan kita dapat bergandengan tangan menyongsong masa depan yang lebih cerah," ujar Yosep.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)
Sebagai ibu kota provinsi China yang paling dekat dengan negara-negara ASEAN, Nanning di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi telah menjadi garda depan dan pusat keterbukaan serta kerja sama China-ASEAN. Selama bertahun-tahun, sebuah pesta budaya lintas negara untuk merayakan Tahun Baru Imlek digelar secara rutin.
Dari siaran acara gala pertama yang terhubung melalui satelit antara China dan Vietnam pada 2007 hingga kini mencakup seluruh ASEAN dan melibatkan puluhan media global, acara gala yang berakar pada persahabatan China-ASEAN ini secara bertahap membangun jembatan budaya antarmasyarakat, membawa semarak tahun baru melintasi gunung dan lautan, serta menumbuhkan ikatan emosional yang mendalam.
Pada malam Tahun Baru Imlek 2007, Nanning dan Vietnam menggelar siaran langsung lintas negara pertama mereka melalui satelit untuk acara gala Festival Musim Semi. Di layar, Menara Genderang etnis Zhuang tampil berdampingan dengan arsitektur bergaya Prancis.
"Saat itu, kondisi siaran langsung masih terbatas. Kadang-kadang terlihat mikrofon atau properti panggung di sisi Vietnam, dan peralatan kami sendiri juga cukup sederhana," kenang pembawa acara Xia Ying, yang menyaksikan langsung lahirnya acara gala tersebut.
"Namun, hal itu tidak mengurangi semangat kreatif semua orang. Semua merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang tulus, memperlakukan acara gala perdana tersebut sebagai sebuah karya besar, layaknya peluncuran roket, dengan kesungguhan dan penuh harapan," katanya.
Di atas panggung, musisi China dan seorang gadis asal Laos bersama-sama membawakan melodi Lusheng, alat musik tradisional China. Motif-motif seni gunting kertas jendela (window paper-cut) berbasis teknologi AR bermunculan di layar, barongsai virtual tampil berdampingan dengan para penampil robot "smart puppy", sementara sebuah kuda berteknologi tinggi berlari melintasi adegan bertabur bintang yang menampilkan kaum muda dari berbagai negara. Di balik pertunjukan yang semarak dan penuh semangat muda tersebut, tersimpan kisah tentang sebuah jembatan budaya.
China dan negara-negara ASEAN memiliki kedekatan budaya yang erat. Tahun ini menandai 35 tahun terjalinnya hubungan dialog China-ASEAN serta lima tahun kemitraan strategis komprehensif China-ASEAN. Pada 2004, Nanning ditetapkan sebagai kota penyelenggara tetap untuk ajang China-ASEAN Expo.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)
Pada malam Tahun Baru Imlek 2007, Nanning dan Vietnam menggelar siaran langsung lintas negara pertama mereka melalui satelit untuk acara gala Festival Musim Semi. Di layar, Menara Genderang etnis Zhuang tampil berdampingan dengan arsitektur bergaya Prancis.
"Saat itu, kondisi siaran langsung masih terbatas. Kadang-kadang terlihat mikrofon atau properti panggung di sisi Vietnam, dan peralatan kami sendiri juga cukup sederhana," kenang pembawa acara Xia Ying, yang menyaksikan langsung lahirnya acara gala tersebut.
"Namun, hal itu tidak mengurangi semangat kreatif semua orang. Semua merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang tulus, memperlakukan acara gala perdana tersebut sebagai sebuah karya besar, layaknya peluncuran roket, dengan kesungguhan dan penuh harapan," katanya. Warga Nanning sekaligus penonton setia, Zhang Weilan, mengatakan bahwa melalui acara gala tersebut, dia dapat menyaksikan tarian tradisional yang memukau serta musik etnik yang indah dari negara-negara ASEAN, yang menampilkan pesona keberagaman budaya.
Dalam dua dekade terakhir, acara gala Musim Semi telah berkembang menjadi merek penting bagi pertukaran budaya China-ASEAN.
Peneliti di Guangxi Minzu University, Jiang Chenxian, mengatakan bahwa China dan negara-negara ASEAN berbagi ikatan emosional melalui budaya Festival Musim Semi. Mulai dari menempelkan kuplet tahun baru, menikmati jamuan makan dalam reuni keluarga, hingga melepas tahun lama dan menyambut tahun baru dengan doa harapan-harapan akan kemakmuran, tradisi-tradisi tersebut menimbulkan resonansi kuat di antara para negara tetangga yang terpisah oleh gunung dan lautan.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)
Warga Nanning sekaligus penonton setia, Zhang Weilan, mengatakan bahwa melalui acara gala tersebut, dia dapat menyaksikan tarian tradisional yang memukau serta musik etnik yang indah dari negara-negara ASEAN, yang menampilkan pesona keberagaman budaya.
"Selamat Tahun Baru. Semoga beruntung di Tahun Kuda." Norodom Jenna, anggota keluarga kerajaan Kamboja, tampil mengenakan sampot emas dan anting bola sulam etnis Zhuang saat merekam video musik untuk acara gala tersebut. Dikenal sebagai "Princess Jenna" di kalangan penggemarnya di China, Norodom Jenna mengatakan bahwa China adalah negara yang kaya akan sejarah dan vitalitas. Dirinya mengungkapkan kecintaannya pada budaya tradisional dan kuliner China, serta berharap pertukaran budaya dapat membantu lebih banyak kaum muda Kamboja memahami China.
Kini, bentuk pertunjukan acara gala telah berkembang dari sekadar lagu dan tarian menjadi musik instrumental, akrobatik, seni bela diri, serta pementasan cerita. Para partisipan tidak lagi terbatas pada artis-artis profesional, tetapi juga mencakup kaum muda, seniman rakyat, dan duta pertukaran budaya dari berbagai negara. Dengan ciri semakin dipimpin oleh Generation Z, acara gala tersebut memadukan elemen tren seperti interaksi influencer, eksplorasi budaya lintas perbatasan, serta tari jalanan yang menginterpretasikan warisan budaya takbenda.
Menurut sutradara Wang Zhu, acara gala tahun ini melampaui pola keterhubungan sederhana sebelumnya. Selain venue utama di Nanning, venue pendukung (sub-venue) juga didirikan di Vietnam, Indonesia, Laos, dan Thailand. Penyelenggaraan acara gala bersama, pertunjukan hasil kolaborasi, serta acara-acara budaya yang digelar dalam waktu singkat untuk Festival Musim Semi menambah lapisan baru sekaligus meningkatkan interaktivitas dalam pertukaran budaya.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)
"Selamat Tahun Baru. Semoga beruntung di Tahun Kuda." Norodom Jenna, anggota keluarga kerajaan Kamboja, tampil mengenakan sampot emas dan anting bola sulam etnis Zhuang saat merekam video musik untuk acara gala tersebut. Dikenal sebagai "Princess Jenna" di kalangan penggemarnya di China, Norodom Jenna mengatakan bahwa China adalah negara yang kaya akan sejarah dan vitalitas.
Dirinya mengungkapkan kecintaannya pada budaya tradisional dan kuliner China, serta berharap pertukaran budaya dapat membantu lebih banyak kaum muda Kamboja memahami China. Lei Xiaohua, wakil direktur Institut Studi Asia Tenggara di Akademi Ilmu Sosial Guangxi, menilai bahwa acara gala Festival Musim Semi lintas perbatasan telah berkembang menjadi platform yang berjenama dan melembaga.
Hal ini menjadi contoh nyata pendalaman pertukaran dan kerja sama budaya antara China dan negara-negara ASEAN, yang tidak hanya meningkatkan rasa saling pengertian dan persahabatan antarmasyarakat, tetapi juga mendorong kerja sama budaya regional serta konektivitas antarmanusia, sekaligus berkontribusi pada pembangunan komunitas China-ASEAN yang lebih erat dengan masa depan bersama.
Wakil Ketua Asosiasi Persahabatan Vietnam-China Nguyen Vinh Quang mengatakan hubungan antarnegara berakar pada kedekatan antarmasyarakat, dan pertukaran di kalangan kaum muda menjadi sangat penting. "Pertukaran semacam ini memungkinkan kedua belah pihak berdiri bahu-membahu dan bersama-sama berkontribusi pada kerja sama di berbagai bidang. Semakin sering interaksi kaum muda, semakin dalam pula rasa saling pengertian," ujarnya.
Lei Xiaohua, wakil direktur Institut Studi Asia Tenggara di Akademi Ilmu Sosial Guangxi, menilai bahwa acara gala Festival Musim Semi lintas perbatasan telah berkembang menjadi platform yang berjenama dan melembaga.
Hal ini menjadi contoh nyata pendalaman pertukaran dan kerja sama budaya antara China dan negara-negara ASEAN, yang tidak hanya meningkatkan rasa saling pengertian dan persahabatan antarmasyarakat, tetapi juga mendorong kerja sama budaya regional serta konektivitas antarmanusia, sekaligus berkontribusi pada pembangunan komunitas China-ASEAN yang lebih erat dengan masa depan bersama.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. Program ini diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa, termasuk Inggris, Vietnam, Indonesia, Laos, serta ditayangkan di stasiun televisi di banyak negara ASEAN. Di media sosial internasional, cuplikan-cuplikan menarik dari acara gala tersebut tersebar luas.
"Di China, saya setiap hari merasakan bagaimana dua budaya saling berpadu dan saling memperkaya. Semoga ikatan penuh semangat ini terus bersinar, dan kita dapat bergandengan tangan menyongsong masa depan yang lebih cerah," ujar Yosep.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)
Sebagai ibu kota provinsi China yang paling dekat dengan negara-negara ASEAN, Nanning di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi telah menjadi garda depan dan pusat keterbukaan serta kerja sama China-ASEAN. Selama bertahun-tahun, sebuah pesta budaya lintas negara untuk merayakan Tahun Baru Imlek digelar secara rutin.
Dari siaran acara gala pertama yang terhubung melalui satelit antara China dan Vietnam pada 2007 hingga kini mencakup seluruh ASEAN dan melibatkan puluhan media global, acara gala yang berakar pada persahabatan China-ASEAN ini secara bertahap membangun jembatan budaya antarmasyarakat, membawa semarak tahun baru melintasi gunung dan lautan, serta menumbuhkan ikatan emosional yang mendalam.
Pada malam Tahun Baru Imlek 2007, Nanning dan Vietnam menggelar siaran langsung lintas negara pertama mereka melalui satelit untuk acara gala Festival Musim Semi. Di layar, Menara Genderang etnis Zhuang tampil berdampingan dengan arsitektur bergaya Prancis.
"Saat itu, kondisi siaran langsung masih terbatas. Kadang-kadang terlihat mikrofon atau properti panggung di sisi Vietnam, dan peralatan kami sendiri juga cukup sederhana," kenang pembawa acara Xia Ying, yang menyaksikan langsung lahirnya acara gala tersebut.
"Namun, hal itu tidak mengurangi semangat kreatif semua orang. Semua merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang tulus, memperlakukan acara gala perdana tersebut sebagai sebuah karya besar, layaknya peluncuran roket, dengan kesungguhan dan penuh harapan," katanya.
Di atas panggung, musisi China dan seorang gadis asal Laos bersama-sama membawakan melodi Lusheng, alat musik tradisional China. Motif-motif seni gunting kertas jendela (window paper-cut) berbasis teknologi AR bermunculan di layar, barongsai virtual tampil berdampingan dengan para penampil robot "smart puppy", sementara sebuah kuda berteknologi tinggi berlari melintasi adegan bertabur bintang yang menampilkan kaum muda dari berbagai negara. Di balik pertunjukan yang semarak dan penuh semangat muda tersebut, tersimpan kisah tentang sebuah jembatan budaya.
China dan negara-negara ASEAN memiliki kedekatan budaya yang erat. Tahun ini menandai 35 tahun terjalinnya hubungan dialog China-ASEAN serta lima tahun kemitraan strategis komprehensif China-ASEAN. Pada 2004, Nanning ditetapkan sebagai kota penyelenggara tetap untuk ajang China-ASEAN Expo.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)
Pada malam Tahun Baru Imlek 2007, Nanning dan Vietnam menggelar siaran langsung lintas negara pertama mereka melalui satelit untuk acara gala Festival Musim Semi. Di layar, Menara Genderang etnis Zhuang tampil berdampingan dengan arsitektur bergaya Prancis.
"Saat itu, kondisi siaran langsung masih terbatas. Kadang-kadang terlihat mikrofon atau properti panggung di sisi Vietnam, dan peralatan kami sendiri juga cukup sederhana," kenang pembawa acara Xia Ying, yang menyaksikan langsung lahirnya acara gala tersebut.
"Namun, hal itu tidak mengurangi semangat kreatif semua orang. Semua merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang tulus, memperlakukan acara gala perdana tersebut sebagai sebuah karya besar, layaknya peluncuran roket, dengan kesungguhan dan penuh harapan," katanya. Warga Nanning sekaligus penonton setia, Zhang Weilan, mengatakan bahwa melalui acara gala tersebut, dia dapat menyaksikan tarian tradisional yang memukau serta musik etnik yang indah dari negara-negara ASEAN, yang menampilkan pesona keberagaman budaya.
Dalam dua dekade terakhir, acara gala Musim Semi telah berkembang menjadi merek penting bagi pertukaran budaya China-ASEAN.
Peneliti di Guangxi Minzu University, Jiang Chenxian, mengatakan bahwa China dan negara-negara ASEAN berbagi ikatan emosional melalui budaya Festival Musim Semi. Mulai dari menempelkan kuplet tahun baru, menikmati jamuan makan dalam reuni keluarga, hingga melepas tahun lama dan menyambut tahun baru dengan doa harapan-harapan akan kemakmuran, tradisi-tradisi tersebut menimbulkan resonansi kuat di antara para negara tetangga yang terpisah oleh gunung dan lautan.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)
Warga Nanning sekaligus penonton setia, Zhang Weilan, mengatakan bahwa melalui acara gala tersebut, dia dapat menyaksikan tarian tradisional yang memukau serta musik etnik yang indah dari negara-negara ASEAN, yang menampilkan pesona keberagaman budaya.
"Selamat Tahun Baru. Semoga beruntung di Tahun Kuda." Norodom Jenna, anggota keluarga kerajaan Kamboja, tampil mengenakan sampot emas dan anting bola sulam etnis Zhuang saat merekam video musik untuk acara gala tersebut. Dikenal sebagai "Princess Jenna" di kalangan penggemarnya di China, Norodom Jenna mengatakan bahwa China adalah negara yang kaya akan sejarah dan vitalitas. Dirinya mengungkapkan kecintaannya pada budaya tradisional dan kuliner China, serta berharap pertukaran budaya dapat membantu lebih banyak kaum muda Kamboja memahami China.
Kini, bentuk pertunjukan acara gala telah berkembang dari sekadar lagu dan tarian menjadi musik instrumental, akrobatik, seni bela diri, serta pementasan cerita. Para partisipan tidak lagi terbatas pada artis-artis profesional, tetapi juga mencakup kaum muda, seniman rakyat, dan duta pertukaran budaya dari berbagai negara. Dengan ciri semakin dipimpin oleh Generation Z, acara gala tersebut memadukan elemen tren seperti interaksi influencer, eksplorasi budaya lintas perbatasan, serta tari jalanan yang menginterpretasikan warisan budaya takbenda.
Menurut sutradara Wang Zhu, acara gala tahun ini melampaui pola keterhubungan sederhana sebelumnya. Selain venue utama di Nanning, venue pendukung (sub-venue) juga didirikan di Vietnam, Indonesia, Laos, dan Thailand. Penyelenggaraan acara gala bersama, pertunjukan hasil kolaborasi, serta acara-acara budaya yang digelar dalam waktu singkat untuk Festival Musim Semi menambah lapisan baru sekaligus meningkatkan interaktivitas dalam pertukaran budaya.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)
"Selamat Tahun Baru. Semoga beruntung di Tahun Kuda." Norodom Jenna, anggota keluarga kerajaan Kamboja, tampil mengenakan sampot emas dan anting bola sulam etnis Zhuang saat merekam video musik untuk acara gala tersebut. Dikenal sebagai "Princess Jenna" di kalangan penggemarnya di China, Norodom Jenna mengatakan bahwa China adalah negara yang kaya akan sejarah dan vitalitas.
Dirinya mengungkapkan kecintaannya pada budaya tradisional dan kuliner China, serta berharap pertukaran budaya dapat membantu lebih banyak kaum muda Kamboja memahami China. Lei Xiaohua, wakil direktur Institut Studi Asia Tenggara di Akademi Ilmu Sosial Guangxi, menilai bahwa acara gala Festival Musim Semi lintas perbatasan telah berkembang menjadi platform yang berjenama dan melembaga.
Hal ini menjadi contoh nyata pendalaman pertukaran dan kerja sama budaya antara China dan negara-negara ASEAN, yang tidak hanya meningkatkan rasa saling pengertian dan persahabatan antarmasyarakat, tetapi juga mendorong kerja sama budaya regional serta konektivitas antarmanusia, sekaligus berkontribusi pada pembangunan komunitas China-ASEAN yang lebih erat dengan masa depan bersama.
Wakil Ketua Asosiasi Persahabatan Vietnam-China Nguyen Vinh Quang mengatakan hubungan antarnegara berakar pada kedekatan antarmasyarakat, dan pertukaran di kalangan kaum muda menjadi sangat penting. "Pertukaran semacam ini memungkinkan kedua belah pihak berdiri bahu-membahu dan bersama-sama berkontribusi pada kerja sama di berbagai bidang. Semakin sering interaksi kaum muda, semakin dalam pula rasa saling pengertian," ujarnya.
Lei Xiaohua, wakil direktur Institut Studi Asia Tenggara di Akademi Ilmu Sosial Guangxi, menilai bahwa acara gala Festival Musim Semi lintas perbatasan telah berkembang menjadi platform yang berjenama dan melembaga.
Hal ini menjadi contoh nyata pendalaman pertukaran dan kerja sama budaya antara China dan negara-negara ASEAN, yang tidak hanya meningkatkan rasa saling pengertian dan persahabatan antarmasyarakat, tetapi juga mendorong kerja sama budaya regional serta konektivitas antarmanusia, sekaligus berkontribusi pada pembangunan komunitas China-ASEAN yang lebih erat dengan masa depan bersama.
Menjelang malam Festival Musim Semi di Tahun Kuda, Global Spring Festival Gala 2026 di Kota Nanning, China selatan, melakukan penayangan perdana global. (Xinhua)





