Detak Toleransi yang Berdenyut Bersama Ibadah Imlek di Makassar

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Di tengah ibadah saat Imlek yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, ada pekerja dari berbagai latar belakang iman yang bekerja menyiapkan ibadah. Mereka membersihkan kelenteng hingga melayani mereka yang beribadah. Toleransi berdetak dalam keseharian dan menguar saat Imlek tiba.

Ramadhan (38) sibuk menjalankan “tugas khusus”, di Kelenteng Xian Ma, pada Selasa (17/2/2026) yang ramai. Ia tergopoh melayani para tamu yang datang beribadah di kelenteng yang terletak di Jalan Sulawesi, Makassar, ini.

Pekerja di kelenteng ini mengarahkan jemaah, menunjukkan tempat mengambil dupa, dan teknis ibadah lainnya. Ayah dua anak ini telah menghapal di luar kepala cara peribadatan di saat Imlek ini.

“Ini tahun ketujuh bekerja di sini jadi sudah hapal semuanya. Tapi, ini kali pertama perayaan Imlek berdekatan dengan bulan Ramadhan,” tuturnya.

Bekerja di kelenteng, ia menuturkan, bukan pekerjaan yang pernah dibayangkan sebelumnya. Namun, sejak masuk sebagai pekerja, ia merasakan hal yang berbeda. Toleransi dirayakan setiap hari.

Sebagai pekerja, ia bertugas membersihkan kelenteng setiap hari. Jam kerjanya dari pukul 08.00 Wita hingga sore hari. Siang hari adalah waktu istirahat sekaligus waktu shalat. Dia juga bisa tetap melakukan shalat saat sore hari.

“Toleransinya sangat terjaga. Kami delapan orang semua, empat yang Islam, dua Kristen, dan dua Budha. Tidak pernah ada masalah,” ucapnya.

Menghargai manusia

Evan (22), adalah pekerja beragama Katolik. Ia baru masuk selama setahun terakhir. Imlek kali ini adalah pertama kali ia bertugas. Meski begitu, ia menyambut perayaan tahun baru ini dengan meriah.

Sebab, untuk pertama kali ia terlibat langsung dalam persiapan hingga perayaan Imlek. Bersama pekerja lainnya mereka menginap di Kelenteng. Lilin dinyalakan dan dijaga sepanjang malam.

Tidak hanya itu, selama ini ia merasakan keberagaman yang dilakoni setiap hari. “Kita ibadah juga tidak ada masalah. Toleransinya berjalan harmonis,” tuturnya.

Berjarak sekitar 200 meter dari Kelenteng Xian Ma, Mustafa (42), juga sibuk membantu jemaat di Kelenteng Kwang Kong. Tugasnya melayani mereka yang datang beribadah, menunjukkan tempat mengambil dupa, alur ibadah, dan lain sebagainya.

Telah 19 tahun ia bekerja di kelenteng ini. Suka duka ia rasakan selama ini. Namun, setiap Imlek ia selalu merasakan kebahagiaan yang sama melihat para jemaah yang datang untuk beribadah. Belum lagi keramaian acara barongsai, dan helatan lainnya.

“Paling berkesan itu karena kita paham cara beribadah orang lain. Tapi nilainya sama dengan yang kita anut, bagaimana menghargai sesama, memanusiakan manusia,” ucap Mustafa.

Baca JugaImlek dan Perjalanan Bangsa Merawat Keberagaman
Baca JugaImlek, Bagaimana Peruntungan dan Tantangan di Tahun Kuda Api?

Pekerja lainnya, Rahim (44) menyampaikan, toleransi adalah hal yang rutin dijalankan di kelenteng ini. Waktu shalat tiba, pengurus selalu memberikan ruang. Saat Idul Fitri juga ada libur khusus untuk mereka yang merayakan.

Menurut Rahim, keberagaman tidak pernah menjadi persoalan selama ia bekerja. Justru, hal itu dirayakan dan dijalankan tanpa ada kendala. Setiap orang menghargai kepercayaan dan tradisi masing-masing.

Telur merah

Pak Ceng (66), pekerja senior di tempat ini menuturkan, sejak awal pengurus kelenteng membuka ruang yang lebar untuk semua orang. Mereka yang membutuhkan pekerjaan diberi tempat tanpa memandang latar belakang, baik agama, maupun suku.

“Semuanya terbuka dan toleransi memang diberikan ruang yang besar. Kita selalu bersilaturahmi dengan cara masing-masing,” katanya.

Imlek dan budaya Tionghoa di Makassar telah berlangsung sejak lama. Akulturasi antara budaya Bugis-Makassar dan Tionghoa bersalin rupa dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat. Dari keseharian hingga makanan.

Baca JugaMenikmati Akulturasi di Meja Makan
Baca JugaWangi Daun Jeruk Jelang Imlek di Kelenteng Xian Ma

”Dulu pembauran antara orang Tionghoa yang datang ke Makassar terjalin bagus. Dulu, saat kami Imlek, orang-orang Bugis Makassar atau warga lokal selalu membawakan buah-buah yang biasanya menjadi persembahan, bahkan bunga dan buah teratai,” kata Budayawan dan seniman Tionghoa, Muhammad David Aritanto (58) atau yang terlahir dengan nama Chen Quo Hwa.

”Sebaliknya, saat Maulid, kami membuat telur berwarna merah sebagai bentuk kegembiraan menyambut Maulid. Telur merah ini sampai sekarang tetap ada setiap Maulid dan dibuat umat Muslim,” lanjutnya (Kompas, 24 Januari 2020).

Bagi Ramadhan, Imlek adalah puncak perayaan toleransi dan keberagaman yang dilakoni setiap hari. “Di sini kita tidak hanya bilang arti dari kata toleransi, tapi dijalankan. Dan uniknya, tahun ini tahun baru Imlek berdekatan dengan Ramadhan. Semuanya saling menghormati dan menghargai,” katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BRI Super League: PSBS Kena Comeback di Markas Persita, Kahudi Singgung Penalti Debatable
• 20 jam lalubola.com
thumb
250 Ribu Massa Padati Munich, Serukan Penggulingan Rezim Iran di Tengah Konferensi Keamanan
• 23 jam laluerabaru.net
thumb
Bapenda Riau Targetkan Revisi Pergub Pajak Air Permukaan Rampung Maret 2026
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
1.919 Personel Gabungan Amankan Perayaan Imlek 2026
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Link Resmi Info GTK 2026, Begini Cara Cek Data Diri dan Tunjangan Guru
• 23 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.