Moms, film anak Pelangi di Mars resmi merilis trailer dalam konferensi pers di Jakarta belum lama ini. Di balik kisah petualangan fiksi ilmiah itu, sutradara Upie Guava menegaskan pendekatan parenting modern: orang tua perlu mengantarkan anak hidup di zamannya, bukan memaksakan cara pandang masa lalu.
Film produksi Mahakarya Pictures yang dikembangkan selama lima tahun ini mengisahkan perjalanan Pelangi, anak Indonesia yang tumbuh di Mars setelah terdampar bersama ibunya, Pratiwi.
Saat sang ibu menjalankan misi mencari mineral Zeolith Omega untuk mengatasi krisis air bersih di Bumi, Pelangi ikut terlibat dan menjadi penggerak utama cerita.
Berbeda dari banyak film anak yang menempatkan orang dewasa sebagai pusat solusi, film ini menjadikan anak sebagai subjek aktif. Pelangi digambarkan mengambil keputusan, memimpin, dan belajar menghadapi persoalan.
Upie Guava mengatakan pendekatan tersebut lahir dari refleksinya sebagai orang tua. “Tugas orang tua adalah mengantarkan anaknya hidup di zamannya,” katanya.
Ia menilai dunia yang dihadapi generasi hari ini berbeda dari masa kecil orang tua mereka, baik dari sisi tantangan maupun cara memahami realitas.
Isu krisis lingkungan dihadirkan sebagai latar, bukan ancaman yang menakutkan. Upie mengaku percaya perubahan iklim adalah persoalan nyata, namun ia memilih tidak menyampaikannya secara menggurui. “Anak-anak tidak suka digurui,” ujarnya. Karena itu, pesan menjaga bumi tidak ditempatkan di permukaan cerita, melainkan mengalir melalui petualangan dan dinamika persahabatan dengan robot-robot interaktif.
Inspirasi cerita juga lahir dari kebiasaannya mendongeng kepada anak-anaknya tanpa naskah. “Kapan cerita naik, kapan memberi ruang emosi, kapan menghadirkan humor, itu semua refleksi interaksi personal saya dengan anak,” kata Upie.
Teknologi Extended Reality (XR) dan animasi 3D yang digunakan dalam produksi berfungsi mendukung pengalaman visual, bukan menjadi pusat narasi. Produser Dendi Reynando menambahkan, “Film anak dan keluarga masih sangat terbatas. Kami ingin memberi alternatif, agar anak-anak Indonesia punya cerita mereka sendiri.”
Melalui pendekatan ini, Pelangi di Mars menghadirkan ruang dialog antara orang tua dan anak tentang masa depan, keberanian, dan rasa ingin tahu sebagai bekal menghadapi zaman mereka sendiri.





