Putri Presiden ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, ikut menyaksikan pemantauan atau rukyatul hilal menjelang penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah. Yenny menegaskan perbedaan penentuan awal puasa merupakan hal yang wajar dan perlu disikapi dengan saling menghormati.
“Yang terbaik adalah sesuai keyakinan kita masing-masing. Jadi kalau yang yakin dengan metode yang diikuti oleh para ahli-ahlinya, ahli yang diikutinya itu menunjukkan bahwa bulan Ramadan mulainya besok, silakan saja. Tetapi kalau di sini, kami yakinnya kalau sudah terlihat bulannya,” kata Yenny di Masjid KH Hasyim Asy’ari, Jakarta Barat, Selasa (17/2).
Yenny mengatakan, kunjungannya itu bertujuan untuk mempelajari metode rukyatul hilal, yakni melihat langsung kemunculan bulan sabit pertama sebagai penanda dimulainya bulan Ramadan.
“Mau belajar, mau lihat alatnya seperti apa. Yang dipakai teman-teman di sini, untuk menentukan rukyatul hilal atau bulan sabit pertama yang akan menentukan apakah bulan Ramadan akan segera dimulai atau tidak,” kata Yenny.
Berdasarkan komunikasi dengan Lembaga Falakiyah PWNU DKI Jakarta, Yenny menyebut posisi hilal masih belum memenuhi kriteria, meski hasil akhirnya tetap menunggu pembuktian secara langsung.
“Sepertinya derajatnya belum nyampe. Nah, tetapi ini kan akan dibuktikan ya, sebentar lagi akan dibuktikan apakah betul bisa tercapai konjungsinya atau ijtimanya, sehingga kemudian bulan baru memang betul-betul muncul yang menandakan bahwa, bulan Ramadan sudah mulai,” ungkap dia.
Menurut Yenny, metode rukyatul hilal menekankan pentingnya bukti visual, baik secara langsung maupun dengan bantuan teknologi.
“Jadi bulannya harus terlihat. Secara kasat mata, atau ya bisa pakai sekarang dengan alat-alat canggih, dengan teleskop dan lain sebagainya. Dengan dibantu oleh komputer ya. Nah, kalau sudah terlihat kasat mata berarti memang sudah afdhol, ini sudah bisa kita kemudian memulai bulan Ramadan,” jelas Yenny.
Yenny menekankan penentuan awal puasa sangat bergantung pada wilayah.
“Tapi kayaknya di beberapa negara Timur Tengah sudah mengumumkan awal Ramadan itu tanggal 19 [Februari]. Walaupun memang metode yang kita pakai ini tergantung wilayah. Jadi kalau misalnya kita malam ini kemudian melihat bulan, bulan baru, ya pasti kan mulai besok. Kalau belum terlihat ya 19 [Februari],” ucapnya.
Yenny menegaskan keputusan apa pun yang diambil perlu dihormati selama menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Nah insyaallah kalau sudah hilal terlihat kapan pun itu kita hormati keputusan itu. Karena dipakai juga dengan menggunakan metode yang sudah teruji ya,” ujar Yenny.
“Nah jadi itu yang akan kita lihat, karena kan memang namanya puasa bulan Ramadan, kalau Ramadannya belum muncul. Puasanya puasa bulan Sya’ban jadinya, gitu kira-kira,” lanjut dia.
Di akhir, Yenny menyampaikan pesan kepada umat Muslim yang akan menjalani ibadah puasa.
“Saya ingin mengucapkan untuk teman-teman umat Muslim se-Indonesia dan mungkin juga sedunia yang akan menjalani ibadah puasa, saya mengucapkan mohon maaf lahir batin. Semoga kita semua diampuni kesalahan kita dalam memasuki bulan Ramadan,” ungkap dia.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan momentum ini sebagai awal untuk memperbaiki diri dan memperkuat kepedulian sosial.
“Misalnya saya ingin hidup lebih sehat, mulai malam ini. Saya ingin lebih berbakti pada orang tua, mulai malam ini, niatkan. Saya ingin lebih membantu orang lain, lebih banyak sedekah dan lain sebagainya, niatkan malam ini,” pungkas dia.





