Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat memastikan hilal tidak terlihat pada pemantauan yang dilakukan di sejumlah titik rukyatul hilal, Selasa (17/2). Hasil pemantauan ini akan dilaporkan ke pemerintah pusat untuk dibahas dalam Sidang Isbat penentuan awal Ramadan.
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jawa Barat, Ali Abdul Latif, menyampaikan pemantauan dilakukan di Observatorium Al-Biruni bersama unsur pemerintah daerah, organisasi keagamaan, BMKG, Pengadilan Agama, serta Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD).
Ia menjelaskan, pada saat matahari terbenam posisi hilal berada pada ketinggian minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga minus 0 derajat 58 menit 47 detik. Kondisi tersebut membuat hilal mustahil terlihat.
“Pada sore ini kita memastikan hilal tidak terlihat. Hasil ini akan langsung kami sampaikan ke Jakarta untuk Sidang Isbat yang dipimpin Menteri Agama,” ujarnya.
Pemantauan serupa dilakukan di enam hingga tujuh titik di Jawa Barat, termasuk Pangandaran, Subang, dan Sukabumi. Dari seluruh lokasi tersebut, hasilnya sama: hilal tidak terlihat.
Menurut Ali, secara nasional terdapat sekitar 98 titik pemantauan hilal. Informasi awal menunjukkan kondisi serupa terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Ia menambahkan, hilal umumnya baru berpotensi terlihat apabila berada di atas ketinggian 3 derajat saat matahari terbenam. Sementara di Indonesia saat ini posisinya masih berada antara minus 2 derajat hingga 0 derajat.
“Dengan posisi seperti itu, kemungkinan besar hilal tidak akan terlihat,” katanya.
Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada hari Kamis, meski kepastian tetap menunggu keputusan resmi pemerintah.
“Kita menunggu Sidang Isbat. Kemungkinan Ramadan hari Kamis, tetapi kepastiannya menunggu penetapan Menteri Agama,” pungkasnya.





