REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Instrumen syariah ikut menikmati dampak turunnya imbal hasil (yield) di pasar keuangan sepanjang 2025. Penerbitan sukuk korporasi meningkat seiring biaya dana yang makin kompetitif dan kebutuhan pembiayaan yang tetap tinggi.
Data PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menunjukkan total penerbitan surat utang korporasi 2025 mencapai Rp 284,3 triliun, melonjak hampir 90 persen dibandingkan 2024. Dari jumlah itu, obligasi dan sukuk korporasi menyumbang Rp 219,1 triliun, naik 48,39 persen secara tahunan.
- KPKS: Industri Keuangan Syariah Terus Konsisten Tumbuh 8-12 Persen, Ditopang Sukuk
- Pakar Ungkap Alasan Kenapa Bank Syariah Lebih Mahal?
- Purbaya: Ekonomi Syariah Harus Jadi Arus Utama, Bukan Sekadar Label
Direktur Pemeringkatan PEFINDO, Suhindarto, menilai kondisi ini membuka ruang lebih luas bagi emiten berbasis syariah. “Imbal hasil di pasar surat utang turun lebih cepat dibandingkan suku bunga kredit. Dengan biaya dana yang lebih murah, emiten termasuk yang menerbitkan sukuk memanfaatkan momentum ini,” ujarnya dalam paparan di Jakarta, dikutip Selasa (17/2/2026).
Penurunan yield terjadi setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali sepanjang 2025. Yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun dari 7 persen pada akhir 2024 menjadi 6,07 persen pada akhir 2025. Dampaknya, rata-rata kupon surat utang tenor tiga tahun ikut melandai.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Bagi emiten syariah, situasi ini bukan sekadar soal biaya murah, tetapi juga strategi menjaga kesinambungan pembiayaan. Kebutuhan refinancing masih besar, dengan surat utang jatuh tempo 2026 diperkirakan mencapai Rp 162,72 triliun. “Kebutuhan refinancing masih tinggi. Dengan peluang suku bunga yang relatif rendah, penerbitan tetap berpotensi kuat,” kata Suhindarto.
Secara sektoral, penerbit sukuk terbesar berasal dari industri pulp dan kertas senilai Rp 12,2 triliun, diikuti pertambangan Rp 7,6 triliun dan perbankan Rp 5,3 triliun. Multifinance dan pembiayaan non-multifinance juga aktif menerbitkan instrumen syariah.
Di sisi investor, minat tetap terkonsentrasi pada peringkat tinggi. Sekitar 58 persen penerbitan 2025 berasal dari surat utang berperingkat AAA. Tren ini menunjukkan investor syariah pun cenderung memilih instrumen yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, PEFINDO memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi 2026 berada di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun. Jika suku bunga tetap rendah dan permintaan investor menguat, sukuk berpotensi kembali menjadi pilihan utama pendanaan syariah.
Bagi masyarakat, terutama investor ritel syariah, dinamika ini membuka peluang imbal hasil yang lebih kompetitif. Namun, selektivitas tetap penting. Peringkat, sektor usaha, serta prospek bisnis emiten perlu dicermati agar investasi tetap sejalan dengan prinsip kehati-hatian.




