Soal Perbedaan Awal Ramadhan, Yenny Wahid: Bukan Masalah, Hormati Saja

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Putri Presiden Gus Dur, Yenny Wahid menanggapi perbedaan penetapan awal Ramadhan yang kerap terjadi di Indonesia.

Ia menilai, perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar karena adanya metode yang berbeda dalam menentukan awal bulan Ramadhan.

“Perbedaan tidak masalah, sesuai keyakinan masing-masing, sesuai metode yang dipakai,” ujar Yenny di Masjid Raya Hasyim Asy’ari, Jakarta Barat, Selasa (17/2/2026).

Baca juga: Hasil Sidang Isbat Tentukan Awal Ramadhan 2026, Ini Jadwal Buka Puasa di Jakarta

Menurut Yenny, terdapat dua metode yang umum digunakan dalam menentukan awal Ramadhan, yakni rukyatul hilal dan hisab.

Metode rukyat dilakukan dengan melihat langsung kemunculan hilal atau bulan sabit pertama, baik secara kasat mata maupun dengan bantuan alat seperti teleskop.

Sementara itu, metode hisab menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan.

“Kalau mungkin ada yang memakai hitungan-hitungannya sendiri, hisabnya sendiri, kemudian menentukan terjadinya Ramadhan itu besok, bagi kami sih kita menghormati saja,” kata dia.

Yenny menjelaskan, pihaknya mengikuti metode rukyatul hilal dalam menentukan awal puasa.

Namun, dari metode itu, terutama di Masjid Raya Hasyim Ashari, hilal tersebut tidak terlihat sama sekali karena masih di bawah ufuk atau tiga derajat.

“Kalau sudah terlihat kasat mata, berarti memang sudah bisa kita memulai bulan Ramadhan. Kalau belum terlihat, berarti masih Syakban,” jelas dia.

Baca juga: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 di Jakarta Selama Sebulan

Namun, ia meminta perbedaan awal puasa tidak perlu menjadi polemik, karena setiap pihak memiliki dasar dan rujukan keilmuan masing-masing.

"Yang terbaik adalah sesuai keyakinan kita masing-masing. Kita hormati keputusan itu, karena dipakai juga dengan menggunakan metode yang sudah teruji," ucap dia.

Diketahui, pemerintah menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 melalui sidang isbat yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta.

Hasil sidang isbat pemerintah berbeda dengan keputusan PP Muhammadiyah yang lebih dulu menetapkan 1 Ramadhan 1447 ? pada 18 Februari 2026.

Penetapan tersebut menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Tidak serentaknya awal Ramadhan muncul dari perbedaan metodologi.

Muhammadiyah menggunakan hisab murni berbasis kalender global yang sudah ditentukan sebelumnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenekraf Jadikan Festival Imlek Jakarta Motor Penggerak Ekonomi Kreatif
• 15 jam lalutvrinews.com
thumb
Swedia Kini Pertimbangkan Ganti Mata Uang dari Krona ke Euro, Apa Sebabnya?
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Wali Kota Makassar: Penutupan THM Bentuk Komitmen Jaga Kekhusyukan Ramadan
• 13 jam laluharianfajar
thumb
Mayoritas Warga Muhammadiyah, Toleransi di DIY Sikapi Perbedaan Awal Ramadan
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cerita Foe Sempat Minder dengan Nama Tionghoa, Kini Jadi Kebanggaan
• 11 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.