Perbedaan Awal Ramadan, Ketua Umum PP Muhammadiyah: Disikapi dengan Tasamuh

bisnis.com
20 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah dengan sikap tasamuh, kecerdasan, serta kedewasaan.

Dalam pesan yang disampaikan melalui kanal YouTube Muhammadiyah Channel, Selasa (17/2/2026) malam, Haedar menegaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan bagian dari ruang ijtihad yang harus dihormati bersama.

“Maka ketika kita berbeda, jalani dengan tasamuh dan kecerdasan serta kedewasaan kita bersama,” ujarnya.

Lebih jauh, Haedar mengingatkan bahwa substansi Ramadan bukan terletak pada perbedaan awal pelaksanaan, melainkan pada tujuan utama puasa, yakni meningkatkan ketakwaan.

Menurutnya, puasa itu melahirkan outcome dan tujuan agar kita semakin bertakwa. “Hidup kita kaum muslimin, pribadi maupun kolektif, semakin dekat kepada Allah,” tuturnya.

Ketakwaan, lanjut dia, tidak hanya berdimensi hablum minallah (hubungan dengan Allah), tetapi juga harus tercermin dalam hablum minannas (hubungan dengan sesama) dan kepedulian terhadap lingkungan. 

Baca Juga

  • Dirjen Pajak Wanti-wanti Fiskus Antisipasi Lonjakan Lapor SPT saat Ramadan
  • Live Hasil Sidang Isbat 2026, 1 Ramadan 1446 H Ditetapkan 19 Februari
  • Hilal Tak Terlihat di Medan, Awal Ramadan Berpotensi Berbeda

Karena itu, Ramadan semestinya dijalani dalam suasana tenang, damai, dan penuh kematangan, tanpa terganggu hiruk-pikuk kehidupan, termasuk polemik perbedaan awal puasa.

Haedar juga mengajak umat Islam melakukan muhasabah atau refleksi diri. Ia mempertanyakan apakah Ramadan tahun ini mampu membuat umat menjadi lebih sabar, lebih berilmu, lebih banyak menebar kebaikan, serta naik derajatnya karena iman yang menopang kecerdasan.

Menjadi Umat Terbaik

Dalam konteks yang lebih luas, Haedar menekankan bahwa puasa harus menjadi jalan menjadikan umat Islam sebagai “khairu ummah” atau umat terbaik. Predikat tersebut, menurutnya, tidak hanya diukur dari aspek spiritual, tetapi juga dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, keahlian, serta akhlak di ruang publik.

“Selama kita kaum muslimin belum menjadi khairu ummah, maka kita tidak akan menjadi umat yang disegani dan memiliki martabat tinggi dibanding umat dan bangsa lain,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar puasa tidak melahirkan sikap fatalistik atau menyerah pada nasib. Sebaliknya, Ramadan justru melatih hidup efisien, hemat, dan penuh kesungguhan, yang menjadi modal kemajuan ekonomi.

Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial yang kerap memicu emosi serta konflik, Haedar menyebut puasa sebagai “kanopi sosial” yang melindungi umat dari pertikaian. 

Menurutnya, pengendalian diri tersebut harus menjadikan umat Islam sebagai penebar kejernihan, harmoni, dan kebaikan dalam kehidupan sosial kebangsaan.

Menutup pesannya, Ketum PP Muhammadiyah ini berharap Ramadan menjadi pemicu kemajuan di berbagai aspek kehidupan—spiritual, moral, sosial, ekonomi, hingga politik. 

Ia menegaskan, Ramadan harus menjadi wahana pembentukan insan dan umat berkemajuan yang mampu menjadi aktor peradaban dan menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Paula Verhoeven Beri Kode Sulit Ketemu Anak, Mantan Istri Baim Wong Singgung Izin hingga Keputusan Sepihak
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Aksi Benah-Benah Pasar Modal Menjelang Review MSCI Mei 2026
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Harga Batu Bara Acuan (HBA) Periode Kedua Februari 2026 Kompak Turun
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Rupanya Ini Hubungan Eks Kapolres Bima AKBP Didik dengan Aipda Dianita, Polwan yang Dititipi Koper Isi Narkoba
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Mensesneg: Bantuan Bencana Sumatera Jangan Tunggu Data Lengkap, Segera Eksekusi
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.