Bisnis.com, JAKARTA – Duta Besar RI untuk Jepang Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir menegaskan komitmen penguatan hubungan Indonesia-Jepang ke depan.
"Kedua negara berkomitmen dalam penguatan hubungan diplomatik dan peningkatan kerja sama di berbagai bidang strategis, termasuk pertahanan dan keamanan, ekonomi, people-to-people exchanges, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia," kata Kartini dikutip dari Antara.
Kedua negara juga sepakat untuk mengintensifkan implementasi Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-Jepang sebagai fondasi kerja sama yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.
Kartini mengatakan momentum tersebut menjadi langkah penting dalam penguatan hubungan diplomatik dan kerja sama kedua negara. Dengan berkolaborasi, lanjutnya, kedua negara diyakini dapat terus melangkah maju sebagai mitra strategis yang erat dan terpercaya.
Adapun di bidang politik dan pertahanan, Indonesia dan Jepang terus memperkuat kemitraan strategis melalui berbagai inisiatif kerja sama.
Merujuk data KBRI Tokyo, Jepang dan Indonesia secara konsisten meningkatkan kapasitas dan kerja sama bilateral guna menjaga perdamaian serta penguatan stabilitas geopolitik dan geostrategis, khususnya di kawasan Indo- Pasifik.
Baca Juga
- Profil Perusahaan asal Prancis, China dan Jepang Peserta Tender Proyek Waste to Energy Danantara
- Ekonomi Jepang Lesu Akhir 2025, Dorong Urgensi Stimulus Fiskal
- India, Jepang, dan RI Latihan Militer Trilateral di Laut Andaman
Sepanjang 2025, penguatan hubungan politik dan pertahanan Indonesia–Jepang tercermin dari meningkatnya intensitas dialog strategis serta kunjungan pejabat tinggi kedua negara.
Selain itu, di bidang investasi dan ekonomi, total Perdagangan Indonesia – Jepang mencapai US$26,74 miliar pada Januari - Oktober 2025, dengan surplus pada Indonesia senilai US$2,36 miliar.
Sementara itu, kinerja ekspor Indonesia ke Jepang mencapai US$14,55 miliar, atau mengalami sedikit penurunan 16,62% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024, sementara impor dari Jepang tercatat stabil senilai US$12,29 miliar.
Penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada pada komoditi turunan hasil tambang antara lain bat vbara (27,41%), tembaga (67,17%), dan scrap metal (98,27%). Pada 2024, ketiga komoditi tersebut berkontribusi sebesar 59% dari total nilai ekspor, sehingga berdampak cukup signifikan terhadap penurunan ekspor Indonesia ke Jepang.
Meskipun volume ekspor batu bara Indonesia ke Jepang terpantau stabil, namun turunnya harga batu bara internasional serta beberapa kebijakan hilirisasi hasil tambang di dalam negeri, turut berkontribusi pada penurunan nilai ekspor.
Di sisi lain, beberapa komoditas bernilai tambah tercatat mengalami peningkatan ekspor lebih dari 15% yaitu produk kendaraan bermotor untuk transportasi (83%), artikel perhiasan (73,11%), produk olahan ikan (30,66%), alas kaki (28,59%), spare part kendaraan bermotor (27%), apparel/pakaian dan TPT (24,07%), dan udang (19%).





