Penulis: Yudha Marutha
TVRINews, Denpasar
Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili berlangsung khidmat dan sarat nuansa budaya Bali di Griya Kongco Dwipayana, Jalan Tanah Kilap, Pemogan, Denpasar Selatan, Selasa pagi. Perayaan tahun bershio Kuda Api ini menampilkan perpaduan harmonis antara tradisi Tionghoa dan kearifan lokal Bali yang tercermin dari busana, sarana persembahyangan, hingga tata cara ritual yang dijalankan umat.
Sejak pagi hari, umat Tionghoa tampak memadati area tempat ibadah tersebut. Menariknya, banyak di antara mereka yang mengenakan pakaian adat Bali lengkap, seperti kamen dan udeng bagi laki-laki, serta kebaya bagi perempuan. Ornamen janur juga terlihat menghiasi sudut bangunan, mempertegas nuansa lokal di tengah dekorasi khas Imlek yang identik dengan warna merah dan emas.
Salah seorang warga etnis Tionghoa, I Gusti Ngurah Sunada, datang bersama keluarganya dari Singaraja, Kabupaten Buleleng, untuk merayakan Imlek di Denpasar. Ia mengaku sengaja mengenakan busana adat Bali sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa menjadi Tionghoa dan menjadi bagian dari Bali tidaklah bertentangan. Justru di sinilah kami belajar tentang harmoni,” ujarnya usai sembahyang.
Dalam prosesi persembahyangan, umat membawa sarana berupa canang yang dilengkapi aneka buah, bunga, serta kue khas Imlek seperti kue keranjang dan wajik. Perpaduan ini menjadi simbol akulturasi budaya yang telah berlangsung turun-temurun di Bali. Selain berdoa di hadapan rupang dewa dan Buddha, umat Hindu Bali juga melaksanakan persembahyangan di merajan yang berada di kompleks griya tersebut.
Komunitas Tionghoa sendiri tercatat telah hadir di Pulau Dewata sejak berabad-abad lalu melalui jalur perdagangan maritim. Interaksi yang intens dengan masyarakat lokal melahirkan berbagai bentuk akulturasi, mulai dari arsitektur tempat ibadah, tradisi kuliner, hingga penggunaan nama Bali di kalangan warga keturunan Tionghoa.
Dalam kalender Tionghoa, tahun 2577 Kongzili memasuki shio Kuda dengan elemen api yang diyakini melambangkan energi besar, transformasi dinamis, serta keberanian. Doa-doa mengenai keberkahan, kelancaran rezeki, kesehatan, dan keharmonisan keluarga pun terus dipanjatkan oleh umat dalam perayaan kali ini.
Pihak pengurus griya menyampaikan bahwa perayaan Imlek tahun ini diikuti oleh warga Tionghoa dari berbagai latar belakang agama, mulai dari Konghucu, Buddha, hingga Hindu. Hal ini mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan di tengah keberagaman identitas keagamaan dan budaya yang terus terjaga hingga kini.
Editor: Redaksi TVRINews




