Perbedaan pindar dan pinjol Ilegal yang diungkap OJK menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS pada Selasa (17/2). Selain itu, Swedia yang kini mempertimbangkan untuk ganti mata uang dari Krona ke Euro juga menjadi sorotan.
Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
OJK Ungkap Perbedaan Pindar dan Pinjol Ilegal, Masyarakat Diminta WaspadaOtoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti pentingnya masyarakat memahami perbedaan mendasar antara pinjaman daring (pindar) yang berizin dan pinjaman online (pinjol) ilegal. Pindar yang diawasi regulator memiliki ketentuan jelas terkait transparansi informasi, perlindungan konsumen, dan mekanisme pengaduan. Ini berbeda dengan pinjol ilegal yang beroperasi tanpa izin, tanpa pengawasan, dan tanpa jaminan perlindungan bagi pengguna.
Perbedaan kunci terlihat dari sejumlah aspek. Dari sisi status hukum, pindar berizin dan diawasi, sementara pinjol ilegal tidak memiliki legalitas. Dalam hal transparansi, penyelenggara pindar menjelaskan bunga, biaya, tenor, serta risiko sejak awal. Sebaliknya, pinjol ilegal kerap tidak memberikan informasi yang jelas atau bahkan berubah-ubah. Metode penawaran juga menjadi pembeda, dengan pindar umumnya melalui kanal resmi dan pinjol ilegal melalui pesan agresif.
Akses terhadap data pribadi pada layanan berizin terbatas pada kebutuhan tertentu seperti kamera, mikrofon, dan lokasi, sedangkan pinjol ilegal sering meminta akses berlebihan ke kontak atau galeri. Selain itu, praktik penagihan pada pindar mengikuti etika dan ketentuan yang berlaku, sementara pinjol ilegal sering melakukan penagihan kasar atau intimidatif. Ketentuan biaya dan bunga pada pindar juga mengikuti batas regulator, berbeda dengan pinjol ilegal yang tak punya batasan jelas sehingga berpotensi membebani pengguna.
Swedia Kini Pertimbangkan Ganti Mata Uang dari Krona ke Euro, Apa Sebabnya?Swedia kini mempertimbangkan untuk mengganti mata uang krona dengan euro, sebuah perubahan signifikan dari posisi sebelumnya yang menolak mata uang tunggal tersebut meski telah lama jadi anggota Uni Eropa. Perubahan sikap ini didorong oleh keinginan untuk integrasi yang lebih erat dengan Uni Eropa guna berlindung dari ketidakstabilan geopolitik dan memburuknya hubungan transatlantik, khususnya di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Dukungan publik terhadap adopsi euro di ekonomi terbesar kawasan Nordik ini telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun keputusan akhir mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun dan opini publik masih terpecah, langkah ini akan menjadi tonggak penting bagi Uni Eropa dan meningkatkan kredibilitas euro di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi global yang dinilai melemahkan kepercayaan terhadap dolar.
Secara ekonomi, kerentanan krona yang relatif kecil di tengah krisis geopolitik menjadi kekhawatiran utama. Sebuah analisis pada Desember 2025 oleh Swedish Free Enterprise Foundation menunjukkan manfaat perdagangan bagi anggota zona euro lebih besar dari perkiraan, sementara keuntungan mempertahankan kebijakan moneter independen dinilai menurun.
Adopsi euro diharapkan dapat memperkuat perekonomian Swedia dengan mempermudah perdagangan, mengingat lebih dari 60 persen perdagangan barang Swedia dilakukan dengan negara-negara Uni Eropa, serta mengurangi fluktuasi nilai tukar dan biaya bagi importir serta eksportir.





