JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Iskandar mengimbau pemeluk agama Islam untuk tidak mempermasalahkan perbedaan awal Ramadhan 1447 Hijriah.
Menurut Anwar, Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari latar belakang beragam sehingga memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
"Itu adalah sebuah keniscayaan. Keniscayaan sebagai bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Termasuk juga umat Islam. Bahkan di Indonesia ini ada lebih dari 80 ormas-ormas Islam di Indonesia, yang perbedaan-perbedaan organisasi ini memungkinkan adanya amaliah ubudiyah yang berbeda-beda," tutur Anwar di Hotel Borobudur, Selasa (17/2/2026) malam.
Ia mengatakan, perbedaan-perbedaan yang dianut dari ormas Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah yang sifatnya ijtihadi atau teknis.
Baca juga: Hasil Sidang Isbat Awal Puasa Ramadhan 2026, Ini Penjelasan Hilal Tak Terlihat
"Secara qath'i tidak beda, secara qath'i semua sama. Nah oleh karena itu, kemungkinan adanya memulai puasa atau mengakhiri puasa berbeda, itu menjadi sebuah keniscayaan yang bisa kita pahami, yang bisa kita maklumi," ucapnya.
Yang terpenting dari semua itu, kata Anwar, adalah sebuah keutuhan sebagai umat Islam yang harus senantiasa dijaga dengan saling menghormati dan menghargai.
"Penting untuk saling memahami dan saling menghormati. Bahkan kalau perlu kita sebagai bangsa yang demokratis ini perlu membiasakan diri untuk berbeda," kata Anwar.
"Asal jangan soal prinsipil saja. Asal jangan soal akidah saja. Asal jangan soal qath'i saja," tambahnya.
Karena dengan demikian, maka perbedaan ini menjadi bagian dari dinamika yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.
"Perbedaan yang dikelola dengan baik akan menjadi sebuah harmoni yang indah. Yang itu juga akan menjadi sesuatu yang penting bagi persatuan Indonesia," tandas dia.
Sebagai informasi, pemerintah resmi menetapkan satu Ramadhan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan hasil sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah.
"Berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026," ujar Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).
Sama dengan yang ditetapkan Kemenag, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Baca juga: Perbedaan Awal Ramadhan 2026 Tak Perlu Jadi Perdebatan
Berbeda dari tahun 2025, hasil sidang isbat tahun ini mengonfirmasi bahwa awal bulan Ramadhan 2026 yang ditetapkan pemerintah, berbeda dengan yang ditetapkan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada hari ini, Rabu, 18 Februari 2026.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




