Khamenei Ragukan Perundingan Nuklir dengan AS

tvrinews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews – Teheran

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyampaikan retorika keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memicu pesimisme atas prospek diplomasi meskipun tim negosiasi Teheran melaporkan adanya kemajuan teknis dalam pembicaraan nuklir di Jenewa.

Di tengah upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan nuklir, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei justru menunjukkan sikap skeptis terhadap niat Amerika Serikat. 

Dalam pidatonya pada Selasa waktu setempat, Khamenei menegaskan bahwa upaya Washington untuk meruntuhkan pemerintahan Iran sejak revolusi 1979 telah gagal total.

"Ini adalah pengakuan yang bagus. Anda (Trump) juga tidak akan mampu melakukannya," ujar Khamenei merujuk pada pernyataan Presiden Trump baru-baru ini yang menyebut perubahan pemerintahan sebagai skenario terbaik bagi Iran.

Dua Nada dari Satu Teheran

Pernyataan keras Khamenei ini menciptakan kontras yang tajam dengan laporan optimis dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. 

Usai mengakhiri pembicaraan tidak langsung dengan delegasi AS di Jenewa, Araghchi menyatakan bahwa kedua belah pihak telah mencapai kesepahaman mengenai sejumlah "prinsip panduan".

"Dibandingkan putaran sebelumnya, kami telah melakukan diskusi yang sangat serius dan berada dalam atmosfer yang konstruktif," kata Araghchi kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa draf dokumen kesepakatan diharapkan dapat segera disusun.

Namun, Khamenei secara eksplisit menolak tuntutan AS agar Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium. Ia menyebut permintaan agar Iran memiliki "nol pengayaan" sebagai tuntutan yang "bodoh".

Ketegangan Militer di Selat Hormuz

Sinyal ketidakpastian ini tidak hanya muncul dari podium pidato, tetapi juga dari lapangan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan menggelar latihan militer di Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dan gas global.

Laksamana Alireza Tangsiri, Kepala Angkatan Laut IRGC, menegaskan kesiapan pasukannya untuk menutup selat tersebut jika diperintahkan. 

"Pasukan kami siap melaksanakan ancaman lama untuk menutup jalur air strategis ini," tegasnya melalui televisi pemerintah.

Sentimen pasar merespons cepat dinamika ini. Mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tipis hingga menyentuh angka 1,63 juta per dolar AS, mendekati rekor terendah sepanjang masa.

Celah yang Terlalu Lebar

Para pengamat menilai perbedaan nada antara pemimpin tertinggi dan tim negosiator menunjukkan kompleksitas internal Iran serta besarnya jurang pemisah dengan kebijakan luar negeri Trump yang transaksional.

Ali Vaez, Direktur International Crisis Group, menyatakan sulit untuk optimis mengingat durasi pembicaraan yang sangat singkat dibandingkan dengan negosiasi tahun 2015 yang memakan waktu bertahun-tahun.

"Jika pembicaraan berakhir secepat ini, itu adalah tanda bahwa negosiator tidak memiliki kesabaran yang cukup, atau celah perbedaan posisi yang ada memang terlalu besar untuk dijembatani," ungkap Vaez kepada Al Jazeera.

Washington tetap pada pendiriannya agar Teheran menyerahkan stok uranium yang diperkaya dan membatasi program rudal. 

Sebaliknya, Iran menawarkan kerja sama ekonomi dan keterlibatan AS dalam sektor energi sebagai imbalan atas pencabutan sanksi, sebuah tawaran yang hingga kini belum mendapat sambutan hangat dari Gedung Putih.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Layanan SIM Keliling di Jakarta dan Sekitarnya Hari Ini 18 Februari 2026, Sudah Buka Kembali!
• 8 jam laludisway.id
thumb
Hindari Banjir Susulan, 51 Warga Gunungkidul Terpaksa Mengungsi
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Risiko di Balik Pembukaan Data UBO, dari Herding Investor hingga Volatilitas Pasar
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Video: India dan Prancis Perkuat Hubungan Melalui Teknologi-Perdagangan
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
1 Wisatawan Tewas Tenggelam di Pantai Carita Pandeglang
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.