Jakarta, VIVA - Bulan suci Ramadhan tahun ini bagi umat Islam akan dimulai setelah Matahari terbenam pada Selasa, 17 Februari atau Rabu, 18 Februari—tergantung lokasinya di dunia.
Tanggal pasti Ramadan berubah setiap tahun karena Islam menggunakan kalender berdasarkan siklus Bulan. Umumnya, Ramadhan bergeser mundur sekitar 11 hari dalam kalender dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Dalam satu hari, puasa berlangsung dari subuh atau Matahari terbit hingga maghrib atau Matahari terbenam. Aktivitas ini dilakukan saban hari selama 29-30 hari, seperti dikutip dari situs BBC, Rabu, 18 Februari 2026.
Di Puerto Williams, Cile, yang sering dianggap sebagai kota paling selatan di dunia, puasa berlangsung dari sekitar pukul 06:30 hingga 21:00 (14,5 jam) pada awal Ramadan ini.
Namun di Longyearbyen, Norwegia, yang biasanya dianggap sebagai kota atau pemukiman permanen paling utara di dunia, puasa hanya berlangsung antara sekitar pukul 10:50 dan 13:30 (sekitar 2,5 jam) pada awal bulan suci.
Di negara-negara Arab, jam puasa akan berkisar antara 12 hingga 13 jam sehari. Di kota suci Mekkah, puasa di awal Ramadhan akan dimulai sekitar pukul 06:50 dan berakhir pukul 18:20 (11,5 jam). Pada akhir bulan suci, puasa akan berlangsung setengah jam lebih lama.
Umat Islam yang tinggal di kota-kota besar di belahan Bumi selatan akan berpuasa lebih lama ketimbang di Timur Tengah. Umat Islam di ibu kota Argentina, Buenos Aires, harus berpuasa selama 13 jam 15 menit pada awal Ramadan.
Durasi serupa dialami umat Islam di Auckland, Selandia Baru. Di Nuuk, ibu kota Greenland, misalnya, durasi puasa berlangsung sekitar 9 jam pada awal Ramadhan. Durasi puasa meningkat menjadi lebih dari 12 jam pada akhir bulan Ramadan.





