Sutradara Ryan Adriandhy memiliki pengalaman unik saat menggarap film drama keluarga Na Willa. Ia menyediakan waktu tidur siang khusus bagi para pemain dan kru selama proses syuting.
Film ini dibintangi empat aktor cilik, seperti Luisa Adreena (Na Willa), Freya Mikhayla (Farida), Azamy Syauqi (Dul), dan Arsenio Rafisqy (Bud). Karena melibatkan anak-anak, Ryan merasa perlu menyesuaikan ritme produksi agar tetap ramah bagi mereka
“Aku percaya kayaknya Na Willa itu satu-satunya produksi di Indonesia yang habis break makan siang, lanjut tidur siang setengah jam,” kata Ryan saat konferensi pers peluncuran trailer dan poster Na Willa di XXI Plaza Senayan, Kamis (12/2).
Menurut Ryan, waktu istirahat tersebut penting untuk menjaga energi para aktor cilik selama syuting berlangsung. Dengan kondisi fisik yang terjaga, proses pengambilan gambar pun bisa berjalan lebih maksimal.
“Energi aktor anak itu berlebih dibanding orang dewasa. Justru karena itu mereka perlu istirahat. Jadi aku bisa jamin ini satu-satunya produksi film di Indonesia yang ada break tidur siangnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah makan siang seluruh tim diwajibkan beristirahat sebelum kembali bekerja.
“Kita break makan siang, terus setengah jam semua harus tidur. Nanti ada panggilan lagi, break tidur siang dan makan sudah selesai, ayo kembali,” tambahnya.
Ryan pun menyebut para aktor cilik menyambut aturan tersebut dengan antusias. “Responsnya senang, karena memang itu jam mereka biasanya recharge energi,” tuturnya.
Tak hanya menyediakan waktu tidur siang, Ryan juga memastikan lokasi syuting bebas dari asap rokok demi menjaga kesehatan anak-anak.
“Syuting Na Willa bebas rokok. Jadi kalau ada yang punya kebiasaan itu, kita tegur baik-baik,” jelasnya.
Sementara itu, Produser Na Willa Anggia Kharisma juga menambahkan bahwa memproduksi film anak berarti menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi mereka.
“Ketika bekerja kita sebenarnya meninggalkan keluarga. Bayangkan mereka juga anak-anak yang sedang bermain bersama kita. Jadi kita susun semuanya, mulai dari menu makan hingga kenyamanan mereka saat menunggu proses syuting,” kata Anggia.
Untuk mendukung hal tersebut, tim produksi bahkan menyiapkan ruang bermain khusus di lokasi.
“Kita kasih ruang bermain, bahkan kita buat benar-benar seperti playground,” ujarnya.
Anggia berharap pendekatan ini bisa menjadi standar baru dalam produksi film anak di Indonesia.
“Kalau kita ingin bikin film anak-anak, yuk kita perlakukan semua cara kita berproduksi itu aman bukan cuma buat anak-anak, tapi aman buat kita semua,” pungkasnya.





