Sepuluh Skandal Hak Istimewa Partai Komunis Tiongkok Terbesar Tahun 2025 yang Menghebohkan

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

oleh Li Jing

Pada tahun 2025, beberapa peristiwa dalam masyarakat Tiongkok yang melibatkan bidang-bidang seperti perawatan kesehatan, pendidikan, hiburan, agama dan lainnya telah menarik perhatian masyarakat luas. Dari aktor yang jatuh dari gedung dan tewas hingga kesenjangan mengenai uang pensiun, dari kecurangan akademik hingga komersialisasi agama, sehingga dampak buruknya terus berkembang sampai saat ini. Para ahli mengungkapkan bahwa peristiwa-peristiwa ini mencerminkan adanya peningkatan yang signifikan dalam kepedulian masyarakat terhadap isu-isu tentang keadilan sosial.

Kematian Yu Menglong: Dari Tragedi Dunia Hiburan Hingga Membangkitkan Kesadaran Publik Tentang Sistem Hak Istimewa

Yu Menglong, aktor Tiongkok berusia 37 tahun dikabarkan tewas akibat jatuh dari gedung yang berada dalam kompleks perumahan di Distrik Chaoyang, Beijing pada 11 September 2025. Pihak kepolisian melaporkan insiden tersebut sebagai “kematian akibat kecelakaan setelah mengonsumsi minuman keras,” tetapi detail kejadiannya tidak dirilis sepenuhnya.

Namun, masyarakat tidak puas dengan penjelasan resmi tersebut, menimbulkan berbagai pertanyaan yang muncul seputar insiden kematian Yu Menglong, termasuk misteri seperti “Apakah ada keterlibatan dari kelas istimewa? Apakah ada aturan tak tertulis di industri hiburan, dan lain sebagainya?” Terutama banyak perdebatan publik secara daring yang muncul setelah insiden tersebut, yang memicu pihak berwenang sibuk melakukan sensor, pemblokiran akun, dan pembatasan akses internet, yang justru semakin memperkuat ketidakpercayaan publik.

Seiring dengan pihak kepolisian yang tidak merilis detail kejadian, sehingga semakin banyak rumor yang tak terverifikasi muncul secara daring, menghubungkan kematian Yu dengan lingkaran kelas istimewa, manipulasi modal, dan penindasan sistemik. Beberapa bahkan melibatkan tuduhan transplantasi organ dan upaya “perpanjangan usia hidup” para pemegang hak kelas istimewa, menghubungkannya dengan sistem hak istimewa komprehensif Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Insiden kematian Yu Menglong juga menarik perhatian media internasional. Sebuah artikel di media AS, Foreign Policy menunjukkan bahwa meskipun kontrol resmi yang berlebihan terhadap opini publik mungkin dalam jangka pendek mampu menekan diskusi, namun hal itu malah berdampak menabur benih ketidakpercayaan yang lebih dalam di benak publik.

Semakin banyak warga sipil yang sebelumnya diam, bahkan pegawai negeri sipil (PNS) yang berada di dalam sistem, benar-benar tersadarkan oleh insiden tersebut. Menurut pernyataan publik dari Pusat Layanan Global untuk Keluar dari Keanggotaan PKT (Tuidang) baru-baru ini bahwa secara umum masyarakat Tiongkok menyatakan kecaman keras terhadap rezim PKT yang totaliter. 

“Kita hidup dalam kebohongan yang mereka rancang dengan cermat. Internet diblokir, kita hanya bisa melihat apa yang mereka ingin kita lihat. Warga sipil hanya dapat diperlakukan seperti ternak, disembelih sesuka hati, bahkan tidak boleh berteriak kesakitan karena ‘energi yang tidak positif’,” demikian pernyataan yang ditandatangani oleh seorang yang bernama Xin Miaomiao (Amy). “Jika memang ada Tuhan, saya memohon kepada Tuhan untuk memperhatikan Tiongkok dan menghukum partai ini. Rakyat telah diperlakukan secara tidak adil hingga sejauh ini…” (teks asli yang dipublikasi oleh Tuidang)

Pernyataan-pernyataan tersebut umumnya menyebutkan bahwa kematian Yu Menglong membuat mereka “sangat putus asa.” Gao Jingjing menulis dalam pernyataannya: “Karena insiden Yu Menglong, saya benar-benar kehilangan harapan terhadap PKT. Mereka diktator, menggunakan kekuasaan untuk membungkam orang-orang yang beritikad baik… Selama tiga puluh tahun lebih terakhir, saya telah dibutakan oleh PKT, sekarang saya menyadari bahwa saya telah hidup dalam kebohongan.” Dia mengumumkan pengunduran dirinya dari keanggotaan partai PKT, liga pemuda, dan organisasi pemuda yang menjadi aliansinya, dengan menyatakan bahwa “semua sumpah sebelumnya batal dan tidak berlaku.” (teks asli yang dipublikasi oleh Tuidang)

Sistem Pensiun di Tiongkok yang Berjalur Ganda Menciptakan Kesenjangan 27 Kali Lipat antara Pejabat dan Masyarakat yang Merusak Keadilan Sosial

Pada bulan Juli 2025, PKT mengumumkan kenaikan uang pensiun untuk para pensiunan secara keseluruhan sebesar 2%, kenaikan terendah dalam sejarah.

Dengan  mengutip data yang dirilis oleh Kementerian Keuangan dan Kementerian Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial Partai Komunis Tiongkok, media Tiongkok daratan melaporkan bahwa rata-rata uang pensiun yang diterima oleh seorang PNS adalah RMB 6.000,- lebih per bulan, sementara warga sipil yang menerima Asuransi Hari Tua bagi Penduduk Perkotaan dan Pedesaan (95% adalah penduduk pedesaan) hanya sebesar RMB 220,- per bulan, atau selisih yang mencapai 27 kali lipat.

Sekitar 170 juta orang warga sipil lansia Tiongkok yang menerima Asuransi Hari Tua bagi Penduduk Perkotaan dan Pedesaan, mayoritas di antaranya adalah petani dan pekerja migran. Setelah kenaikan tersebut, pensiun dasar untuk mereka cuma naik sebesar RMB 2,- hingga RMB 6,- sementara kenaikan untuk para PNS dapat mencapai lebih dari RMB 100,-. 

Menurut laporan dari Kantor Audit Nasional Tiongkok bahwa pada tahun 2024, 13 provinsi di Tiongkok telah menyalahgunakan dana Asuransi Hari Tua bagi Penduduk Perkotaan dan Pedesaan sebesar RMB 40 miliar 626 juta untuk pengeluaran lain atau untuk membayar utang pemerintah daerah. Di antara 25 provinsi tersebut, 28.300 orang telah melakukan klaim asuransi ilegal sebesar total RMB 519 juta dengan memalsukan catatan medis dan cara lainnya.

Investigasi terhadap Kepala Biara Kuil Shaolin, Shi Yongxin, Memicu Kontroversi Tentang Hak Istimewa Komersial Keagamaan

Pada Juli 2025, Kantor Manajemen Kuil Shaolin di Provinsi Henan mengeluarkan pemberitahuan yang mengkonfirmasi bahwa Kepala Biara Shi Yongxin sedang dalam penyelidikan resmi atas dugaan pelanggaran pidana.

Pemberitahuan pihak berwenang menyebutkan bahwa Shi Yongxin diduga menyalahgunakan aset kuil dan menjalin hubungan tidak pantas dengan banyak wanita, serta memiliki anak di luar nikah. 

Faktanya, sejak tahun 2015, seorang netizen yang mengaku sebagai “orang dalam di Kuil Shaolin” telah mengajukan pengaduan resmi terhadap Shi Yongxin, menuduhnya memiliki dua registrasi rumah tangga, kehidupan pribadi yang kacau, dan menyalahgunakan properti kuil. Namun pihak berwenang secara terbuka membantah tuduhan ini.

Shi Yongxin bergabung dengan Kuil Shaolin pada tahun 1981 dan diangkat menjadi kepala biara pada tahun 1999. Di bawah kepemimpinannya, Kuil Shaolin berkembang menjadi “kerajaan bisnis” yang mencakup budaya, pariwisata, film, dan makanan, yang membuatnya mendapat julukan “CEO Buddhisme.”

Bagaimana Shi Yongxin bisa membangun kerajaan bisnis? Ada skeptisisme luas bahwa tempat suci Buddha yang seharusnya sakral di Tiongkok telah menjadi alat untuk mencari keuntungan bagi para petinggi PKT yang menggenggam hak istimewa.

Dari “Teori Asal Usul” Revolusi Kebudayaan Hingga Saat Ini: Video Komentar “Youth” Diblokir

Pada November 2025, blogger Tiongkok daratan “Let’s Talk About Movies” yang mengunggah tiga video yang melakukan analisis mendalam tentang film “Youth”, dengan durasi masing-masing sekitar setengah jam, yang berhasil mencatat sebanyak lebih dari 37 juta penayangan, tetapi ketiga video tersebut telah diblokir oleh pihak berwenang PKT pada 5 Desember 2025 dengan tanpa penjelasan.

“Youth” film yang menceritakan kisah sekelompok anak muda yang bergabung dalam kelompok seni militer selama tahun 1970-an dan 1980-an (era Revolusi Kebudayaan). Film tersebut disutradarai oleh Feng Xiaogang, dan ditayangkan untuk pertama kalinya pada tahun 2017.

Video tersebut menunjukkan bahwa selama Revolusi Kebudayaan, banyak anggota kelompok budaya militer adalah anak-anak pejabat tinggi (sekarang disebut “Generasi Kedua Merah” atau “Generasi Kedua Pejabat”). Mereka memiliki bakat terbatas dan masuk melalui koneksi. Ada juga anak-anak dari keluarga biasa (sekarang disebut “rakyat biasa”), banyak di antaranya sangat berbakat. 

Film ini menggambarkan diskriminasi dan perundungan terhadap anak-anak biasa oleh anak-anak pejabat tinggi, sementara anak-anak biasa yang ingin mengubah nasib mereka melalui usaha sendiri terus-menerus ditekan oleh kalangan atas (sekarang disebut “konsolidasi kelas”). Mereka (Generasi Kedua Merah” atau “Generasi Kedua Pejabat”) juga tidak dapat menghindari nasib tragis dari dimanfaatkan dan dikorbankan (sekarang disebut “dipanen”) oleh Partai Komunis Tiongkok.

Dalam sebuah wawancara dengan The Epoch Times, Ms. Sheng Xue, seorang penulis dan aktivis pro-demokrasi warga negara Kanada menyatakan bahwa PKT bukan takut rakyat membicarakan isu Revolusi Kebudayaan, melainkan rakyat yang tiba-tiba menyadari bahwa “Revolusi Kebudayaan bukanlah sesuatu yang sudah berlalu, tetapi sebuah peristiwa yang masih sedang berlangsung,” karena sistem politik, institusi, struktur, dan seluruh ideologi PKT sama sekali tidak berubah.

Ia menyatakan bahwa begitu generasi yang hidup saat ini menyadari kenyataan tersebut, mereka jelas tidak akan lagi bersedia menerima nasib ini secara pasif.

Arogansi Kekuasaan: Insiden “Wanita dengan Sertifikat Dinas Penegakan Hukum” di Guangxi Terungkap

Pada 22 Juli 2025, terjadi perselisihan lalu lintas di Kota Fangchenggang, Guangxi. Seorang wanita pengemudi mobil Mercedes-Benz mengeluarkan sertifikat bertuliskan “Dinas Penegakan Hukum” memaksa pengemudi lain untuk menepi dan memberikan jalan. Penumpang pria di mobil yang sama segera mengungkapkan alamat rumah dan nama belakang asli pengemudi lain.

Setelah kejadian tersebut, orang yang terlibat, yang dijuluki “Pingtou Ge” melaporkan masalah tersebut ke beberapa instansi pemerintah, tetapi hanya mendapat penolakan atau pengabaian. Pada 31 Juli, “Pingtou Ge” mengunggah video dashcam ke platform online, di mana video tersebut dengan cepat mendapatkan lebih dari 4 juta penayangan.

Malam itu, wanita pengemudi Mercedes-Benz, penumpang pria, bersama dengan 2 orang petugas polisi, total 5 orang, pergi ke alamat rumah “Pingtou Ge” dan menuntut pencopotan video online tersebut bahkan dengan ancam akan mengenakan “pelanggaran Undang-Undang Hukuman Administrasi Keamanan Publik” bila rekaman video tidak dihapus.

Fu Jian SH, direktur Firma Hukum Henan Zejin, dalam sebuah wawancara dengan media Tiongkok daratan mengatakan bahwa jika pengemudi wanita tersebut benar adalah pejabat publik, maka perilaku menggunakan jabatannya untuk mengakses informasi pribadi orang lain merupakan penyalahgunaan kekuasaan yang serius.

Kasus Penipuan Akademik di Perguruan Tinggi Ilmu Kedokteraan Peking Union 

“Insiden Nona Dong” yang terjadi di Perguruan Tinggi Ilmu Kedokteran Peking Union dari April hingga Mei 2025 telah menarik perhatian luas. Menurut penyelidikan resmi, Nona Dong Xiying lulus dengan gelar sarjana ekonomi dari Universitas Columbia dan memperoleh gelar doktor melalui program “4+4” Perguruan Tinggi Ilmu Kedokteran Peking Union.

Namun, pengungkapan publik menunjukkan bahwa Nona Dong Xiying terlibat dalam plagiarisme skala besar, pemalsuan data, dan jasa penulisan tesis.

Pada 15 Mei malam, Komisi Kesehatan Nasional mengeluarkan pemberitahuan yang mengkonfirmasi bahwa Dong Xiying memalsukan kualifikasi penerimaannya saat mendaftar program percontohan “4+4” di perguruan tersebut pada tahun 2019, memalsukan 16 kredit dalam empat mata kuliah, dan disertasi doktoralnya tahun 2023 diduga mengandung plagiarisme. Sertifikat kelulusan, sertifikat gelar, sertifikat kualifikasi medis, dan sertifikat praktiknya semuanya dicabut.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa Xiao Fei, wakil direktur bedah toraks, “meninggalkan” ruang operasi lobektomi di tengah jalan untuk menghibur kekasihnya Dong Xiying yang sedang mengalami gangguan emosional. Ia akhirnya dicabut izin praktiknya dan dikeluarkan dari keanggotaan PKT. Netizen mengungkapkan bahwa kedua orang tua Dong Xiying adalah pejabat tinggi di dalam sistem tersebut. 

Insiden Pengemudi Mabuk yang “Gadis Kaya” di Australia Menarik Perhatian

Yang Lanlan, “Gadis Kaya” berusia 23 tahun dituduh mengemudikan Rolls-Royce Cullinan senilai AUD 1,5 juta dalam keadaan mabuk dan melawan arus lalu lintas di daerah Rose Bay yang mewah di Sydney pada 26 Juli dini hari, yang kemudian menabrak van Mercedes-Benz yang dikemudikan oleh supir presenter terkenal Australia, Kyle Sandilands, menyebabkan supir tersebut mengalami cedera serius.

Sejak kejadian tersebut, identitas dan kekayaan Yang Lanlan yang mencengangkan telah menarik perhatian masyarakat luas. Ia memiliki setidaknya dua unut kendaraan Rolls-Royce, pernah tinggal di sebuah rumah mewah di pinggiran timur Sydney, dan media sosial telah menampilkan foto-fotonya yang mengenakan pakaian desainer kelas atas seperti Chanel dan sering mengunjungi restoran super mewah.

Keberadaan Yang Lanlan tidak diketahui sejak penampilan ketiganya di pengadilan pada 17 Oktober 2025. Rumah mewahnya yang bernilai jutaan dolar Australia di Watson Bay telah dikosongkan, dan 2 unit mobil Rolls-Royce miliknya sudah tidak lagi kelihatan. 

Pada 14 November 2025, kasus ini disidangkan untuk keempat kalinya di Pengadilan Lokal Downing Centre, Sydney. Yang Lanlan tidak hadir, tetapi diwakili oleh pengacaranya untuk menyangkal semua tuduhan. Persidangan kasus ini masih akan dilanjutkan pada 30 Januari 2026, dan Yang Lanlan tetap dalam status bebas bersyarat dengan jaminan.

Pidato Mahasiswi Asal Tiongkok di Universitas Harvard Menguak “Sosok di Belakang Layar”

Pada 30 Mei 2025, Jiang Yurong, seorang mahasiswi asal Tiongkok menyampaikan pidato pada upacara wisuda di Universitas Harvard. Dalam pidatonya, ia menggemakan dan mendukung globalisasi dan keragaman dengan meminjam istilah “Sebuah komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia” dan “keterkaitan antar umat manusia” seperti yang sering digaungkan Xi Jinping selama ini.

Setelah terungkap secara online bahwa ayahnya adalah seorang administrator di Yayasan Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pembangunan Hijau Tiongkok (China Biodiversity Conservation and Green Development Foundation, CBCGDF), beberapa netizen mempertanyakan apakah ia diterima melalui jalur khusus. Meskipun Jiang Yurong sendiri membantah hal ini, tetapi kontroversi terus berkembang.

Mengenai insiden Jiang Yurong, Li Yuanhua, seorang sejarawan asal Tiongkok yang tinggal di Australia menyatakan dalam sebuah wawancara media bahwa PKT telah lama menggunakan praktik pemberian insentif untuk membujuk selebriti Barat agar berbicara atas nama mereka, “Hal itu dinilai lebih efektif ketimbang PKT yang tampil sendiri untuk menyampaikan,” katanya.

Insiden Anting-Anting Berharga Selangit yang Memicu Kehebohan di Industri Hiburan

Pada Mei 2025, berita tersebar secara online bahwa aktris berusia 18 tahun Huangyang Tian Tian mengenakan anting-anting zamrud senilai RMB 2,3 juta pada upacara kedewasaannya. Para netizen menyelidiki latar belakang keluarganya, dan menemukan bahwa ayahnya awalnya adalah seorang pegawai negeri sipil di Biro Kerja Sama Ekonomi dan Hubungan Luar Negeri Kota Ya’an, yang bertanggung jawab atas proses tender.

Laporan resmi menunjukkan bahwa anting-anting tersebut palsu, tetapi ayahnya karena terlibat dalam kasus bisnis ilegal sedang menjalani penyelidikan pihak berwenang. Menurut sumber, ayah Huang Yang Tian Tian bekerja di Biro Kerja Sama Ekonomi dan Hubungan Luar Negeri Kota Ya’an dari tahun 2015 hingga 2017, dan telah mengundurkan diri sejak 8 tahun silam. 

Namun, menurut kronologi yang berhasil digali oleh netizen, pada tahun 2016, ibunda Huang Yang Tian Tian pernah mengenakan perhiasan berharga senilai RMB 500.000,- dan vila yang dipamerkan saat Huang Yang Tian Tian kecil bernilai lebih dari RMB 100 juta. Pada 16 Mei 2025, agensi Huang Yang Tian Tian, Jiaxing Media, mengeluarkan pernyataan yang membantah tuduhan tersebut.

Skandal Kecurangan Ujian Masuk Perguruan Tinggi yang Dilakukan Aktris Berlatar Belakang Luar Biasa

Pada Juni 2025, Narnaxi, seorang aktris yang terungkap menggunakan kuota “pelatihan terarah” untuk memindahkan ujian masuk perguruan tingginya dari Beijing ke Mongolia Dalam, setelah diterima di Akademi Teater Shanghai dengan nilai yang rendah, ia kemudian mengingkari janjinya dengan memilih studi ke luar negeri.

Menurut laporan, Narnaxi kembali ke Mongolia Dalam untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi melalui koneksi dan pengaruh keluarga, menduduki kuota pelatihan terarah. Program pelatihan terarah awalnya didirikan untuk mendukung pendidikan di daerah terpencil melalui mekanisme “nilai masuk lebih rendah + jaminan penempatan kerja”. Namun, setelah lulus, Narnaxi tidak bekerja untuk kelompok teater yang ditunjuk tetapi malah melanggar perjanjian untuk belajar di Norwegia. Tiga tahun kemudian, ia kembali ke Tiongkok dan menjadi asisten pengajar di Akademi Teater Shanghai.

Dalam wawancara tahun 2024 dengan penulis skenario CCTV, Ran Ping, Narnaxi mengungkapkan bahwa ia pernah mengikuti program pelatihan terarah di universitas, yang memungkinkannya untuk bekerja di kelompok teater setelah lulus. Namun, ia ingin pergi ke luar negeri setelah lulus dan karena itu tidak menerima tawaran tersebut. Saat itu, Ran Ping juga mengatakan: “Ayahnya dan saya adalah rekan kerja di stasiun TV.”

Setelah skandal kecurangan tersebut viral di internet, baik CCTV News maupun People’s Daily segera menghapus video Narnaxi yang mengirimkan ucapan selamat kepada calon peserta ujian masuk perguruan tinggi yang sebelumnya telah mereka publikasikan (sin)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Tiba di Washington DC, Akan Hadiri Rapat Perdana Board of Peace
• 11 jam laludetik.com
thumb
Foto: Tarawih Perdana Warga Muhammadiyah di Berbagai Daerah
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
POPSI: Penyelesaian sawit rakyat melalui penataan sesuai regulasi
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Di Sidang Delpedro, Ahli Sebut Kerusuhan Demo Agustus Gabungan Organik dan Rekayasa
• 1 jam lalukompas.com
thumb
IHSG Diproyeksi Konsolidasi Hari Ini (18/2), Cek Saham INCO, HMSP, hingga HRUM
• 6 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.