Megeng atau megengan menjadi aktivitas yang masih kental dilakukan sebagian umat Islam di Tanah Air, khususnya di Jawa, menjelang datangnya bulan Ramadhan. Mereka menyambut bulan suci itu sambil bersukacita melaksanakan kebaikan.
Doa-doa, misalnya, dipanjatkan di masjid dan musala. Sebagian kemudian melanjutkan dengan berziarah ke makam keluarga dan pendahulu yang telah berpulang.
Memasak menu istimewa yang kemudian dibagikan ke tetangga dan kerabat juga menjadi bagian dari tradisi itu.
“Megengan, di sini masih kental sekali. Yang paling terasa adalah berbagi makanan. Tak hanya diantar dari rumah ke rumah, tetapi juga kenduri dengan cara mengundang tetangga di lingkungan sekitar untuk datang ke rumah,” ujar Ida (47), warga Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (17/2/2026).
Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam rangka menyambut Ramadhan 1477 H kali ini, keluarga Ida juga berbagi makanan ke tetangga dan kerabat yang dilaksanakan Jumat, pekan lalu.
Keluarga Ida juga menggelar kenduri di rumahnya. Sebaliknya, mereka diundang kenduri tetangganya.
“Dalam satu malam kendurinya bisa bersamaan, hanya beda jam. Sehingga kita bisa mendapatkan banyak makanan kala itu, bisa tiga-empat berkat (makanan dari kenduri),” tuturnya.
Selain berbagi dengan tetangga dan kerabat, warga di sisi barat daya Gunung Kelud itu juga menggelar doa bersama di masjid. Tak sedikit pula yang kemudian berziarah ke makam.
Aktivitas serupa juga dilakukan sebagian warga di Kabupaten Malang. Rahmawati (45), warga Desa Watugede, Kecamatan Singosari, misalnya, sepanjang Selasa pagi, sibuk memasak. Dia menyiapkan nasi dengan menu ayam goreng, mie, dan sambal goreng kentang.
Begitu matang, menu tersebut kemudian dikemas dalam kotak-kotak kardus. Beberapa kue menjadi pelengkap, seperti brownis dan bolu kukus yang ditempatkan dalam kotak-kotak plastik.
“Ini dibagikan ke tetangga terdekat di samping rumah dan kerabat. Kemarin, tetangga juga ada yang memberi makanan dalam rangka megengan,” ucapnya.
Menurut Rahmawati, berbagi makanan saat megengan tidak menjadi keharusan. Tahun lalu, karena alasan tertentu, keluarganya tidak sempat melakukannya.
Sebagai gantinya, keluarganya hanya berbagi makanan saat hari-hari terakhir puasa. Itupun berupa kue-kue sebagai tanda kegembiraan menyambut Idul Fitri.
“Pada megeng kali ini kami terbesit berbagi makanan lagi sebagai wujud kegembiraan menyambut datangnya bulan puasa. Melalui berbagi, hati seolah makin mantab untuk menapaki ibadah hari demi hari selama satu bulan ke depan,” ucapnya.
Sementara itu, kegiatan megengan dalam suasana lebih meriah dilaksanakan warga Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Megengan kali ini digelar dalam rangkaian festival budaya bertajuk Festival Kampung Budaya Polowijen #9, Minggu (15/2/2026).
Event ini terasa istimewa. Pelaksanaannya, melibatkan masyarakat, tokoh budaya, dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang tengah melaksanakan kuliah kerja nyata yang di kampung tersebut.
Di Polowijen, megengan tahun ini bukan sekadar seremoni menyambut bulan Ramadan, melainkan ruang pertemuan nilai spiritual, budaya, dan aksi generasi muda dalam menjaga warisan leluhur. Pernak pernik dan perangkat disiapkan, berikut nasi tumpeng, tumpeng apem, dan lainnya.
Sebelum prosesi megengan, sejak pagi hingga sore, dilaksanakan beberapa kegiatan, seperti nandur karang kitri (menanam tanaman pangan dan toga) dan workshop busana khas Malang.
Selain itu, ada juga pentas seni tari topeng, tari kreasi, pembacaan cerita rakyat, dan tembang dolanan, hingga nyadran (membersihkan makam leluhur dan kenduri).
Suasana pun menjadi khidmat saat mocopat ditembangkan. Momentum istimewa itu juga disisipi peluncuran buku digital (e-book) Kampung Budaya Polowijen (KBP) yang dilakukan secara simbolis. E-book ini memuat sejarah, potensi, dan aktivitas budaya yang berada di sisi utara Kota Malang itu.
“Langkah ini menjadi bukti, pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan penguatan literasi dan digitalisasi budaya,” ujar Ki Demang, Penggagas Kampung Budaya Polowijen.
Menurut Demang, kegiatan ini merupakan ungkapan rasa syukur dan permohonan keberkahan menjelang Ramadan sekaligus tasyakuran KBP ke-9.
Begitulah, bagi masyarakat Jawa megengan telah menjadi symbol kegembiraan menyambut bulan puasa. Tak hanya di Jawa, hal seperti ini juga dilakukan masyarakat di daerah lain namun dengan istilah berbeda, seperti balimau kasai di Riau, munggahan di Jawa Barat, dan lainnya.
Akademisi Fakultas Agama Islam sekaligus Ketua Lembaga Pengkajian Islam dan Keaswajaan Universitas Islam Malang, Imam Safi’i, mengatakan, megengan berasal dari kata megeng yang artinya menahan. Jadi megengan merupakan sesuatu yang harus ditahan.
Sedangkan jika melihat lebih jauh terkait sejarahnya, tradisi megengan dilakukan umat Islam di Jawa saat hendak memasuki Ramadhan. Selama Ramadhan, umat diajak menahan segala hal yang rentan membatalkan puasa.
Megengan juga diserap sebagai momen sukacita. Kalau ditarik lebih jauh ke masa Nabi Muhammad SAW, umat dianjurkan untuk bersukacita akan hadirnya bulan Ramadhan.
Imam menyebut, suatu hari Nabi Muhammad SAW menyampaikan kepada para sabahat bahwa akan datang bulan Ramadhan yang di dalamnya penuh berkah, rahmat, pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.
“Jadi berbahagialah kalian dengan datangnya Ramadhan ini,” ucapnya.
Apa yang disampaikan oleh Nabi, lanjut Imam kemudian menjadi dasar bagi umat untuk bergembira menyambut bulan suci tersebut.
Dalam praktiknya di masyarakat Jawa, megengan juga diisi dengan doa-doa, silaturahmi, dan berbagi, baik yang kepada kerabat yang masih hidup maupun yang telah tiada. Jika kepada yang masih hidup bertemu dan bersalaman, maka kepada mereka yang sudah meninggal berupa doa (ziarah).
”Itu ‘komunikasi’ dengan orang-orang yang sudah meninggal dengan mengirimkan doa kepada mereka. Ini saya kira di dalamnya juga ada sedekah, berbagi, dan seterusnya,” ucapnya.
Tradisi seperti ini, lanjut Imam, tidak ada yang keliru. Ini semua dianjurkan oleh Islam. Tradisi megengan juga tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Jawa namun juga di daerah-daerah lain, khususnya doa bersama jelang Ramadhan. Mereka berbahagia dengan datangnya Ramadhan yang mulia.
Mengutip apa yang disampaikan Ainur Rofiq Al Amin, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, yang dimuat Harian Kompas pada 19 April 2023, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki 16.771 pulau, 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah dengan berbagai budaya, kepercayaan, dan agama.
Dalam sejarah panjangnya, keyakinan keagamaan berkelindan dengan budaya dan hampir tak ditemui resistansi keras dan massal antara agama dan budaya.
Islam pun hadir di tengah tradisi dan budaya masyarakat Indonesia. Di sini Islam mulai menyapa dan berdialog dengan budaya lokal.
Dengan modal Rahmatan lilalamin-nya, Islam mampu bersinergi dengan budaya dan tradisi yang menghasilkan produk baru Islam khas Indonesia.
Inilah sebentuk ”pribumisasi Islam” ala Gus Dur (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2006). Dalam bahasa Kuntowijoyo, agama dan budaya adalah dua hal yang saling berinteraksi dan saling memengaruhi (Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, 1991).
Dengan demikian, ajaran Islam di Nusantara dapat dikatakan sebagai Islam akulturatif. Artinya, praktik dan perilaku keagamaannya sarat tradisi dan budaya lokal yang khas. Saat dijalankan, semuanya ikut berkontribusi membangun pilar penting peradaban bangsa dengan lahirnya Pancasila dan UUD 1945.





