REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah kebiasaan sepele kini menjadi perdebatan panas di media sosial. Banyak unggahan viral memperingatkan bahwa menyemprotkan parfum langsung ke leher dapat berdampak buruk pada kesehatan berupa gangguan hormonal.
Kegaduhan ini bermula dari berbagai unggahan viral di platform X (Twitter) yang memperingatkan masyarakat, terutama kaum perempuan, akan bahaya laten di balik aroma wangi tersebut. Seorang warganet dengan akun @faty_*** melalui cicitannya menyebutkan bahwa tiroid berada tepat di bawah kulit, sangat kecil, rapuh, dan sangat mudah menyerap zat asing. Menurutnya, saat seseorang menyemprotkan parfum ke leher, bahan kimia tersebut mendarat langsung di salah satu pusat hormon paling sensitif di tubuh.
- Cara Rawat Kulit dan Rambut Saat Ramadhan Supaya Nggak Kusam dan Lepek
- Dokter: Skincare Bantu Jaga Hidrasi Kulit Selama Puasa
- Kisah Punch: Bayi Monyet Dibuang Induk, Kini Nggak Bisa Lepas dari Bonekanya
Sentimen senada juga disampaikan oleh akun The Gym Society yang mengimbau followers-nya untuk berhenti menyemprotkan parfum di leher karena dampak kebiasaan ini lebih besar dari yang dibayangkan. Fenomena ini bahkan membuat sebagian orang merasa bingung, seperti yang diungkapkan seorang warganet Narayanan Hariharan. Ia mengaku awalnya terbiasa menyemprot parfum di baju, lalu disarankan beralih ke titik nadi seperti leher dan pergelangan tangan, namun kini justru dilarang kembali.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menanggapi fenomena ini, ahli medis mulai angkat bicara untuk meluruskan kekhawatiran yang berkembang. Fokus utama para dermatolog sebenarnya bukan hanya pada kelenjar tiroid, melainkan pada biologi unik kulit leher. Konsultan dermatologi di Aakash Healthcare, India, dr Meenu Malik, menjelaskan bahwa kegaduhan ini ada hubungannya dengan kimia parfum dan sensitivitas kulit.
"Kenyataan bahwa praktik yang tampaknya tidak berbahaya, seperti menyemprotkan parfum di leher, menyebabkan keributan di internet berkaitan dengan kimia parfum dan biologi kulit sensitif. Kebanyakan wewangian komersial terdiri atas kadar etanol yang tinggi, bahan kimia parfum sintetis, dan pengawet. Mereka dirancang agar mudah menguap untuk mengeluarkan aroma, namun sifat mudah menguap ini dapat mengganggu pelindung kulit (skin barrier) saat digunakan pada kulit yang tipis," kata dia.
Bahaya lain yang jarang disadari adalah kondisi fotosensitivitas. Bahan-bahan tertentu dalam parfum, termasuk minyak esensial, dapat bereaksi secara negatif saat terkena sinar matahari. Dokter Meenu Malik mengatakan, ketika kulit yang telah disemprot parfum terpapar cahaya matahari, hal itu dapat memicu phytophotodermatitis. Kondisi ini meninggalkan noda gelap atau hiperpigmentasi yang sangat sulit dihilangkan dan membutuhkan waktu berpekan-pekan bahkan berbulan-bulan untuk memudar.




