Kisah Profesor IPB Nyaris Tak Buang Sampah Selama 23 Tahun

katadata.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Sudut rumah bernuansa merah itu disebut-sebut menjadi titik paling ‘kotor’ di hunian itu. Letaknya pun berada paling belakang, namun perannya cukup besar mengolah sampah. 

Berbagai macam sampah organik mulai dari sisa makanan, kulit buah, bagian tak termakan dari sayur-sayuran, atau sampah dedaunan dikumpulkan dalam kotak semen berukuran 60 x 60 cm. Bagian atasnya hanya dipasang kawat jaring-jaring untuk membiarkan udara masuk.

Hingga dua bulan sampah tersebut didiamkan, sehingga terurai menjadi kompos organik yang bermanfaat menjadi media tanam. Selain dengan udara, proses penguraian juga dibantu larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

Arief Sabdo Yuwono, pemilik rumah sekaligus Profesor Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University, telah membangun ‘sistem’ tersebut sejak 2003 lalu, di rumahnya di kawasan Margajaya, Kota Bogor, Jawa Barat. 

“Ya, namanya baru 23 tahun,” ujar dia. Arief menjelaskan bagaimana dia dan keluarganya tak membiarkan sampah organik lolos dari gerbang rumah. Prinsipnya, sampah bukan untuk dibuang, namun dikelola.

Di rumahnya terdapat tiga kotak untuk mengelola sampah organik, masing-masing akan penuh selama sembilan bulan, menampung sampah organik dari empat orang penghuni rumah. Jika kotak pertama penuh, maka pengumpulan sampah dilakukan pada kotak kedua, dan seterusnya. 

Kebiasaan itu membantu mengurangi timbulan sampah dari rumahnya ke tempat pembuangan akhir (TPA). Bukan hanya dari sisi volume, kebiasaan ini juga mencegah sampah organik masuk ke truk sampah dan berakhir ke TPA, sekaligus mengurangi limbah air lindi dan bau tidak sedap. 

“Karena yang mengeluarkan air lindi itu sampah organik, kalau truk sampah hanya mengangkut sampah anorganik, tidak ada air lindi atau bau tidak sedap,” kata Arief, saat Katadata berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. 

Sampah yang telah terurai kemudian dapat dijadikan kompos. Setidaknya, kompos buatan sendiri itu membantu pertumbuhan 170 tanaman pot di rumahnya. Sisanya, memiliki nilai ekonomi yang membuatnya laku dijual.

Untuk sampah plastik, Arief mengolahnya dengan cara pirolisis untuk diubah menjadi bahan bakar minyak atau barang lainnya, seperti piring, cawan, atau pot. Plastik yang dilelehkan juga bisa dimanfaatkan untuk pengganti batu pecah dalam pembuatan beton.

“Kami uji kuat tarik, kuat tekan, kuat lentur. Malah sedikit lebih bagus daripada beton biasa,” ucapnya. 

Untuk sisa sampah yang tidak bisa dikelola, Arief menyalurkannya pada pengepul. 

Bak beton penampung sampah organik (Katadata/Ajeng Dwita Ayuningtyas)
Menularkan Kebiasaan Baik di Belakang Rumah

Setelah keluarganya terbiasa memilah sampah, Arief menularkan kebiasaan ini kepada masyarakat di sekitarnya. Kira-kira sudah sejak 15 tahun lalu. Arief menyebutnya School of Waste Management atau SWAM.

Di belakang rumahnya, Arief membuat empat kolam sampah organik yang masing-masing berukuran 50 meter persegi. Saat ini ada 34 kartu keluarga yang turut berpartisipasi. Usai memilah sampah dari rumah, warga secara otomatis membawa sampah organik ke kolam komunal tersebut. 

Prinsipnya sama, dengan metode aerobik, sampah akan diuraikan dengan bantuan udara dan larva BSF. Arief mengatakan, tidak perlu membolak-balik sampah untuk mendapat kompos berkualitas. Cukup diamkan saja, ini membantu mengurangi bau tak sedap yang ditimbulkan sampah. 

Arief menyebutnya sebagai metode ‘SABDO’ atau Sebelas detik Aja Biodegradasi Organik. “Bawa food waste, buka (kotak), masukkan. Setelah itu tutup. Itu sepuluh sampai sebelas detik,” ucapnya. 

“Tanpa mesin, tanpa bahan bakar, manual.” 

Biasanya, masing-masing kolam itu akan penuh setelah lima bulan. Butuh waktu sekitar dua bulan untuk menanti sampah organik terurai menjadi kompos. Selama itu, sampah tak perlu diaduk atau dipindahkan, cukup diamkan saja. 

Hasil penguraian sampah akan dimasukkan ke alat penyaring, untuk mendapatkan kompos yang siap dimanfaatkan. 

Alat penyaring tersebut Arief susun sedemikian rupa agar tidak memerlukan tenaga berlebih. Cukup memutar tuas, alat akan berputar dan menanggalkan sampah yang belum sempurna terurai. Hasil uraian yang masih terlalu besar atau belum sempurna itu, akan kembali dimasukkan ke kolam sampah. 

Sementara hasil kompos yang sudah cukup ‘matang’ ini kemudian dikemas dalam kantong, dijual senilai Rp 50.000 tiap empat kantongnya. Arief memastikan, produk ini sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

“(Mengandung) nitrogen, kalium, fosfor, unsur makro dan unsur mikro yang diperlukan oleh tanaman,” ujarnya. 

Mengolah sampah organik menjadi kompos (Katadata/Ajeng Dwita Ayuningtyas)
Ditawar Jadi Living Laboratorium

Inovasi yang telah dikembangkan Arief selama 15 tahun itu, mendapat kesempatan untuk dijadikan living laboratorium oleh IPB University. 

Living lab adalah laboratorium lapangan, yang sudah berjalan dan mempertemukan antara akademisi dengan masyarakat, untuk menyelesaikan masalah. Ini masalahnya waste management,” kata dia. 

Arief menyambut baik rencana tersebut, terutama dalam rangka mengembangkan fasilitas dan segala komponen pendukung SWAM. Pasalnya, sudah sejak lama pula SWAM dikunjungi masyarakat, lembaga pemerintahan, mahasiswa, dan berbagai pihak lainnya. Mereka punya tujuan serupa, ingin belajar memilah dan mengolah sampah sehingga kesehatan lingkungannya lebih terjaga.  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Siap Buka Hati Lagi, Asri Welas Ungkap Syarat untuk Calon Pendamping Hidup
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Prediksi Skor Persib vs Ratchaburi FC Malam Ini di Stadion GBLA
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Kebiasaan Pagi Ini Diam-diam Merusak Kesehatan Jantung, Waspada!
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dasco Sebut Warga Sumatera Takut Tangani Kayu Gelondongan, Minta Ada Jaminan
• 2 jam laludetik.com
thumb
Benarkah Menyemprot Parfum di Leher Berbahaya Bagi Kesehatan?
• 11 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.