Solusi Banjir Rob di Surabaya, Pakar Tekankan Pentingnya Pompa, Bozem dan Pintu Laut

suarasurabaya.net
7 jam lalu
Cover Berita

Jalur vital Surabaya–Gresik di kawasan Jalan Tambak Osowilangun sempat lumpuh pada Senin (16/2/2026) lalu akibat banjir rob yang diperparah hujan deras semalaman. Genangan tak hanya menghambat arus kendaraan, tetapi juga menegaskan satu persoalan lama: Surabaya sebagai kota hilir memiliki kerentanan struktural terhadap banjir pasang laut.

Di tengah situasi itu, solusi jangka panjang kembali mengemuka. Kunci pengendalian banjir rob Surabaya, menurut kalangan ahli, terletak pada kombinasi pompa, bozem, dan pintu laut.

Ismail Sa’ud Ahli Utama Sumber Daya Air dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menegaskan, karakter geografis Surabaya membuatnya sangat bergantung pada sistem pengendalian air yang terintegrasi.

“Pengendalian banjir di Surabaya harus betul-betul menjadikan perhatian khusus. Karena memang dari sisi lokasi, Surabaya ini kan daerah hilir, paling bawah,” terang Ismail dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (18/2/2026) pagi.

“Sehingga apa itu pengaruhnya? Aliran dari hulu ini relatif kecil karena datar. Kemudian di hilir, pengaruhnya adalah rob. Karena muka air saat pasang itu lebih tinggi dari saluran pembuang yang ada,” imbuhnya.

Kondisi tersebut menyebabkan air tidak bisa mengalir secara gravitasi ke laut ketika rob terjadi. Akibatnya, air tertahan di saluran dan meluap ke permukaan jalan maupun permukiman.

Rob dan Kapasitas Drainase yang Terlampaui
Secara teknis, kapasitas drainase Surabaya memiliki batas. Ismail menjelaskan bahwa rata-rata sistem drainase kota dirancang untuk menampung hujan dengan periode ulang sekitar sepuluh tahunan.

“Tapi hujan ekstrem kecenderungannya lebih tinggi sehingga mau tidak mau kapasitas itu sering terlampaui. Apalagi karena sedimentasi, faktor sampah, juga pengaruh rob. Jadi rob ini berpengaruh sangat besar, karena memang aliran tidak bisa secara gravitasi membuang ke laut,” imbuhnya.

BACA JUGA: Banjir Rob Senin Pagi, Tambak Osowilangun Macet dan Polisi Alihkan Arus Lalu Lintas

BACA JUGA: Banjir Rob Tambak Osowilangun, Pemkot Operasikan Rumah Pompa dan Tutup Pintu Air Laut

BACA JUGA: Sempat Lumpuh karena Banjir Rob, Jalur Tambak Osowilangun Mulai Dibuka Lagi

Persoalan semakin kompleks karena sedimentasi dan sampah yang mengendap di saluran. Endapan itu mengurangi kapasitas tampung air secara signifikan. Ketika hujan deras bersamaan dengan pasang laut, sistem yang sudah terbatas itu praktis kolaps.

Di titik inilah peran pintu laut menjadi krusial. Infrastruktur tersebut berfungsi mencegah air laut masuk ke saluran saat pasang. Namun, ketika pintu laut ditutup, air hujan dari daratan tidak lagi bisa mengalir secara alami ke laut. Solusinya adalah memompa air keluar.

Pompa dan Bozem: Infrastruktur Kunci
Menurut Ismail, sistem pengendalian banjir di wilayah hilir seperti Surabaya harus mengandalkan pompa dan bozem. Bozem adalah kolam retensi yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air sebelum dipompa ke laut atau sungai utama.

“Kalau ada pintu atau tanggul, rob tidak bisa masuk. Tapi harus dibuat bozem supaya air masuk dulu ke bozem, baru dipompa ke laut,” ujarnya.

Beberapa kawasan di Surabaya sudah memiliki fasilitas tersebut, terutama di wilayah yang kerap terdampak banjir. Namun, belum seluruh area dilengkapi pompa dengan kapasitas memadai.

Wilayah Surabaya Barat dan Utara menjadi perhatian khusus. Di Romokalisari dan Sememi, misalnya, fasilitas pompa belum sepenuhnya tersedia. Sementara itu, di Kandangan dan Balongsari, sistem pompa sudah terpasang.

Namun, persoalannya tak berhenti pada ketersediaan pompa. Setiap sistem drainase memiliki daerah tangkapan air (catchment area) berbeda, sehingga kebutuhan kapasitas pompa pun bervariasi.

Koordinasi antarinstansi juga menjadi tantangan. Beberapa anak sungai di Surabaya terhubung dengan kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), baik Bengawan Solo maupun Brantas. Tanpa sinergi lintas lembaga, pengendalian banjir tidak akan optimal.

Penurunan Tanah dan Ancaman Jangka Panjang
Selain faktor teknis drainase, Surabaya juga menghadapi ancaman jangka panjang berupa penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan muka air laut. Meski penurunannya relatif kecil dibanding kota pesisir lain, risiko tetap ada.

“Daratan turun, muka air laut cenderung naik. Tapi ini bisa diantisipasi dengan membuat tanggul laut atau pintu laut supaya rob tidak berpengaruh terhadap daratan,” jelasnya.

Artinya, pembangunan infrastruktur pesisir bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis. Tanpa perlindungan fisik yang memadai, wilayah hilir akan terus menjadi titik lemah kota.

Osowilangun dan Pentingnya Pengendalian Sedimentasi
Kasus Jalan Tambak Osowilangun memperlihatkan bagaimana kombinasi rob, hujan deras, dan sedimentasi bisa melumpuhkan jalur utama. Dengan kontur wilayah yang relatif datar, sedikit saja endapan atau sampah dapat memicu air meluap lebih cepat.

“Karena ini datar, begitu ada sedimentasi dan sampah, pasti akan terjadi luber dulu,” tegas Ismail.

Ia menekankan bahwa langkah jangka pendek yang paling realistis adalah memastikan saluran bebas dari sedimentasi dan sampah. Siapa pun pemilik kewenangan—baik pemerintah kota maupun pusat—harus memastikan pemeliharaan rutin berjalan optimal.

Di sisi lain, pengaruh rob tetap harus dikendalikan melalui pintu laut dan sistem pompa. Tanpa itu, setiap musim hujan ekstrem berpotensi memunculkan kejadian serupa.

Menuju Payung Hukum dan Sistem Terintegrasi
Upaya teknis perlu ditopang kebijakan yang kuat. Rencana penyusunan Raperda Banjir di Surabaya dinilai penting untuk memberikan payung hukum dan memperjelas koordinasi lintas sektor.

Pengendalian banjir bukan sekadar saluran air, melainkan juga tata ruang, pengelolaan sampah, hingga pembangunan infrastruktur pesisir. Tanpa pendekatan terintegrasi, pompa dan bozem sekalipun tidak akan cukup. (saf/ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kalimat Red Flag dalam Hubungan yang Sering Dianggap Biasa Padahal Berbahaya Menurut Psikolog
• 34 menit lalubeautynesia.id
thumb
Wilsen Willim Hadirkan Cheongsam Kontemporer untuk Koleksi Imlek 2026
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Eks Utusan Khusus AS Soroti Posisi Indonesia di Tengah Memanasnya Konflik Rusia–NATO
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Anggota Komisi VIII DPR An’im Falachuddin Dukung Imbauan Kemenag Larang Sweeping Rumah Makan Saat Ramadhan
• 9 menit lalupantau.com
thumb
Ibu di Semarang Tewas Tertimpa Pohon Tumbang saat Bonceng Anaknya
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.