EtIndonesia. Kamu ingin menjadi orang seperti apa, maka kamu bisa menjadi seperti itu. Pikiranmu menciptakan nerakamu, dan juga menciptakan surgamu.
Kuncinya terletak pada arah mana kamu melangkah. Semua ini adalah pilihanmu sendiri. Kekuasaan terbesar dalam hidup yang kamu miliki adalah kekuatan untuk memilih.
Otak menentukan surga dan neraka. Ada sebuah perumpamaan terkenal:
Suatu ketika, ada seorang pengembara yang tanpa sengaja memasuki surga. Di surga itu tumbuh sejenis pohon yang dapat memenuhi keinginan siapa pun. Selama kamu duduk di bawah pohon itu, apa pun yang kamu pikirkan akan langsung terwujud.
Pengembara itu sangat lelah, lalu tertidur di bawah pohon tersebut. Ketika dia terbangun, tiba-tiba muncul berbagai makanan lezat yang melayang di udara, entah datang dari mana.
Karena dia sangat lapar, dia langsung menyantapnya. Setelah kenyang dan merasa puas, muncul pikiran lain dalam dirinya: “Kalau ada minuman, pasti lebih enak.”
Seketika, minuman anggur mahal muncul di hadapannya.
Setelah meminumnya, dia mulai ragu: “Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah aku sedang bermimpi, atau ada roh jahat yang sedang mempermainkanku?”
Tak lama kemudian, benar-benar muncul beberapa sosok roh yang tampak ganas, mengerikan, dan menjijikkan. Dia pun mulai gemetar. Lalu muncul sebuah pikiran di benaknya: “Aku pasti akan dibunuh…”
Dan pada akhirnya, dia benar-benar terbunuh.
Ini adalah sebuah perumpamaan yang sangat menarik. Maknanya adalah: pikiranmu adalah pohon pemenuh keinginan itu. Apa pun yang kamu pikirkan, cepat atau lambat akan terwujud.
Pikiranmu menciptakan nerakamu, dan juga menciptakan surgamu. Kuncinya adalah ke arah mana kamu bergerak. Semua ini adalah pilihanmu sendiri. Kekuasaan terbesar dalam hidup adalah hak untuk memilih.
Mengubah Sudut Pandang, Hidup Pun Berbeda
Ada kisah lama lainnya:
Dua orang pergi ke Afrika untuk menjual sepatu. Setelah kembali, laporan mereka sebenarnya sama, tetapi kondisi emosinya sangat berbeda.
Yang satu tampak sangat putus asa dan berkata: “Tempat itu tidak punya pasar. Sepatu tidak akan laku, karena tidak ada seorang pun yang memakai sepatu.”
Yang satunya lagi justru sangat bersemangat dan berkata dengan penuh kegembiraan: “Luar biasa! Di sana tidak ada yang memakai sepatu. Ini berarti pasarnya sangat besar!”
Seorang guru pernah mengajar dan meminta kami menonton sebuah tayangan tentang perbedaan antara 20% orang dan 80% orang. Setelah menontonnya, kami sangat tersentuh.
Benar, di sekitar kita memang ada orang-orang seperti itu—mereka memiliki energi dan semangat yang sulit dipahami orang lain. Meskipun kondisi luar mereka sama dengan orang lain, mereka tetap optimis dan percaya diri. Orang-orang seperti inilah yang memiliki hidup yang sukses sekaligus bahagia.
Mereka menciptakan surga mereka sendiri, sementara sebagian orang lain bolak-balik antara surga dan neraka.
Saya punya seorang teman yang pekerjaannya mengharuskan dia menelepon orang asing untuk mencari pelanggan baru.
Suatu hari, ada seorang calon klien yang setuju untuk bertemu. Hari itu hujan deras, dan dia harus berganti kendaraan tiga kali untuk sampai ke perusahaan tersebut.
Baru saja dia duduk, klien itu berkata dingin: “Hari ini saya memanggil Anda hanya untuk mengatakan satu hal: lain kali jangan sembarangan menelepon orang.”
Saat keluar dari gedung itu, sebuah pikiran muncul di benaknya: “Kesulitan terbesar dalam karierku sudah terjadi hari ini. Setelah ini, apa lagi yang bisa lebih sulit dari ini?”
Memikirkan hal itu, sudut bibirnya tersenyum.
Momen itu sangat indah—dia telah mengalahkan dirinya sendiri. Inilah kekuatan berpikir positif.
Ketika seseorang memiliki kekuatan dan keberanian seperti ini, mimpi apa lagi yang tidak bisa diwujudkan?
Cara Berpikir Menentukan Perbedaan Antarmanusia
Di mana sebenarnya letak perbedaan antara manusia satu dengan yang lain? Menurutku, perbedaannya terletak pada pola pikir. Pola pikir ini telah menemani kita selama bertahun-tahun, seperti pasangan tak terlihat.
Ada orang-orang yang telah mengikuti banyak seminar motivasi dan membaca banyak buku inspiratif. Namun jika pola pikir mereka tidak berubah, hidup mereka tetap sama. Sebaliknya, ketika pola pikir berubah, segalanya ikut berubah.
Kita sering mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia luar sesungguhnya adalah cerminan dari dunia batin kita.
Jika dunia batin kita berubah dan menjadi lebih kaya, maka dunia luar pun akan ikut menjadi lebih kaya, dan mimpi-mimpi akan terwujud satu per satu.
Dalam sebuah kelas yang saya ikuti dari pendiri Psikologi Zhijian, Doktor Chuck, dia menceritakan sebuah kisah:
Ada seorang pemuda yang mencuri seekor rubah milik tetangganya. Suatu hari, tetangga itu datang mencarinya. Pemuda tersebut duduk dengan tenang dan bercakap-cakap santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Dia menyembunyikan rubah itu di balik bajunya. Saat dia sedang bercakap-cakap, rubah tersebut mulai menggigit dan memakan dagingnya sedikit demi sedikit. Pemuda itu menahan rasa sakit yang luar biasa dan tetap berpura-pura tenang. Begitu tetangganya pergi, dia langsung tewas.
Doktor Chuck berkata: “Kekuatan yang memakan kita dari dalam adalah pola batin kita sendiri.”
Karena itu, pola pikir yang kamu miliki akan menentukan kehidupan seperti apa yang akan kamu jalani.
Kondisi luar sebenarnya tidak terlalu penting. Yang penting adalah bagaimana kamu memandangnya dan bagaimana kamu bertindak.
Atau, kamu juga bisa mencari seorang profesional yang tepercaya untuk mendengarkan pendapatnya.
Tips
Jika kamu ingin memahami dunia batinmu lebih dalam, cobalah ini:
Ketika dunia luar menghadirkan situasi yang tidak sesuai dengan keinginanmu, mungkin kamu akan marah atau sedih. Pada saat itu, amati dirimu dengan saksama—apa yang sedang terjadi di dalam hatimu?
Apa yang tersembunyi di balik emosimu? Pikiran apa yang muncul?
Jika memungkinkan, tuliskan emosi, pikiran, dan perasaan itu di sebuah buku. Setelah beberapa waktu, baca kembali tulisan itu seolah-olah kamu adalah seorang bijak yang sedang mengamati hidup orang lain. Lihatlah pola batinmu, dan perhatikan apa yang telah diciptakan oleh pikiranmu.
Hikmah Cerita
Sebesar apa pun mimpi, sebesar itulah kekuatan yang dibutuhkan. Mimpi dimulai dari keyakinan, bertumbuh dalam keringat, dan terwujud melalui usaha.
Manusia menjadi penguasa bumi karena kita memiliki anggota tubuh yang lentur dan pikiran yang penuh imajinasi.
Imajinasi tanpa batas melahirkan mimpi, sementara tangan dan kaki yang lentur memungkinkan kita mengeksekusi dan mewujudkan mimpi tersebut. Mungkin ada mimpi yang tidak bisa terwujud di generasi kita, tetapi melalui pewarisan antargenerasi, mimpi itu bisa menjadi kenyataan.
Namun, imajinasi tanpa batas tidak hanya membawa kenyamanan dan kenikmatan bak surga, tetapi juga bisa melahirkan pencemaran dan bencana layaknya neraka. Karena itu, gunakanlah imajinasi kita dengan bijak—karena antara surga dan neraka, jaraknya hanya setipis rambut.(jhn/yn)





